PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 67#



Nadira memaku manik hitam pekat di hadapannya. Mencari arti tatapan yang diarahkan untuknya itu. Ada keteduhan di sana, tapi perempuan itu meragu. ia menyadari mungkin saja saat ini Alex hanya kerasa bersalah atas perlakuan ibunya. Ia lantas menyunggingkan senyum yang sempat memudar. 


"Enggak ada yang salah kok, Mas, di sini. Hanya kondisi nya aja yang tidak tepat," ucap Nadira. 


"Aku akan bicarakan secepatnya pada Mama. Supaya dia tidak lagi salah paham," balas Alex dengan senyum yang tak pernah surut. 


Nadira hanya mengangguk mendengar janji yang diucapkan sang suami. Hatinya seolah di guyur hujan lebat setelah kemarau melanda, mendengar nada lembut yang Alex lontarkan. 


"Sebaiknya kamu bersih-bersih, ganti baju habis itu kita makan," ucap Alex melepaskan genggaman tangannya pada Nadira. 


Nadira seakan baru menyadari bahwa dia belum mengganti pakaiannya sejak pulang kantor tadi. Ia menangis sejadi-jadinya hingga melupakan hal yang lain. Kebetulan lambungnya juga memang sudah  memberi kode agar ia segera mengisi perutnya. 


"Mas Alex belum makan malam?" tanya Nadira kemudian. 


Alex menggeleng seraya melepas dasi yang masih melingkar di leher. 


"Ya sudah, kalau begitu aku ganti baju dulu ya, Mas," ucap Nadira seraya bangkit dari tempat tidur dan menyambar pakaian ganti dalam lemari. 


Ia menyegerakan ritualnya di dalam kamar mandi agar tak membuat Alex menunggu terlalu lama. 


"Kamu enggak mandi dulu?" tanya Nadira sesaat setelah keluar kamar mandi.


Perempuan itu melihat sang suami yang sudah berganti pakaian duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. 


"Sudah, pakai kamar mandi di sebelah," jawab Alex merujuk sebuah kamar yang biasa digunakan sebagai kamar tamu. 


"Mau makan sekarang, Mas?" tanya Nadira kemudian. 


"Yuk ... " jawab Alex seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kamar. 


Mereka berjalan beriringan dalam diam sembari saling curi-curi pandang. Tak ubahnya anak muda yang sedang kasmaran, tapi takut untuk menyampaikan karena banyak pertimbangan. 


Hanya ada meja kosong di sana tanpa ada makanan tersisa. 


"Yah wajar sih, udah hampir tengah malem. Pasti sudah dibereskan oleh Bi Mimah," ucap Alex datar. "Mau cari makan di luar?" tawar Alex kemudian. 


"Udah malem begini, palingan yang buka makanan cepat saji. Kamu kan enggak suka makanan cepat saji," ucap Nadira sembari mengerucutkan bibir. 


"Kamu masih inget aja," timpal Alex semringah. 


Ada perasaan hangat mengalir di hati Alex hanya karena mendapati Nadira masih mengingat sesuatu tentang dirinya. 


"Kalau akau masakin aja, mau?" tanya Nadira ragu. 


"Emang kamu bisa masak," Alex menyipitkan mata seolah tak percaya.


"Yah, kalau masakan sederhana aja sih bisa, Mas. Tinggal di kontrakan kecil ngajarin aku banyak hal. Mau enggak mau, aku harus belajar masak supaya bisa survive. Lebih irit," cengir Nadira. 


"Sesulit itu hidup kamu di kontrakan?" tanya Alex bersimpati. 


Nadira hanya menjawab pertanyaan Alex dengan senyuman. Ada rasa malu yang menggerayangi jika Nadira harus menceritakan masa kelam dalam hidupnya. Ia tak ingin Alex mengasihani dirinya dengan cerita pahit itu. 


"Aku bersyukur, Mas, pernah melewati masa itu. Karena di situ aku belajar banyak hal," ucap Nadira dengan suara agak bergetar. 


Perempuan itu mengalihkan perhatiannya dengan membongkar isi kulkas. Mencari bahan masakan yang bisa ia olah untuk makan malam mereka. Ia tak ingin Alex menyadari pelupuk matanya sudah mulai mengabut kembali.


"Terkadang kita memang harus merasakan pahitnya hidup agar kita bisa belajar dari kesalahan yang pernah kita buat," desah Alex menyadari bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua.


Untung saja ia mendengar setiap pembicaraan Nadira dengan temannya di dalam ruangannya tadi siang. Jika tidak, tentu Alex tidak akan percaya dengan semua yang diucapkan oleh Nadira saat ini.


Hanya saja, masih ada satu hal yang masih mengganjal dalam diri Alex. Bagaimana mencari tahu, rencana apa yang sedang Nadira siapkan. Dan untuk apa itu semua.