PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 97#



"Oh ayolah, Mas. Di sini area ladies. Kamu tidak di terima di sini," usir Tiara sembari mendorong Alex ke luar kamarnya. 


"Hei, aku hanya ingin menemui istriku apa salahnya?" protes Alex sebal. 


"Istrimu tidak sedang diculik. Dia akan kembali kalau kami sudah selesai nonton. Tunggu saja di kamar mu sendiri," ketus Tiara tak sabar meladeni Kakak sepupunya yang jadi sangat menyebalkan. 


Akhir-akhir ini hubungan antara para wanita di dalam keluarga Dinata itu semakin erat, hingga mereka mengadakan girls night satu kali dalam seminggu. 


Seringnya hal itu mereka lakukan ketika Alex sedang sibuk di kantor, hingga pria itu tak menyadari jika istrinya tak pernah benar-benar menunggunya di kamar saat ia sedang sibuk di kantor. Wanita itu justru menikmati waktunya bersama para sepupu dan iparnya ketika ia tidak berada di rumah.


Alex beranjak dari kamar Tiara dengan bibir melengkung ke bawah lantaran kesal. Sementara para wanita itu spontan tertawa cekikikan melihat reaksi Alex. 


"Mas Alex, pasti kesal," ucap Nadira tiba-tiba. 


"Biarin aja sih, Kak. Sekali-sekali ini. Seru juga tau ngerjain Mas Alex," ucap Sandra masih cekikikan. 


"Lagian dia juga gak bakalan bisa marah lah. Orang Kak Nadira gak kemana-mana kok, di rumah aja. Masak gitu aja marah," ucap Tiara santai sembari mulai memutar video yang akan mereka tonton melalu smart TV di kamarnya. 


"Itu juga yang buat Mas Ravka gak pernah bisa marah. Dia mau marah gimana, orang aku gak ke luar rumah. Aku kalau lagi kesel sama Mas Ravka pasti larinya ke sini," ucap Alea memanasi Nadira. 


Nadira hanya diam mendengarkan ucapan para wanita di kamar Tiara. Selama ini ia memang berkumpul dengan para wanita itu saat Alex tak di rumah. Sehingga tak pernah benar-benar tahu bagaimana reaksi suaminya. 


"Ku rasa kalian benar," ucap Nadira cuek.


Ia membuang pikiran akan suaminya yang terus menyesakkan isi kepala. Hanya untuk sementara waktu pikir Nadira. Toh jarang-jarang ini ia tak ada di dekat suaminya saat pria itu ada di rumah. Urusan bagaimana reaksinya, itu akan menjadi urusan belakangan, pikir Nadira kemudian.


Menikmati me time dengan para ladies seperti ini tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh wanita itu. Ia tak pernah punya saudara yang bisa saling berbagi dan saling mendukung seperti ini. Membuat perasaan bahagia kembali membuncah dalam dada. 


Mereka menikmati waktu kebersamaan mereka hingga tak menyadari seberapa lama waktu berlalu. Tepat jam dua belas malam mereka memutuskan untuk mengakhiri kesenangan mereka malam itu. Nadira membuka pintu kamarnya perlahan dan mendapati Alex sudah meringkuk di balik selimut. 


"Mas, kamu sudah tidur?" tanya Nadira perlahan. 


Ia menyentuh bahu suaminya perlahan untuk memastikan jika Alex sudah benar-benar terlelap. Nadira lantas melesak ke sebelah Alex dengan pelan agar tak menggangu pria itu yang sudah bergelut dengan mimpi. 


"Jadi selama ini kamu senang yah, jika aku tidak ada di rumah?" bisik Alex seraya menarik Nadira ke dalam pelukannya. 


Alex mengetatkan belitan tangannya di perut Nadira dan berbisik di telinga wanita itu, "Apa kamu tahu kalau kamu membuat ku sangat kesal?" 


Nadira membulatkan matanya mendengar ucap Alex yang membuat bulu kuduknya meremang. Embusan nafas pria itu di lehernya mengirimkan gelenyar ke seluruh tubuh Nadira. 


"Ka-kamu belum tidur, Mas?" ucap Nadira hanya sekedar berbasa-basi menutupi kegugupannya. 


"Aku selalu menghabiskan waktu di kantor dengan merindukan mu. Tapi ternyata di sini kamu malah bersenang-senang saat aku tidak ada."


"Kamu tidak mungkin cemburu karena hal sepele seperti ini kan, Mas?" cicit Nadira gugup.


"Siapa bilang aku tidak cemburu? Aku akan cemburu sama siapa saja yang bisa menarik perhatian istri ku dan membuatnya melupakan ku," ucap Alex seraya memainkan jemarinya di sekujur tubuh Nadira. 


"Mas, ini sudah malam. Sebaiknya kita istirahat, besok kita masih harus bekerja," desah Nadira. 


"Aku hanya ingin membuat kamu selalu ingat akan diri ku setiap waktu," goda Alex membuat Nadira hanya mampu menggigit bibirnya. 


"Ka-kamu tidak marah kan, Mas?" ucap Nadira yang mulai merasa gelisah dengan bujuk rayu Alex. 


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin memberi sedikit hukuman padamu karena sudah mengabaikan ku," ucap Alex lagi seraya menggulingkan tubuh Nadira hingga wanita itu berada dibawah kungkungannya. 


Jemari dan bibirnya semakin intens memberikan sentuhan yang membuat Nadira bergetar. Namun, lelaki itu tiba-tiba menghentikan aktivitasnya saat ia melihat mata Nadira yang mulai sayu. 


"Selamat malam, Sayang ku," bisik Alex tiba-tiba dan menggulingkan tubuhnya di sebelah Nadira. 


Ia lantas memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya memeluk erat Nadira. 


Beberapa saat Nadira menunggu Alex yang terdiam di sampingnya. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan dan terperangah saat mendapati Alex yang sudah mulai mendengkur. 


"Aku akan membalas mu nanti, Mas," ucap Nadira menahan kesal.


Susah payah ia memaksakan diri memejamkan matanya yang sudah tak lagi mengantuk.