
"Kakek apa kabar?" tanya Nadira mengalihkan rasa canggung akan kehadiran Alex yang duduk berdekatan dengannya.
Jantung Nadira berdetak semakin cepat. Ditambah ia begitu kesulitan menahan perasaan yang ingin melirik sang suami di sebelahnya. Padahal sejak tadi, ia bertekad akan mengabaikan keberadaan lelaki itu. Bersikap biasa, seolah tak terusik dengan kehadiran lelaki rupawan di sebelahnya.
"Alhamdulillah, Kakek baik. Kamu apa kabar?" Kakek Bayu balik bertanya dengan suara serak khas orang tua.
"Saya juga baik, Kek."
"Kakek dengar dari Alea, sekarang kamu lebih suka dipanggil Nadira?"
"Hmm ... iya Kek," jawab Nadira tertunduk, menyembunyikan wajah yang memerah menahan malu.
"Lama tidak bertemu, kamu bertambah Ayu. Sangat cocok dengan nama Nadira."
Rona merah muda di pipi Nadira kian menebal mendengar pujian Kakek Bayu. Pujian yang tak pernah ia bayangkan keluar dari bibir orang yang menyandang Dinata dalam namanya. Mengingat apa yang sudah ia dan keluarganya coba lakukan pada keluarga Dinata.
Sementara di sebelahnya Alex duduk dengan gelisah. Ia sama sekali tak suka dengan basa basi antara Kakeknya dengan perempuan yang ternyata sudah mengganti namanya menjadi Nadira. Lelaki itu tak dapat menahan rasa penasaran melirik perempuan di sebelahnya. Entah apa yang membuat ia berusaha mengganti nama.
Akan tetapi, tak hanya namanya saja yang dirasa Alex berubah dalam diri perempuan itu. Sikap maupun penampilannya, kini jauh berbeda. Ia terlihat lebih santun saat berbicara dengan orang lain. Pun dengan penampilannya yang terlalu sederhana untuk orang sekelas istrinya itu.
Tujuh bulan tak berjumpa, menghadirkan sosok yang berbeda di depan mata. Hanya satu yang tak berubah. Perasaan membuncah setiap menatap matanya.
"Udah puas ngeliriknya?" tanya Kakek Bayu menyentak Alex.
Meski tak menyebutkan kepada siapa pertanyaan itu tertuju, Alex sadar betul sang Kakek sedang menyindirnya.
"Kakek bisa menunggu kok. Kamu bisa ambil sebanyak waktu yang kamu butuhkan untuk terus mencuri pandang. Tapi, Kakek punya saran lebih baik untuk kamu, Lex."
Sontak wajah Alex memerah saat Nadira memutar kepala menatap kelaki itu seraya mengernyitkan dahi. Perempuan itu seolah mencari tahu apa yang sudah terlewatkan olehnya. Hanya ada kesunyian yang mendominasi dalam ruangan itu. Namun, ucapan Kakek Bayu membuat Nadira sadar ada bagian yang ia lewati. Sehingga sulit memahami makna tersirat dalam ucapan lelaki berusia senja itu.
"Kakek jangan salah paham." Suara dingin Alex seperti hujan di hati Nadira.
Hanya mendengar suaranya saja, membuat gadis itu berdesir. Suara Alex seolah memberikan kesejukan bagi hatinya yang mulai kerontang.
"Kakek sudah tua, Lex. Walaupun mata Kakek mulai rabun, tapi pengalaman mengajarkan banyak hal pada Kakek mu ini."
Kakek menjeda kalimatnya. Kembali melihat reaksi sepasang anak muda di hadapannya. Ia pernah berada di posisi mereka. Masa-masa dimana ke-egoan lebih mendominasi dari pada akal dan perasaan.
"Kamu tidak bisa terus bersembunyi di balik ke-egoisan, kalau tidak ingin menyesal di kemudian hari." Lanjut Kakek Bayu.
"Aku tidak mengerti maksud Kakek."
"Kamu terlalu pintar untuk tidak memahami maksud Kakek, Lex." Tatapan teduh penuh pengertian Kakek Bayu layangkan untuk cucunya itu.
Alex hanya membisu mendengar perkataan Lelaki yang sudah mulai uzur tersebut tanpa bisa membantah. Akhir-akhir ini, Alex memang terlalu sibuk bergelut dengan pekerjaan sehingga tak punya cukup waktu untuk menemui sang Kakek. Karena itu, saat Ravka menyampaikan permintaan Kakek untuk menjenguknya, ia langsung menyanggupi. Tanpa sedikitpun terbersit kecurigaan bahwa ia akan dipertemukan dengan perempuan yang membuat segala angannya akan masa depan amblas di telan khayal.
Kebisuan kembali menggelayuti kamar Kakek Bayu dengan tiga orang yang asik berkelana dengan pikiran mereka masing-masing.
Kakek Bayu nampak menarik nafas panjang sebelum rangkaian kata keluar dari bibirnya yang sudah dipenuhi keriput di tiap sudutnya. "Kakek sengaja meminta kalian berdua untuk menemui Kakek karena ada hal yang harus Kakek bicarakan dengan kalian."
Kakek Bayu lagi-lagi memilih untuk menjeda kaliamatnya demi melihat ekspresi sepasang anak muda yang masih diselimuti oleh ego mereka masing-masing. Keduanya nampak memfokuskan perhatiannya pada apa yang akan ia katakan.
"Kakek sudah terlalu tua. Mungkin saja umur Kakek sudah tidak lama lagi."
"Kakek jangan bicara seperti itu ... " sambar Alex yang langsung menghentikan ucapannya saat Kakek Bayu mengangkat tangan agar Alex tak meneruskan bicaranya.
"Kita tidak pernah bisa menghindari ajal, Lex. Setiap yang bernyawa pasti akan menghadap Sang Khalik pada akhirnya. Hanya saja, ada satu hal yang masih membuat Kakek tidak dapat tidur nyenyak. Kakek masih berhutang maaf pada kalian berdua," ucap Kakek Bayu seraya mendesah pelan.
Lelaki renta itu bisa sedikit bernafas lega telah mengungkapkan keresahan yang menghimpit dada.
"Minta maaf untuk apa, Kek? Kakek tidak salah. Justru aku lah yang seharusnya meminta maaf pada Kakek dan keluarga ini atas semua sikapku selama ini." Rentetan kata berhasil meluncur dari bibir tipis Nadira yang sedari tadi dia tahan.
Hatinya tersentil saat Lelaki yang sudah berusia lanjut itu meminta maaf. Sementara ia sendiri yang sudah jelas melakukan kesalahan, justru bersembunyi di balik rasa takut bertemu keluarga suaminya itu.
"Tentu saja kesalahan Kakek yang paling besar disini."
"Kakek tidak salah apa-apa. Aku yang sudah melakukan kesalahan besar di sini," sambar Nadira dengan wajah tertunduk lesu.
**********************************************
sambil nunggu up bisa di kepoin karya temen aku ini yah gaes... Karya Eka Pradita....