PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 51#



"Mas Alex nungguin aku?" tanya Nadira ragu. 


"Memangnya kamu pikir aku jauh-jauh kesini mau nungguin siapa kalau bukan nungguin kamu?" desis Alex seraya mengernyitkan dahi lantaran kesal mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nadira.


"Yah mungkin Mas Alex ada keperluan lain sama siapa gitu," jawab Nadira sembari melirik Thalita tajam. 


Sementara Thalita sudah membungkam mulutnya rapat dengan rona wajah memucat seakan tak dialiri darah. 


"Ga usah banyak bicaral. Ayo berangkat sekarang," ujar Alex seraya menarik tangan Nadira menjauh dari Thalita. 


Perempuan bertubuh tinggi semampai itu masih terkejut dengan sikap spontan yang ditunjukkan Alex. Pikiran belum sepenuhnya mengambil alih kesadaran Nadira. Ia hanya mengikuti langkah kaki sang suami dengan bermacam pertanyaan memadati isi kepala. Hampir saja ia tak mengingat perseteruan yang baru saja terjadi dengan Thalita sebelum kesadaran akan keberadaan menejer marketing itu melintas di benaknya. 


Nadira menoleh ke belakang, mencari sosok perempuan yang terus mencecarnya beberap saat lalu. Dilihatnya Thalita hanya bergeming dan masih terpaku di tempatnya. Ia tak dapat melihat dengan jelas bagaimana raut wajah perempuan itu sekarang. Namun, Nadira yakin kejadian barusan akan semakin membuat perempuan itu naik darah.


"Ada apa Mas Alex mencariku?" tanya Nadira saat berhasil menyingkirkan Thalita dari kepalanya. 


Perempuan yang hampir berusia dua puluh tujuh tahun itu sudah duduk sempurna di kursi penumpang yang bersebelahan dengan kemudi mobil. Ia sedikit memutar tubuhnya menghadap Alex dengan tatapan penuh tanya.  


Namun, lelaki yang masih berstatus sebagai suami sah nya itu seolah tak terganggu dengan tatapan mata Nadira yang penuh selidik. Lelaki itu nampak fokus dengan kemudi mobil yang ia lajukan dengan kencang. 


"Sepertinya hari ini kesabaran ku benar-benar di uji," batin Nadira seraya mendesah pasrah.


"Kamu ngapain tadi sama Thalita?" tanya Alex tanpa tedeng aling, membuat Nadira yang sudah membuka lebar mulutnya kembali membungkam. Ia terpaksa menelan kembali pertanyaan yang hampir saja ia lontarkan untuk Alex. 


"Hanya pembicaraan biasa antar wanita." Nadira menjawab asal. 


"Kamu yakin?" Alex menolehkan wajah sekilas pada Nadira seraya menyelisik raut wajah istrinya itu. Mencari kebenaran yang terpatri di sana. 


Saat tengah menunggu Nadira di dalam mobil, Alex melihat Nadira dan Thalita keluar kantor De' Advertising. Dari kejauhan, lelaki itu bisa melihat ketegangan di antara mereka. Entah apa yang diperbincangkan, tapi ia meyakini bahwa keduanya sedang berdebat. 


"Tidak ada yang penting antara aku dan Mbak Thalita. Jadi kurasa kita tidak perlu membahasnya. Aku justru lebih ingin kita membahas tujuan Mas Alex mencariku di kantor," ucap Nadira mengalihkan pembahasan akan Thalita. 


"Tadi Ravka memberitahuku kalau kondisi Kakek semakin menurun," jawab Alex terdengar gusar. 


Nadira turut merasakan kesedihan mendengar kesehatan Kakek Bayu yang terus menurun. Entah mengapa sejak pertemuan terakhir dengan lelaki yang telah berusia senja itu memberikan kesan tersendiri bagi Nadira. Rasa sayang terhadap laki-laki renta itu hadir begitu saja di dalam hatinya. Ia dapat merasakan kasih sayang tulus dari Kakek Bayu, meski sudah banyak kesalahan yang ia lakukan terhadap keluarga Dinata. 


"Aku mau mengajakmu menemui Kakek Bayu. Aku tidak mau menyesal karena terlambat memenuhi permintaannya."


Ucapan yang dilontarkan oleh Alex seketika membuat jantung Nadira bergemuruh. Ia tak dapat menerka kemana Alex akan membawa biduk rumah tangga mereka. Namun, saat ini hal itu bukanlah sesuatu yang penting untuk dipikirkan. Ia akan memasrahkan semuanya pada jalan takdir. Saat ini yang perlu ia pikirkan adalah kondisi Kakek Bayu.