PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 119#



"Maaf Ma. Aku tahu keputusan ku mungkin sudah mengecewakan mama. Tapi aku mohon mama dengarkan penjelasan kami dulu," ucap Alex berusaha meyakinkan ibunya. 


Sementara di sebelahnya, Nadira nampak mengelap sudut matanya yang basah. Ia tak ingin sampai Alex menyadarinya. Pun tak ingin terlihat lemah di hadapan mertuanya. Ia harus menunjukkan bahwa ia wanita yang kuat dan pantas berada di sisi Alex. 


"Apa yang harus dijelaskan lagi? Mama tidak habis pikir sama kamu, Lex? Bisa-bisanya kamu mempercayai wanita ular seperti dia? Apa kamu mau jadi keledai yang jatuh pada lubang yang sama?" desis Erika tajam. 


"Ma, Nadira sekarang sudah berubah. Dia sudah menyesali apa yang sudah dia lakukan pada kita dulu. Tolong beri satu kesempatan lagi."


"Merubah nama tidak berarti merubah kepribadiannya begitu saja. Apa kamu tahu penjahat punya banyak nama alias? Nama apapun yang mereka pakai sekali berbuat kejahatan mereka akan terus melakukannya."


"Tapi aku yakin sama Nadira, Ma. Aku yakin dia audah berubah."


"Apa kamu baru bisa percaya sama mama setelah wanita busuk ini menusuk kamu dari belakang sekali lagi? Apa satu kali tidak cukup untuk kamu belajar?"


"Ma ...." 


Alex menghentikan kalimatnya saat Nadira menggenggam erat tangannya. Wanita itu memberi isyarat agar lelaki itu berhenti membelanya. 


Nadira mengangkat kepala perlahan. Sedari tadi ia hanya berani menatap ujung sepatunya mendengar perdebatan Alex dengan ibunya. Akan tetapi, ia tak mungkin membiarkan hubungan Alex dengan ibunya semakin memburuk. Mau tak mau, suka tak suka ia harus menghadapi ibu mertuanya langsung. Genggaman tangan Alex seolah memberi kekuatan berkali lipat  bagi Nadira.


"Ma ...." ucap Nadira perlahan. 


"Aku tidak sudi dipanggil mama oleh mulut kotor mu itu," sambar Erika membuat Nadira mereguk salivanya. 


"Mama ...."


Sekali lagi Nadira mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Alex. Ia menggelengkan kepala agar Alex tak meneruskan ucapannya. Melalui sorot matanya ia meminta lelaki untuk mempercayainya kali ini.


"Maaf. Aku tahu aku sudah membuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Aku juga tidak pantas untuk meminta maaf."


"Untuk apa kau ke sini kalau sudah tau itu?" hardik Erika dengan sorot mata menghina. 


"Aku hanya berharap mama tidak menyalahkan Mas Alex karena aku. Mama boleh membenci ku. Tapi aku mohon diberi kesempatan untuk menunjukkan pada mama bahwa aku serius terhadap pernikahan ku dengan Mas Alex."


"Pernikahan seperti apa? Pernikahan kalian dilandasi kebohongan belaka."


"Aku akui pada mulanya pernikahan ini tidak berarti untuk ku. Tapi sekarang aku dengan yakin mengatakan, kalau aku akan berjuang untuk mempertahan kan rumah tangga kami," ucap Nadira menatap lurus pada Erika. 


"Sebelum kau membuktikan ucapan mu, aku tidak akan pernah mengakui pernikahan kalian."


"Baiklah, aku mengerti," ucap Nadira seraya menghela nafas pasrah. 


Ia mencoba melepaskan beban yang menghimpit dada dengan membuang nafasnya perlahan. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Pun dengan kepala yang tiba-tiba menjadi pusing. Tubuhnya seakan tak kuat lagi menahan beban yang menghampiri dirinya bertubi. 


"Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan bukan?!" ucap Erika sarkas.


"Satu lagi, Ma. Sementara waktu, kami akan tinggal di apartemen ku. Jadi mama bisa kembali ke rumah Kakek. Aku tahu, mama pulang ke indonesia ingin membantu Tante Dilla merawat Kakek," ucap Alex cepat. 


Alex memperhatikan ibunya. Tak sedikitpun sudut bibir wanita itu bergerak. Membuat Alex merasa kehabisan akal menghadapi ibunya. Wanita itu memang keras saat sudah membuat keputusan. Tak mudah menggoyahkan pendirian seorang Erika. 


"Baiklah kalau begitu kami pamit," ucap Alex setelah menunggu beberapa saat.


Alex bangkit dari duduknya dan menarik tangan Nadira yang masih berada di genggaman tangannya. Namun, istrinya itu tiba-tiba terhuyung dan mencengkram erat lengannya agar bisa bertahan. Wajah kuyu dan pucat Nadira seketika membuat Alex panik.