
"Kita makan di sini?" tanya Elika seraya mengerutkan dahi.
"Kalau kamu tidak suka tempat terbuka, kita bisa kembali ke kantor Elroy dan makan di sana. Kebetulan shooting sudah selesai."
"Kelamaan ah. Yaudah lah di sini juga ga apa-apa deh," ujar Elika seraya mengeluarkan kotak bekal yang dibawanya. "Kamu mau makan apa? Aku ada bawa Salmon Salad sama Beef Salad."
"Elika sayang, kamu kan tau kalau aku ga suka sayur. Emang kamu ga ada bawa yang lain?" Kemal memajukan bibirnya beberapa senti.
"Abang ku sayang, kamu itu harus makan makanan yang sehat. Kamu harus belajar makan sayur-sayuran. Lagipula ini aku sampe kursus segala loh, biar aku bisa masakin kamu makanan sehat tapi tetep enak. Di coba dulu yah," ujar Elika membuka tutup kotak makanan berisi Beef Salad.
"Ga selera El." Kemal masih bergeming dan tak mau menyambut kotak bekal yang disodorkan oleh Elika.
"Aku suapin deh. Emang kamu tega aku dah capek-capek buatin malah ga disentuh. Aku juga bikin Panna Cotta kesukaan kamu loh."
"Yaudah aku makan itu aja deh," ujar Kemal dengan seringai di wajah.
"Big No ... Aku baru kasih Panna Cotta nya kalau kamu udah habisin ini dulu," ucap Elika seraya menyodorkan sendok berisi berbagai jenis sayuran segar dengan sausnya ke mulut Kemal.
Dengan sangat terpaksa Kemal menuruti kemauan sang kekasih. Sambil mengunyah, kepalanya memikirkan dessert lembut yang berasal dari italia itu akan memanjakan lidahnya. Hingga tak menyadari setengah porsi sudah dia menghabiskan Beef Salad yang disuapi oleh Elika.
"Sekarang giliran kamu yang makan." Kemal merebut sendok dari tangan Elika dan menyuapkan Salad itu pada kekasihnya.
"Katanya kita mau makan bareng. Masa aku doang yang makan?" ujar Kemal seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya karena berhasil menemukan cara agar menghentikan Elika menyuapinya.
"Oh iya, Nadira kok lama yah? Ini kan udah lewat jam makan siang. Ga laper apa dia?" tanya Elika baru teringat akan sosok perempuan yang dianggap adik oleh sang kekasih.
"Tau tuh kemana." Kemal mengedikkan bahu saat menjawab pertanyaan Elika.
Tanpa Kemal dan Elika sadari, dari jauh sepasang mata memperhatikan mereka yang bersikap seolah dunia hanya milik berdua saja. Sepasang mata itu tak lain adalah milik Alex yang merasa jijik menyaksikan keduanya mengumbar kemesraan tanpa takut seseorang akan memergoki kelakuan mereka.
Semakin lama ia menyaksikan keduanya, amarah semakin menguasai jiwa. Ia mengepalkan tangan erat ketika sekelabat adegan demi adegan saat Kemal sedang berdua dengan Nadira melintas di kepala. Kini lelaki itu bahkan nampak lebih mesra dengan perempuan lain di tempat yang sangat memungkinkan akan di lihat oleh Nadira.
Tanpa disadarinya, Alex melangkahkan kaki menuju sepasang kekasih yang terlihat begitu menikmati waktu mereka berdua.
"Alex?" gumam Kemal saat melihat Alex berjalan ke arahnya dengan tergesa.
Kemal memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan orang lain di dekat mereka. Namun, tak seorangpun yanh dapat ditangkap oleh Kemal disekitar mereka. Membuat lelaki itu semakin memperdalam kernyitan di dahinya.
Reflek ia melepaskan sendok di tangannya dan mempersiapkan diri saat menyadari bahwa dialah yang dituju oleh Alex. Sorot mata lelaki itu yang dilemparkan padanya sudah cukup memberi tahu kemarahan Alex padanya.