
Alex membungkus es batu dengan handuk kecil kemudian menyerahkannya pada Nadira yang masih duduk termangu di tepi ranjang.
"Ini tempelkan ke pipimu," titah Alex seraya menghenyakkan tubuhnya di sebelah Nadira.
Jantung Nadira tiba-tiba berdebar, saat kasur disebelahnya melesak. Kedekatan fisik diantara mereka tentu menghadirkan kegugupan berbalut kebahagiaan. Namun, Nadira berusaha menepis rasa yang tak seharusnya ia biarkan bermekaran di dada.
Lelaki itu tiba-tiba mengangkat dagu Nadira. Membuat istrinya itu terkesiap saat ujung jari Alex menyentuh dagunya. Degup jantung Nadira semakin berdetak cepat saat Alex memperhatikan sudut bibirnya dengan jarak begitu dekat.
Nafas Nadira seolah tercekat di tenggorokan. Kalau saja bernafas bukan sesuatu yang alamiah terjadi, mungkin saja saat ini Nadira tak punya kekuatan untuk bernafas. Tulangnya seolah lunglai mendapat perlakuan intens dari Alex.
"Tempelkan es nya ke pipimu, sebelum pipimu membiru," perintah Alex membuat Nadira gelagapan.
"I - iya, Mas," jawab Nadira terbata-bata.
Alex kemudian mengelap setitik noda darah di ujung bibir Nadira dengan handuk kecil yang dibasahi menggunakan air hangat. Perempuan itu meringis ketika handuk hangat itu mengenai sudut bibirnya.
"Sakit ya?" tanya Alex khawatir.
Nadira hanya menggeleng pelan. Rasa sakit itu seolah sirna begitu saja ketika melihat Alex begitu perhatian terhadapnya. Sudut mata Nadira kini berkabut kembali. Berjuta rasa lagi-lagi menggerogoti jiwa perempuan itu.
"Maaf Mama sudah keterlaluan. Mama menamparmu keras sekali, sampai bibir mu terluka seperti ini," desahan Nafas Alex saat berbicara seolah meniupkan kehangatan yang menyelusup ke dalam hati Nadira.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa mengerti kenapa Mama bersikap seperti ini kepadaku."
"Mama benar, Mas. Aku memang tidak sepantasnya mendapat maaf dari kalian. Apa yang sudah ku lakukan jauh lebih menyakitkan dari pada hanya sebuah tamparan," jawab Nadira dengan bibir bergetar.
"Kenapa? Kenapa kamu mau menerima perlakuan seperti ini? Apa yang sebetulnya kamu harapkan dari ini semua?" tanya Alex mengunci manik mata Nadira.
Tatapan tajam tapi meneduhkan itu membuat Nadira tak lagi mampu membendung tangis yang sedari tadi berusaha ia tahan lajunya.
"Maaf ... aku hanya butuh kata maaf, Mas. Tidak lebih," ucap Nadira dengan air mata mulai membanjiri pipi.
"Aku ... " begitu sesak menghimpit dada, hingga Nadira tak lagi mampu meneruskan kata.
Ia hanya mampu menundukkan pandangan dan terisak dalam diam. Nadira sadar ia tak punya hak apa-apa untuk meminta, bahkan untuk sebuah kesempatan. Perempuan itu mengatupkan mulutnya rapat, berusaha menahan kesedihan yang mulai menguasai diri.
Bagaiamanapun ia harus menjadi sosok perempuan yang kuat dan tegar. Ia tidak akan mengizinkan dirinya sendiri mengemis belas kasihan. Ia harus siap dengan konsekuensi atas segala kesalahan-kesalahannya terdahulu. Meski itu berbalut perih dan penghinaan.
"Mas ... " Lagi-lagi Nadira tersentak dengan sikap impulsif yang diperlihatkan oleh Alex.
Nadira hanya mematung saat Alex membawanya ke dalam rengkuhan lelaki itu. Entah untuk apa, Nadira tak dapat membaca. Sejenak. Hanya untuk sejenak Nadira akan menikmati pelukan hangat yang diberikan oleh suaminya. Setelah ini Nadira siap menerima mimpi buruk sekalipun yang akan memeluknya.
Akan tetapi, untuk sekali ini saja, Nadira akan meresapi setiap momen yang terjadi. Apapun alasan Alex memeluknya, Nadira tak perduli. Ia hanya ingin menikmati saat-saat seperti ini.