
Nadira akhirnya bisa menghirup udara dengan tenang saat Elroy memutuskan untuk berhenti menginterogasi dirinya. Perempuan itu merasa beruntung bahwa atasannya itu tidaklah semenyeramkan lirikan matanya.
Lelaki itu memang memberondongnya dengan pertanyaan bertubi yang seolah menyudutkan. Namun, tak sedikitpun Elroy menghakimi ataupun mengintimidasi dengan jabatan yang dia miliki. Membuat Nadira menaruh kagum akan sosok atasannya itu.
"Masa udah kerja capek-capek tapi hasilnya nol besar?!" desah Ais dari meja kerjanya tak jauh dari ruangan Elroy.
Nadira mengehentikan langkahnya di depan ruangan atasannya itu saat pembicaraan rekan kerja menyapa gendang telinganya.
"Ga usah pesimis gitu dong. Ga mungkin lah kerja keras kita selama ini sia-sia gitu aja," timpal Denis memberi semangat.
"Tapi masalahnya yang Kemal hajar itu Pak Alex. Boss besar dari perusahaan besar pulak. Ga mungkin lah dia tinggal diam gitu aja," sambar Irvan berapi-api.
"Eh tapi gue liat pake mata kepala sendiri, Kalau Pak Alex yang mukul Kemal duluan. Ya kalau gue jadi Kemal juga pasti bales lah. Bukan salahnya Kemal juga kali." Jono turut menimpali.
"Apa sih sebenernya yang mereka ributin?" tanya Aviva seraya memasang raut wajah penuh keingintahuan.
"Mana gue tau," jawab Jono seraya mengedikkan bahu.
"Kata Lu liat pake mata kepala sendiri. Tapi sekarang malah bilang ga tau. Ah ... Ga bisa dipegang omongan Lu," Irvan mengibaskan tangannya di depan Jono.
"Kan gue bilang lihat pake mata kepala, bukan denger pake telinga kepala," jawab Jono ngasal.
"Ngaco Lu. Bukan waktunya buat bercanda. Gimana kalau project kali ini bener-bener dihentikan?" desah Aviva seraya menelungkupkan kepalanya diatas meja.
Ada perasaan tak nyaman merayapi hati Nadira mendengar perbincangan para rekan kerjanya. Nadira juga sejujurnya tak mau kalau sampai kerja keras mereka berakhir sia-sia.
Meski ia sempat meyakini bahwa pertengkaran Alex dan Kemal tidak akan berimbas pada pekerjaan mereka, tapi mendengan ucapan teman-temannya cukup menggoyahkan hati Nadira.
"Eh, Nadira udah keluar ruangan Pak Elroy tuh," seru Denis saat matanya menangkap sosok Nadira yang mematung di depan pintu.
Divisi Tim Kreativ dan Produksi memang tidak memiliki ruangan khusus. Mereka ditempatkan pada sebuah ruangan besar di depan ruang kerja Elroy. Memang sebagian besar pekerja di D' Advertising tidak memiliki ruangan khusus.
Hanya jajaran supervisor, menejer serta pemilik perusahaanlah yang memiliki ruangan. Karyawan yang lain hanya menempati kubikel yang hanya di sekat oleh partisi. Pun dengan divisi lain yang lebih banyak menempati lantai tiga gedung itu.
"Nadira ... " panggil Ais manakala Nadira masih terpaku di tempatnya.
"Eh ... iya," jawab Nadira gelagapan saat tersadar dari lamunannya.
Bergegas perempuan itu menghampiri meja kerjanya sendiri.
"Gimana apanya?" tanya Nadira balik seraya menghempaskam tubuhnya di atas kursi putarnya.
"Tadi di dalem gimana? Pak Elroy ngomong apa?" tanya Aviva lagi.
"Ga gimana-gimana sih. Yah gitu aja."
"Bukannya tadi Lu dipanggil bareng sama Kemal?" cecar Denis yang sudah menghampiri meja kerjanya.
Pun dengan teman-temannya yang lain turut mengerubunginya membuat Nadira mendesah pasrah.
"Duhhh ... mulai lagi deh gue bakal di interogasi," batin Nadira meronta.
Tak heran jika para rekan kerjanya itu penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan mereka kompak ada di ruangan setelah selesai shooting. Padahal hari-hari kemaren, setelah shooting mereka pasti nongkrong dan bersantai terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor.
"Pasti ngomongin kejadian di lokasi shooting tadi siang kan?" timpal Irvan seakan tak memberi kesempatan Nadira menghela nafas.
"Iya sih, gue emang dipanggil ke dalem buat ditanyain soal kejadian tadi siang," jawab Nadira ogah-ogahan.
"Terus ... terus?" seru Ais penuh semangat.
"Nabrak ... " jawab Nadira asal.
"Ih ... seriusan Nad, ah ... " ucap Aviva tak sabaran.
"Yah ga ada terus. Tadi Pak Elroy cuma nanyain penyebab kejadian tadi siang. Tapi Kemal suruh Pak Elroy buat nanyain langsung ke Pak Alex."
"Lah kok bisa gitu?" timpal Jono ikutan penasaran.
"Yah mana gue tau. Tanya Kemal aja sih. Orang Kemal bilangnya juga ga tau masalahnya apa. Pak Alex tiba-tiba mukul dia."
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Orang gue ngeliatnya juga gitu. Cuma gue liatnya dari jauh. Mereka ngomong apa gue ga kedengeran," seru Jono.
"Kalau itu juga kita udah tau. Kan tadi lu udah ngomong," timpal Aviva gregetan. "Tapi Bang Kemal beneran ga ngomong apa-apa tuh di dalem?"
"Ga, Va ... Kemal bilang dia juga ga tau masalahnya apa. Pak Alex tiba-tiba mukul dia. Tapi Kemal bilang kalau gara-gara masalah ini berimbas pada kerjaan, dia bakal tanggung jawab kok," jawab Nadira seraya melayangkan pikirannya pada Kemal.
Bagaimana kalau sampai hal ini benar-benar mempengaruhi project mereka? Kemal akan kehilangan kerjasamanya dengan D' Advertising. Sementara Kemal lah orang yang membantunya mendapat pekerjaan, jadi dia tidak akan membiarkan Kemal justru kehilangan pekerjaan karenanya, tekad Nadira dalam hati.