PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 22# Mengantar Nadira



Berkali-kali perempuan cantik berambut hitam legam sebahu itu menarik nafas panjang, mencoba menenangkan hati yang seakan hendak melompat dari tempatnya bersemayam saat mengekor sang suami.


Tak secuil terbersit dalam benaknya, bahwa ia akan mendapat kesempatan berduaan dengan Alex setelah sekian lama menghilang dari pandangan lelaki itu. Membuat ia justru diterpa gelisah yang mengaduk-aduk hati.


"Kamu bisa lebih cepat atau tidak?" ketus Alex ketika tengah membuka pintu mobil dan mendapati Nadira berjalan lamban menghampirinya.


"Eh ... i-iya, Mas," seru Nadira seraya mempercepat langkah dan mengusir segala ragu yang menyapa.


Nada dingin dalam suara lelaki itu seakan turut membekukan hati Nadira yang terus menghentakkan dadanya. Membuat perempuan itu berupaya membuang segala harap yang tercipta, manakala sang suami bersedia bersisian dengannya dalam kungkungan SUV mewah berwarna magnolia.


Keheningan menyelimuti pasangan suami istri itu saat Bentley Bentayga yang mereka kendarai membelah jalanan ibukota. Dinginnya malam seirama dengan keremangan penerangan di kiri kanan jalan. Membuat Nadira hanya mampu mengkerut dibawah seatbelt yang memeluk erat tubuhnya.


"Tolong antarkan aku ke Jatiwaringin ya, Mas," ucap Nadira saat moncong mobil hendak keluar dari gerbang perumahan elite dimana rumah Kakek Bayu berada.


Alex menoleh sekilas pada Nadira seraya mengernyit heran. Sebuah tanya terlintas dalam hati, apa yang menjadi tujuan perempuan di sampingnya itu meminta diantar ke daerah pinggiran Jakarta selarut ini. Jarak dari area perumahan Kakek Bayu cukup jauh dari wilayah yang tadi disebutkan oleh Nadira. Paling tidak memakan waktu hampir satu jam perjalanan jika ia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sudah barang tentu mereka aka tiba di sana hampir tengah malam.


Sementara area Jatiwiringan seakan tak punya kehidupan di kala malam kian larut. Tak seperti bagian Jakarta lainnya yang masih bersahabat bagi para pemburu malam hingga fajar siap menghantarkan sinarnya.


"Untuk apa kamu malam-malam begini minta diantarkan kesana?" celetuk Alex tak dapat menahan rasa penasarannya.


"Aku tinggal di sana sekarang," jawab Nadira sekenanya tanpa menoleh kepada lelaki yang sudah memasang wajah penuh tanya.


Alex berusaha menekan segala rasa penasaran berkaitan dengan perempuan yang sempat membuat hatinya remuk redam oleh kenyataan pahit. Meski di sudut hati terdalam, ia tak dapat menahan debaran yang menggebu mendapati perempuan itu meringkuk di sebelahnya seraya melemparkan tatapan ke luar jendela mobil.


Tak ada kata yang keluar dari mulut perempuan itu setelah mengatakan kemana Alex harus mengantarkannya. Begitupula dengan sang suami yang memilih menutup rapat bibirnya. Membiarkan keheningan menguasai udara yang mereka bagi dalam kabin mobil.


Reflek keduanya menyentuh Head Unit di dashboard mobil demi mengusir keheningan yang berteman dengan kecanggungan.


"Bisa minta maaf juga?" sindir Alex seraya melirik tajam kepada Nadira.


Sontak perempuan itu menoleh pada Alex. Namun, secepat kilat ia memalingkan wajah dari tatapan sang suami yang sempat berserobok dengannya.


Rasa nyeri kembali menikam jantung yang tak dapat Nadira kontrol detaknya. Tatapan tajam lelaki itu seakan menegaskan kedudukannya sebagai perempuan kejam berlumur dosa. Membuat mata Nadira kembali berkabut. Sekuat tenaga ia tahan derai air mata yang siap menumpahkan segala beban dalam dada. Perempuan itu tak mau memperlihatkan kelemahannya di hadapan lelaki yang terus mengusik ketentraman hati.


"Mungkin terdengar aneh bagi Mas Alex. Tapi aku benar-benar tidak sengaja dan bersungguh-sungguh dengan permintaan maafku," lirih Nadira seraya menyentuh bagian dadanya yang mulai terasa sesak.


"Sudahlah ... Tidak penting juga untuk di bahas. Itu hanya masalah sepele."


Keheningan kembali menemani keduanya setelah perkataan meluncur dari kedua bibir Alex. Nadira hanya bisa mencoba mengusir perasaan tak enak yang membuat jantung semakin berdetak tak karuan dengan menikmati suara announcer yang terdengar ceria dari sebuah radio hits di kalangan anak muda Jakarta.


Perempuan itu mencoba fokus pada guyonan yang kerap dihadirkan announcer sebelum menyetel sebuah lagu yang mengalun merdu. Ia lantas memejamkan mata untuk meresapi irama lagu demi mengusir gundah yang memenuhi relung jiwa. Hingga tanpa tersadar tubuh lelah yang ia bawa bekerja seharian membuat ia jatuh terlelap.


**********************************************


Hallo ha, maaf yah baru bisa nongol lagi..


Oh ya, aku mau kasih tahu dulu.. kemaren itu ga bermaksud post ulang.. aku kemaren sempet hapus draft untuk bab baru.. tapi draftnya ga kehapus.. aku pikir eror.. eh tau2 di group bahas ada bab yang hilang jadi aku lapor admin.. aku pikir admin akan mengembalikan seperti sediakala dengan like dan komen sebelumnya (banyak komem yang belom kebaca sama aku) taunya malah di post ulang oleh admin..


pokoknya begitulah ya..


Nah untuk hari ini aku akan post 5 bab tapi dengan part yang pendek2.. untuk saat ini Real Life aku memaksa ku ga pegang2 Hp dulu sementara waktu.. jadilah aku belom bisa mengatur waktuku.. lagi cari selah kapan waktu yang pas buat aku bisa bener2 fokus nulis.. jadi sekali lagi maaf yah... harap bersabar.. karena aku juga pengen cepet2 namatin cerita ini biar ga kepikiran.


Makasih buat yang udah mau memaklumi...