PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 117#



"Ma, kenapa papa tidak menyukai ku?" tanya Nadira ragu. 


kekhawatiran nampak terasa dari nada suaranya. Pun dengan tatapan matanya yang tak berani menatap ibunya. Jantungnya berdetak cepat menunggu jawaban yang keluar dari mulut wanita yang kini sangat ia kasihi. 


Sudah lama Nadira ingin menanyakan hal ini, tapi ia tak yakin apakah jawaban sang bunda bisa ia terima dengan ikhlas. Namun, ia tak pernah bisa membayangkan penyebab sikap sang ayah yang begitu kejam padanya hingga hatinya tak berhenti bertanya-tanya. 


"Apa aku melakukan kesalahan sehingga papa jadi begitu marah pada ku?" tanya lagi saat Shinta tak kunjung membuka suara. 


Tarikan nafas panjang dapat Nadira dengar di sebelahnya. Mungkin pertanyaannya kali ini begitu sulit untuk dijawab, hingga ibunya harus menghela nafas panjang sebelum memulai kata. 


"Ini bukan salah kamu. Tapi ini kesalahan mama karena sudah salah memilih teman hidup. Mama tidak tahu kalau papa mu ternyata sebegitu tidak menghargai wanita," Shinta melepaskan semua peralatan masak yang tengah dipegangnya. 


Ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi lantaran lututnya terlalu lemah untuk menyangga tubuhnya. Mengingat peristiwa kelam di masa lalu membuat segala daya seolah menghilang begitu saja. 


"Ketika kamu lahir ke dunia, papa mu begitu kecewa mendapati kenyataan bahwa mama melahirkan anak perempuan. Ia hanya menginginkan anak lelaki untuk dijadikan penerusnya. Ia bahkan sempat ingin membuang mu. Untunglah mama berhasil mencegahnya. Semenjak itu mama selalu berusaha agar tidak lagi mengandung. Mama terlalu takut melahirkan anak perempuan dan membuat papa mu semakin murka," lanjut Shinta dengan tetesan air mata mulai menggenangi pelupuk mata. 


"Mama, maaf," ucap Nadira langsung merengkuh ibunya ke dalam pelukan. 


Ia tak menyangka mengingatkan ibunya pada masa lalunya telah membuka luka lama dalam diri wanita paruh baya itu. Padahal belakangan ini wanita itu sudah nampak ceria, tak ada lagi takut yang selalu menghiasi wajahnya selama ini. 


Nadira memeluk erat tubuhnya. Seberapa dalam rasa sedih yang ia rasa karena ayahnya, tak akan sedalam rasa sedih yang ibunya rasakan. Seberapa pahit hari demi hari ia lewati hanya demi menjaga dan merawat anak-anaknya. Membuat rasa hormat Nadira pada ibu tercinta tumbuh berkali lipat dalam hati. Tetesan air mata akhirnya turut menghiasi pelukan anak dan ibu itu. 


"Sudah ... sudah ... Yang sudah lalu tak perlu di ingat lagi. Bagaimanapun mama tidak pernah menyesal telah menikahi papa kalian. Karena dari pernikahan itu, mama bisa punya putri cantik dan baik seperti mu," ucap Shinta seraya mengelap sudut matanya yang mulai meneteskan bulir bening dengan deras. 


"Apa mama mau berpisah dari papa?" tanya Nadira seraya melepaskan pelukannya. 


Ia memberanikan diri menatap ibunya sambil menunggu jawaban yang akan diberikan oleh wanita itu. 


"Itu tidak mudah, Nad. Walaupun sejujurnya mama mang sangat ingin sekali pisah dari papa mu," ucap Shinta dengan sorot mata sendu. 


"Mama tenang saja. Aku pasti bisa membuat mama berpisah dari papa. Mama juga berhak bahagia. Setelah itu, mama mungkin bisa merajut cerita baru bersama Om Firman," ucap Nadira dengan kerlingan jahil. 


"Kamu bicara jangan melantur kemana-mana," ucap Shinta seraya bangkit dari kursi kemudian melanjutkan aktivitas memasaknya. 


"Untuk apa membahas masa lalu. Kita hidup untuk masa depan," kilah Shinta. 


"Tapi mama sam Om Firman kan bisa membangun masa depan bersama," ucap Nadira menghadirkan semu merah di wajah ibunya. 


"Apa sih kamu," ucap Shinta salah tingkah. 


"Ih ... Mam ternyata bisa shy-shy cat juga yak," ledek Nadira seraya tergelak.


"Apa itu?"


"Malu-malu kucing," ucap Nadira kemudian tertawa lebar. 


"Buruan masak. Nanti giliran suami mu mau makan, masakannya malah belum jadi."


Setelah itu, ibunya terus mengoceh bagaimana seharusnya sikap ia sebagai seorang istri. Apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan untuk menyenangkan suami agar rumah tangga putrinya itu selalu dilimpahi kebahagiaan. Selalu mesra dan langgeng hingga jadi kalek dan nenek. 


Tak lupa ia mewanti-wanti harusengikuti jejak keluarga suaminya yang langgeng hingga tua. Jangan mencontoh pada dirinya serta Ferdy suaminya yang harus kandas karena keegoisan semata. 


*********************************************


Jan lupa yah guys follow IG aku @Tsabitah.tsa.bitah


And yang punya kuda ungu kasih tap love yah di novel aku yang judulnya LOVE HURTS


Oh iya buat yang bilang kelarin dulu PI baru nulis di tempat lain.. sorry yah manteman, kita saling pengertian aja.. aku nulis juga buat cari cuan.. gak mungkin aku cuma survive di sini sementara nihil.. harap maklum.. yang penting aku tetep akan tamatin cerita ini..


Buat yang nanyain Love & Business sorry bukannya gak mau di lanjut, itu lagi dalam proses pemindahan ke tetangga sebelah.. proses kontrak di tetangga sebelah itu luama.. gak bisa kaya di sini bisa langsung post.. di sebelah, udah bisa post pun gak maen asal bisa lanjut.. tetep harus nunggu instruksi dulu buat lanjut..


sebagai informasi, sekarang aku nulis di dua tempat selain di sini.. di kuda ungu sama di pink (Ini PF baru yah guys.. di sini aku udah mulai dari awal september) di kuda ungu aku masih tunggu proses... thx yang udah bersedia ngikutin jejakku di si ungu...