
Nadira hendak beranjak ke kamar setelah melewati makan malam bersama keluarga Dinata. Perasaan Nadira semakin tidak tenang. Entah apa penyebabnya, tapi ia berusaha menghalaunya.
"Ah … Mungkin ini hanya karena aku akan kembali ke kamar itu. Kamar aku dan Mas Alex," gumam Nadira seraya melangkah perlahan menuju lantai atas di mana letak kamar Alex berada.
"Kenapa perempuan itu bisa ada di sini?" Baru saja hendak menapaki anak tangga pertama, Nadira dikejutkan oleh suara yang sudah sangat lama tidak menyapa telinga.
Perempuan itu menoleh ke asal suara. Memastikan pendengarannya.
"Plak !" Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Nadira di susul pipi kanan perempuan itu.
Rasa nyeri menghantam sudut bibir Nadira. Ia bisa merasakan bibirnya sobek dan berdarah akibat tamparan yang baru saja diterima. Perihnya pipi juga masih ia rasakan setelah beberapa detik kemudian.
"Mama … " suara Nadira begitu lirih terdengar.
"Jangan panggil aku mam dengan mulut kotor mu itu. Aku tidak sudi dipanggil Mama oleh mu," ucap Erika dengan mata menyalang.
"Tante, sabar dulu tante," ucap Alea mencoba menenangkan Erica yang sedang diliputi amarah.
"Mana biaa aku sabar menghadapi ular berbisa seperti dia," tunjuk Erika tepat dihadapan wajah Nadira.
"Angkat kaki kamu dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi," hardik Erika penuh emosi.
"Tante kita duduk dulu ya. Kita bicarakan dengan kepala dingin," ucap Alea berusaha mengendalikan situasi.
"Mama … Ada apa ini Ma, ribut-ribut?" tanya Alex yang baru saja keluar dari kamar Kakek Bayu. "Suara Mama sampai terdengar hingga ke kamar Kakek," ucap Alex seraya menaikkan kedua alisnya.
Alex baru menyadari apa yang sesang terjadi saat melihat ke arah Nadira. Perempuan itu memegang sebelah pipinya dengan mata yang berkabut. Alex dapat melihat pipi Nadira memerah, di sela-sela jemari perempuan itu.
Alex sontak menarik tangan Nadira yang menutupi pipinya. Perempuan itu tampak meringis saat tangannya di tarik.
"Apa-apaan ini, Ma?" tanya Alex dengan nada yang tajam.
"Itu belum seberapa. Perempuan itu pantas mendapatkan lebih dari itu," ketus Erika.
"Tidak seperti ini caranya, Ma. Semua bisa dibicarakan baik-baik," desis Alex tajam.
"Perempuan licik seperti dia, tidak bisa diajak bicara baik-baik. Seharusnya dia diseret ke penjara. Bukan dibiarkan bebas berkeliaran di rumah ini."
"Bagaimanapun dia masih istriku. Jadi aku mohon, biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku," ucap Alex memberikan sorot mata permohonan pada Erika.
Wajah Erika menggeram saat melihat Alex berusaha melindungi perempuan yang sudah menghancurkan masa depan putra semata wayangnya itu. Ia sama sekali tidak habis pikir apa yang membuat Alex masih membiarkan perempuan itu masih berkeliaraj di dekatnya.
"Tante ... Tante kan baru dateng, pasti lelah diperjalanan. Kita duduk dan istirahat dulu, baru setelah itu kita bicara," Alea menggapai lengan Erika beruasaha membawa pergi Erika dari hadapan Nadira.
Tak sepatah kata keluar dari mulut Erika, tapi perempuan itu langaung memutar tuhuhnya dan beranjak dari sana. Ia meninggalkan Nadira dengan menahan emosi yang masih berada di puncaknya.
Saat Dila memberi kabar kondisi Ayah mertuanya yang semakin menurun, Erika memutuskan kembali ke Indonesia. Namun, yang di dapat adalah pemamdangan Nadira yang melenggang bebas di rumah mertuanya. Membuat hatinya langsung memanas.
Hatinya kian meronta saat ia menangkap dari sudut matanya, Alex masih bersikap baik pada perempuan itu. Erika juga masih bisa menangkap suara lembut Alex yang menanyakan kondisi sang istri karena mendapat tamparan darinya.