PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 116#



Alex mengetuk pintu penthouse-nya. Meskipun penthouse itu adalah miliknya sendiri, tapi saat ini hunian itu ditempati oleh ibu mertuanya. Tak elok rasanya jika ia nyelonong masuk tanpa permisi. 


Tak menunggu lama, Shinta membukakan pintu untuk Alex dan Nadira yang berdiri dengan dua buah koper di dekat mereka.


"Alex … Nadira … Mama kira tadi siapa? Kenapa gak langsung masuk aja? Kan ini juga apartermen kalian," ucap Shinta seraya berjalan masuk ke dalam di ikuti oleh anak serta menantunya. 


"Eh iya, Ma," jawab Alex canggung. 


"Kalian sudah makan?" tanya Shinta kemudian. 


"Udah kok, Ma. Kami tadi sudah makan di rumah."


Wanita paruh baya itu kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Ia meraih remote televisi dan memencet chanelnya beberapa kali. Mencari tayangan televisi yang menarik mintanya untuk di tonton. 


Baik Alex maupun Nadira juga turut duduk di sofa dan membiarkan cover mereka tergelatak tak jauh dari sofa. 


"Ma, kami mau izin untuk tinggal di sini sementara waktu," ucap Alex pada ibu mertuanya.


"Loh kok pake izin segala? Mama jadi gak enak sama kalian. Ini kan apartemen kamu Nak Alex. Malah justru mama yang numpang di sini," ucap Shinta merasa canggung. 


"Bukan begiti, Ma maksud Mas Alex. Mas Alex hanya khawatir privacy mama terganggu kalau kami tinggal di sini bareng mama," ucap Nadira mencoba menjelaskan pada ibunya agar Shinta tak merasa tersinggung. 


"Mama justru seneng kalau kalian mau tinggal bareng mama. Jujur saja mama kesepian di sini. Apalagi kamu kan selalu larang mama bepergian sendiri," ucap Shinta dengan senyum manis mengikis kecanggungan yang terlanjur muncul di antara mereka. 


"Ya udah kalau begitu kami rapihin barang-barang kami di kamar dulu ya, Ma," ucap Nadira seraya menggeret kopernya menuju kamar. 


"Aku bantuin Nadira dulu, Ma," ucap Alex bergegas mengikuti istrinya ke kamar. 


Sesampainya di kamar, Nadira langsung mengeluarkan isi koper mereka dan menatanya dalam lemari. Kepalanya langsung memikirkan kamar mandi Alex yang memperlihatkan pemandangan dari ketinggian. 


Ia segera bergegas memasuki kamar mandi sesaat setelah mengosongkan isi koper. Namun, belom sempat menutup pintu kamar mandi, tangan Alex sudah terlebih dahulu menahannya.  


"Ada apa, Mas?" tanya Nadira seraya mengerutkan dahi. 


"Ikut mandi," jawab Alex santai. 


"Hei, aku sudah berjanji pada Kakek akan segera memberinya cucu. Aku harus menepati janji ku bukan," ucap Alex seraya memainkan matanya. 


kedua alis lelaki itu naik turun sembari melemparkan senyum menggoda.


"Dasar modus," Nadira berusaha mendorong Alex keluar dari kamar mandi. 


Namun, apa daya tenaganya kalah jauh ketimbang sang suami, membuat Nadira akhirnya mengalah dan membiarkan Alex turut masuk ke kamar mandi. Gara-gara ulah sang suami membuat kesenangan mandi Nadira terganggu. Keinginan menatap keindahan langit sore melalui dinding kaca di kamar mandi harus terganggu dengan sentuhan nakal yang terus dilancarkan oleh Alex.


"Ma, lagi apa?" tanya Nadira saat melihat ibunya asik berkutat dengan peralatan dapurnya. 


"Tadi mama masak sedikit. Kalian gak bilang kan mau ke sini. Ini mama lagi siapin buat makan malam."


"Sini, Nadira bantuin," ucap wanita itu seraya menghampiri ibunya di balik meja bar dapur. 


"Udah sana, kamu temenin suami mu aja."


"Mas Alex nya lagi sibuk sama pekerjaannya, Ma. Papa sama Genta bikin ulah lagi. Mas Alex sama Ravka lagi kerepotan sekarang ini."


Shinta nampak menarik nafas panjang mendengar penuturan Nadira, meski ia sudah bisa menebak kalau ini akan terjadi cepat atau lambat. 


"Mama bingung harus bilang apa. Tapi sejujurnya Mama kasihan sama Genta."


"Kenapa harus kasihan sama dia sih, Ma? Dia kan sama aja kaya papa."


"Kakak kamu itu pada dasarnya baik. sama seperti kamu. Mama bersyukur kalian tidak benar-benar meniru papa kalian. Kakak mu itu hanya korban dari ambisi papa mu. Sama seperti kamu."


"Kenapa mama bisa bilang seperti itu?"


"Dulu waktu kamu masih sangat kecil, Kakak kamu perhatian dan baik sama kamu. Tapi setiap kali papa mu melihat, ia akan menghukum kamu yang masih kecil. Karena Kakak mu kasihan sama kamu, makanya dia akhirnya menjauh dari kamu. Makanya kalian tumbuh tidak sebagai saudara," ucap Shinta dengan mata menerawang jauh. 


Kabut di matanya hampir saja menetes membasahi pipi. Pun dengan Nadira yang merasa dadanya begitu sakit mendengar cerita ibunya. Sebegitu bencinya kah ayahnya pada dirinya? Sampai lelaki itu tega membuat ia tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah dengan tulus. Tak cukup hanya itu, ia juga harus kehilangan sosok seorang kakak dalam hidupnya.