
"Mengapa kamu meminta ku berhenti di sini?" tanya Alex seraya memicingkan mata.
Alex benar-benar heran dengan permintaan Nadira. Sejak tadi ia menanyakan tempat yang istrinya itu hendak kunjungi, tapi wanita itu selalu berkelit. Ia hanya mengarahkan jalan, belok kiri atau belok kanan.
Dan sekarang tiba-tiba wanita yang tersenyum manis di sebelahnya itu meminta Alex menepikan mobilnya di pinggir jalan dekat pedestrian.
"Karena kita sudah sampai. Ayo kita turun," ucap Nadira santai.
Wanita itu langsung melenggang turun tanpa menunggu reaksi suaminya. Pria itu segera mematikan mesin mobilnya yang masih menyala kemudian melepaskan seatbelt yang membelitnya.
Alex bergegas menyusul Nadira yang sudah berjalan lebih dulu tanpa menunggunya. Kerutan di dahinya seketika bertambah saat melihat Nadira masuk ke dalam sebuah warung tenda tak jauh dari lokasi mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan.
"Bu, tolong buatkan dua porsi pecel ayam sama hati yah," pinta Nadira pada seorang ibu-ibu yang Alex taksir berusia sekitar empat puluhan tahun.
Ia menggelengkan kepala saat melihat Nadira dengan santainya menjatuhkan bobot tubuhnya pada bangku panjang di dalam warung tenda.
"Kok berdiri aja di situ, ayo sini duduk," ucap Nadira menepuk bangku yang tengah ia duduki.
"Kamu yakin mau makan di sini?" tanya Alex menatap sekelilingnya.
Tentu saja Alex langsung tahu apa tujuan Nadira mengajaknya ke sini saat mendengar pesanan Nadira pada ibu-ibu yang dengan cekatan menyiapkan pesanan istrinya.
"Iya. Memangnya kenapa?"
Alex hanya menggelengkan kepala. Ia bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan istrinya itu. Apa perempuan itu tak menyadari bahwa penampilan mereka sangat tidak pas berada di sini.
Tak hanya si penjaja makanan yang terus mencuri-curi pandang pada mereka, tapi dua orang yang tengah menyantap makanan seolah heran melihat keberadaan Alex dan Nadira di tempat itu. Tentu saja hal itu membuat Alex merasa seperti orang yang kesasar dan salah kostum.
"Kamu yakin mau makan di sini?" bisik Alex mengulang pertanyaannya.
"Iya Sayang, aku lagi pengen makan pecel ayam. Di sini tuh makanannya enak. Dan yang pasti kita gak perlu nunggu lama dan bisa makan lahap tanpa harus jaga image," ucap Nadira seraya tersenyum.
Mendengar ucapan Nadira membuat hati Alex berdesir. Baru kali ini Nadira memanggilnya dengan sebutan sayang, membuat ia tak lagi mempertanyakan apa yang ingin Nadira lakukan.
Ia tak harus ambil pusing dimana ia harus makan. Apakah tempat itu pantas atau tidak dengan pakaian yang ia kenakan. Pun dengan tatapan dari berpasang-pasang mata ke arahnya tak lagi membuat Alex risih. Satu kata itu sudah cukup membuat hatinya senang hingga bisa mentolerir situasinya saat ini.
"Ya sudah, selama kamu senang," ucap Alex tersenyum lembut.
"Mau tambah tahu sama tempe, Neng?" tanya sang penjaja makanan dengan ramah.
"Kamu mau, Mas?" Nadira justru melempar pertanyaan itu pada Alex.
"Terserah kamu aja," ucap Alex sembari menatap sisi lain dari Nadira yang baru ia ketahui.
Wanita itu dengan riangnya menjawab pertanyaan sang penjaja makanan. Tak lupa memesan es jeruk sebagai minumannya. Sosok istrinya kini sungguh berbeda dengan wanita yang pertama kali ia nikahi.
Tak ada arogansi, kesombongan, dan sikap manja yang kadang membuat Alex sakit kepala. Ia jatuh cinta berkali lipat pada sosok Nadira yang sekarang. Wanita sederhana dengan kelembutan di dalamnya.
*******************************************
Lanjutannya meluncur sebentar lagi.. lagi diketik...