
Tanpa disadari oleh Nadira, Alex ternyata tak bergegas pergi setelah membiarkannya turun dari mobil yang ditumpangi. Lelaki itu membiarkan mobilnya terparkir sembarangan demi menuntaskan rasa penasaran yang menggelitik jiwa.
Alex bisa melihat dari kejauhan siluet Nadira yang berjalan cepat menyusuri jalanan sempit. Ditemani sinar rembulan dengan penerangan remang dari teras rumah-rumah warga yang berhimpitan satu sama lain membuat Alex masih bisa melihat dengan jelas kemana perginya perempuan itu.
Alex mengerutkan dahinya bingung saat melihat kiri kanan gang sempit itu berisikan rumah-rumah yang tak kalah sempitnya. Alex tak bisa membayangkan kalau Nadira mampu menempati salah satu rumah yang menurutnya tak layak huni.
"Mama kenapa menunggu di luar?" Suara ceria Nadira menelusup ke gendang telinga Alex. Menyadarkan lelaki itu akan kenyataan yang tak pernah terbayangkan olehnya.
Alex menyelinap di balik gang yang lebih kecil lagi dari gang yang sedari tadi dilaluinya. Alex bersembunyi di balik tembok rumah yang terletak tak jauh dari rumah yang disinggahi oleh Nadira.
"Mama cuma khawatir sama kamu. Tidak biasanya kamu pulang sampai selarut ini. Handphone kamu kemana? Kenapa dari tadi tidak bisa Mama hubungi?" celoteh Shinta pada anaknya masih dapat ditangkap jelas oleh Alex.
"HP ku lowbatt, Ma. Jadi ga bisa kasih kabar ke Mama."
Alex dapet melihat bagaimana Nadira mencium punggung tangan Ibunya serta memberikan kecupan hangat di kedua pipi ibu mertuanya itu setelah menjawab pertanyaan ibunya.
Kejadian itu berlangsung tepat di sebuah teras kecil yang ukurannya ditaksir oleh Alex sekitar satu meter dikali tiga meter persegi. sungguh sangan kecil untuk bisa di katalan sebuah teras rumah. Bagaimana dengan isi dalam rumah itu? pikir Alex mengelana jauh.
"Yasudah kalau begitu kamu masuk gih. Bersih-bersih dan ganti baju dulu," perintah Shinta pada anak perempuannya itu.
Hampir saja Alex bernajak dari tempat persembunyiannya dan menghampiri istri serta ibu mertuanya, kalau saja ia tak melihat keberadaan lelaki yang kerap membuat darahnya mendidih. Alex mengepalkan tangannya erat menyalurkan murka yang tiba-tiba menguasai diri.
"Yasudah ... makasih yah Nak Kemal sudah mau menemani tante nungguin Nadira pulang. Untung ada kamu. Kalau tidak, Tante pasti sudah panik."
Suara lembut penuh perhatian yang ditunjukkan Shinta pada Kemal semakin membuat pergolakan dalam darah lelaki itu. Ingin rasanya ia menghampiri lelaki yang sudah begitu dekat dengan sang istri dan menghajarnya. Beruntung akal sehat masih mencuat di sela emosi yang menguasai kepala.
"Ga apa-apa kok Tante. Saya malah seneng bisa ngobrol banyak sama Tante. Saya permisi," ujar Kemal seraya meraih punggung tangan Shinta dan menciumnya.
"Makasih yah Mal, sudah mau menemani Mama sampai aku pulang," ujar Nadira seraya menyunggingkan senyum indah, seindah rembulan di atas sana.
"Kaya siapa aja sih Lu," desis Kemal pada Nadira. "Yaudah sana istirahat. Pasti capek kan Lu. Jangan lupa besok gue jemput pagi-pagi buat ke lokasi shooting ," imbuh Kemal lagi.
"Oke," sahut Nadira seraya mengedipkan sebelah matanya yang di balas kekekhan oleh Kemal.
Lantas lelaki itu beranjak pergi meninggalkan kedua ibu dan anak itu memasuki kontrakannya.
Sementara di balik tembok rumah tetangga Nadira, Alex nampak berusaha menenangkan diri. Dengan nafas pendek-pendek menahan amarah, lelaki itu kembali menuju mobil yang tadi ia parkirkan sembarang. Berbagai pertanyaan bercokol di kepalanya. Tentu saja ia dapat melihat dengan jelas bagaimana interaksi ketiga orang tadi. Membuat lelaki itu menyadari bahwa setelah ini ia tak dapat menikmati malamnya dengan tenang.