PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 75#



"Pak Alex …." sapa Elroy saat mereka berpapasan. "Ga nyangka bisa ketemu sama Pak Alex di sini, apa kabar?" imbuh Elroy lagi seraya menyodorkan tangannya pada Alex. 


"Baik," jawab Alex terdengar dipaksakan sembari menyambut uluran jabatan tangan dari Elroy.


Alex menggenggam erat tangan Elroy. Beruntung ia masih bisa mengontrol emosi. Rasa-rasanya, ia ingin sekali meremukkan tangan tersebut.


"Maaf saya buru-buru," lanjut Alex seraya berlalu dari hadapan Elroy serta Nadira. 


lelaki itu berusaha menghindari tatapannya pada sang istri yang masih terperangah di sebelah Elroy. Seolah sudah tertangkap basah melakukan hal yang tak pantas. 


"Pak Alex sedang di tunggu client dari jepang, jadi terburu-buru," Erwin memberi penjelasan saat melihat wajah kaget Elroy melihat reaksi Alex yang tak bersahabat. "Saya permisi," lanjut Erwin seraya mengangguk pada Elroy serta Nadira sebelum menyusul atasannya yang sudah menjauh. 


Elroy mencoba menepis segala prasangka melihat sikap Alex yang nampak berbeda. Sorot mata lelaki itu seolah menebar kebencian. Pun dengan genggaman tangannya seakan mereka adalah rival. Padahal sebelum ini, sikap Alex padanya cukup ramah dan bersahabat. Layaknya dua rekan bisnis yang sedang menjalin kerjasama seperti yang umum terjadi.


"Apa cuma perasaan ku saja? Atau memang Pak Alex sedang marah? Tapi kenapa?" gumam Elroy tak habis pikir.


"Apa kamu juga merasa Pak Alex menatap kita seperti orang yang sedang menahan amarah?" tanya Elroy pada Nadira. 


Ia berbalik menghadap Nadira, saat perempuan itu tak bereaksi atas pertanyaannya. Dahinya mengkerut seketika, saat mendapati wajah Nadira memucat. Perempuan itu terlihat panik dan salah tingkah sambil terus menatap punggung Alex beserta asistennya yang semakin menjauh.


"Maaf, Pak. Saya titip ini," ucap Nadira seraya menyerahkan pepper bag berisi cincin milik Elika serta Kemal. "Permisi," ucap Nadira tanpa menoleh pada Elroy. 


Perempuan itu melesat mengejar Alex. Meski sempat diliputi keraguan, tapi Nadira tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Ia tak akan lari dari masalah. 


Bagaimanapun ia harus menjelaskan pada Alex apa yang dilihat lelaki itu tak seperti bayangannya. 


"Mas tunggu," panggil Nadira saat ia sudah berada dekat dengan Alex. 


Namun, sang suami tak menggubris panggilan Nadira. Ia terus melangkahkan kaki tanpa menoleh. 


"Mas …." Nadira memberanikan diri menarik tangan Alex hingga lelaki itu menghentikan langkahnya. "Aku mohon, kasih kesempatan aku menjelaskan."


"Aku tidak butuh penjelasan darimu," tepis Alex.


"Wow, bahkan kamu sudah sedekat itu dengan adiknya ya," potong Alex bertambah emosi. 


"Bukan seperti itu, Mas," sambar Nadira cepat. 


"Saya tidak perduli seperti apa hubungan mu dengan lelaki itu," balas Alex kemudian melanjutkan langkahnya yang terhenti.


Melihat Alex yang hendak meninggalkannya begitu saja, Nadira memotong langkah Alex. Perempuan itu menghalangi suaminya dengan berdiri tepat di hadapan lelaki itu. 


"Kita harus bicara," ungkap Nadira seraya menatap Alex sarat permohonan. 


"Aku ada pertemuan penting."


"Aku akan menunggu."


"Terserah," ucap Alex acuh tak acuh. 


Lelaki itu membiarkan Nadira mengekori setiap langkahnya tanpa memperdulikannya. Rasa kecewa, sakit hati, tapi rindu melebur menjadi satu.


Membuat Alex tak bisa mengambil keputusan yang berkaitan dengan perempuan yang terus mengiringi langkahnya. Sesekali, ia tak dapat menahan godaan melirik Nadira yang berjalan penuh tekad.


Sementara tak jauh dari sana, Elroy masih memperhatikan keduanya. Kali ini ia memastikan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Nadira dengan Alex. 


"Apa mungkin mereka memang ada affair?" gumam Elroy tidak yakin dengan analisanya sendiri. 


********************************************


masih mau nambah gak kira-kira2?


pengen komennya banyak lagi dong... kalo malem ini komen nyampe 100 aku up yah.. kalo gak, yaudah besok aja lah.. hehheheeee