
"Heh ... manja banget sih Lu. Baru jatoh dikit aja lu udah leyeh-leyeh. Lu digaji buat kerja bukan buat nyantai," semprot Thalita.
"Maaf mba, aku ga bermaksud buat nyantai-nyantai doang kok. Mba sendiri kan liat kalau aku habis jatoh. Kaki aku sakit," jawab Nadira menahan kesal.
Ia memang hanya bisa menerima dan diam saja saat dimarahi oleh Aldi karena itu memang kesalahannya. Namun, perempuan yang berdiri angkuh di hadapannya ini tak punya hak apapun untuk mendamprat nya.
Nadira mengatur nafasnya menahan emosi yang membuncah. Ingin rasanya ia membalas dan mengajak duel perempuan itu. Namun, ia harus bisa mengontrol emosi dan tidak menjadikan hal sepele menjadi besar.
"Anak baru, berani jawab lu ya?!"
"Udah kaya ospek aja sih, Mbak, pake ada anak baru segala. Atau dulu Mbak nya mungkin ga pernah kepilih jadi anggota osis yah? Jadi ga pernah ngerasian ngospekin anak baru. Sekarang deh pelampiasannya."
"Heh ... Lu pikir gara-gara bantuan cowok tengil ini lu bisa aman kerja seenak jidat lu disini? Lu ga liat apa semua orang sibuk mondar mandir kerja? Bukan kaya lu yang cuma duduk leyeh-leyeh. Tanggung jawab sama kelakuan lu yang udah bikin orang kerja sampe dua kali," hardik Thalita kesal karena tak mengira kalau perempuan yang dia anggap kampungan akan berani mengkonfrontasinya.
Nadira menahan nafas untuk tak terpancing lebih jauh lagi dengan provokasi Thalita. Ia mencoba bangkit dari duduknya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai, tapi tubuhnya ditahan oleh Kemal.
"Duduk, ga usah gerak dulu," perintah Kemal tanpa memperdulikan ocehan Thalita.
Lelaki itu masih memberikan pijatan di pergelangan kaki Nadira yang membuat perempuan itu meringis sakit.
"Tapi aku ... "
"Diem," potong Kemal tak memberi kesempatan Nadira bicara.
"Tugas lu itu cari Client, Tha. Ga usah ngerusuhin anak produksi," ucap Kemal tanpa mengangkat kepalanya untuk memandang Thalita saat melontarkan kata pada perempuan tersebut.
"Elu juga bukan bagian dari De' Advertising. Lu itu cuma pekerja lepas, bukan siapa-siapa. Ga usah ikut campur," protes Thalita dengan nada keras.
"Gimana Nad? Udah mendingan?" tanya Kemal setelah menyelesaikan pijatannya pada pergelangan kaki Nadira.
"Udah enakan kok. Thanks yah ... " ucap Nadira seraya menghentakkan kakinya pelan-pelan.
Kemal bangkir berdiri, memutar tubuhnya menghadapa Thalita lantas bersedekap.
"Gue emang cuma pekerja lepas disini. Karena itu gue sama sekali ga punya beban buat ajak anggota tim gue cabut dari sini sekarang juga. Gue bisa bilang sama Elroy kalau elu punya kenalan yang lebih kompeten buat nanganin project ini," Kemal memiringkan kepala seraya melemparkan tatapan tajam pada Tahlita.
Dengan seketika Thalita mengkerut di tempatnya. Wajahnya pucat pasi mendengar ancaman Kemal. Lelaki di hadapannya itu adalah orang yang tak suka menggertak. Ia bisa nekat melakukan apa saja sekehendak hatinya.
Perempuan itu akhirnya memilih pergi begitu saja dari hadapan Kemal dan juga Nadira. Membuat ia hanya bisa menggerutu sepanjang jalan. Tak satupun rencananya yang berjalan sempurna hari ini, membuat kekesalannya semakin memuncak.
"Kok dia takut sih, Mal, sama lu? Lu pake ajian apaan?" tanya Nadira heran.
"Aji mumpung?" Kemal menoyor kening Nadira dengan telunjuknya sebelum beranjak dari sisi perempuan itu.
"Ta ... " Nadira menggantungkan kalimatnya saat matanya bertemu pandang dengan Alex.
Nadira hampir saja terlonjak kaget melihat raut bingung Alex yang seolah penuh tanya.
Alex memang sempat dibuat bingung dengan tingkah Nadira yang hanya diam saja saat di hardik oleh Aldi. Keterkejutannya tampak semakin nyata kala ia melihat Thalita yang berusaha mengkonfrontasi perempuan itu.
Tak ada emosi yang meluap-luap yang Nadira hadirkan demi menghadapi perempuan yang sesungguhnya sama sekali tidak selevel dengannya. Membuat rasa penasaran dalam diri Alex semakin menyeruak. Apa yang menjadi tujuan Nadira sampai rela mengambil peran menjadi gadis biasa.
"Mas Alex ... " ucap Nadira tanpa suara.
Kecanggungan tercetak jelas diantara keduanya. Melemparkan wajah saling tanya dalam diam. Hingga akhirnya Alex memutuskan kontak mata diantara mereka. Lelaki itu membuang muka saat Nadira menatapnya semakin intens. Membalik badannya dan pergi sesegera mungkin dari lokasi shooting iklan yang hendak di datanginya.
"Sial ... Lagian kenapa gue pake dateng kesini segala sih?" umpat Alex pada dirinya sendiri.
Ia sendiri heran kenapa kakinya justru membawa ia ke lokasi shooting dimana ia meyakini bahwa Nadira akan berada disana.
"Tapi kan gue cuma mau cari tau apa tujuan perempuan itu mencoba masuk ke dalam kehidupan gue lagi." Lagi-lagi Alex bicara sendiri dan memberi alasan untuk dirinya sendiri.
Menepis rasa yang membawanya datang melihat perempuan yang masih terus membuatnya penasaran. Namun, bukan kelegaan karena rasa penasaran yang terjawab, ia justru mendidih panas menyaksikan apa yang terpampang di depan mata.
Sementara Nadira kembali menahan gejolak rindu yang membuncah. Hampir saja ia meneriakkan panggilan untuk sang suami kalau tak ingat akan segala dosa yang telah lalu. Membuat lidahnya kelu saat mengingat bahwa lelaki itu seperti masih menyimpan luka akan perbuatannya dulu. Bahkan masih terngiang jelas di telinga Nadira tuduhan Alex saat mereka bertemu terakhir kali di kantor suaminya itu.
"Harus berapa lama aku tersiksa hanya bisa melihatmu dari kejauhan tanpa bisa menggapaimu, Mas? Aku hanya ingin diberi satu kesempatan untuk meminta maaf langsung padamu. Hanya itu," lirih Nadira seraya menitikkan air mata dan mengelap cepat dengan punggung tangannya.
Perempuan itu harus kembali fokus pada pekerjaannya, agar tak lagi mengulang kesalahan yang dapat memancing amarah atasannya. Ia akan menyingkirkan segala persoalan pribadi untuk saat ini dan memfokuskan diri pada pekerjaannya saja.
Toh setelah ini, ia sepertinya tak akan bisa menghindar dari sang suami. Ia sudah berjanji akan mengunjungi Kakek Bayu. Itu berarti ia juga harus mempersiapkan mental untuk bertemu sang suami. Entah nantinya ia akan punya kesempatan untuk meminta maaf atau tidak, itu akan menjadi persoalan lain yang harus ia pikirkan setelah semua pekerjaannya selesai.