
"Gue kangen hang out bareng lu," celetuk Vanya dengan wajah memelas.
"Gue juga, pengen seru-seruan bareng. Tapi untuk sementara jangan sampai lengah. Takut Genta curiga."
"Ya udah lah. Gue mau balik aja deh. Mau ngajak lu hang out juga gak bisa. Di sini juga gak enak. Dari tadi dipelototin mulu," ucap Vanya cuek seraya menyambar tasnya di atas meja bersiap untuk meninggalkan ruangan Alex.
"Siapa yang melototin elu?" tanya Nadira menaikkan kedua alisnya.
Mata Nadira spontan melirik Alex yang terlihat menggosok-gosok dagunya. Namun, pria itu terlihat santai. Sama sekali tidak sedang memelototi Vanya.
"Lu gak nyadar apa? Hawa di sini dingin, sampai nusuk ke tulang dinginnya. Gue berasa ada yang berharap gue cepet-cepet cabut dari sini," desis Vanya kemudian.
"Apa sih lu? Ga jelas deh. Gak ada yang pengen lu buru-buru cabut dari sini."
Vanya meraih tubuh Nadira. Memeluknya sebentar sebelum mendaratkan pipinya di pipi Nadira.
"Tuh, yang di belakang gue dari tadi udah gelisah kayanya," ledek Vanya seraya tergelak.
"Gue balik dulu, ya. By ...." ucap Vanya pada Nadira.
Wanita itu lantas mengalihkan tatapannya pada Alex yang terlihat santai dan cuek.
"Thanks udah minjemin ruangan lu. Jangan lupa janji lu buat back up gue," desis wanita itu pada Alex seraya beranjak pergi meninggalkan ruang kerja suami temannya itu.
"Gue anter lu ke bawah deh," ucap Nadira seraya berdiri hendak menyusul Vanya.
"Gak usah. Tar bisa-bisa gue di telen idup-idup sama laki lu," ledek Vanya seraya terbahak-bahak.
"Tuh anak emang dari dulu gak jelas," desis Nadira kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Kamu mau apa, Mas?" cicit Nadira gugup.
"Mau melanjutkan yang tadi tentu saja," ucap Alex dengan sorot mata mulai mengabut.
"Mas, kamu lupa kita lagi dimana?" pungkas Nadira dengan bibir bergetar.
Jantung Nadira berdegup cepat, dengan wajah merona hingga ke telinga. Ada berjuta rasa mengumpul dalam dada. Nadira mencoba mendorong tubuh Alex menjauh, tapi kedua lengan kokoh Alex justru merengkuhnya lebih erat.
Bukannya menjawab pertanyaan Nadira, pria itu justru mendaratkan kecupannya di bibir Nadira. Memainkan bibir itu yang terasa manis di bibirnya.
"Mas, jangn gila ini di kantor," bisik Nadira saat Alex melepas ciumannya.
"Memangnya kenapa kalau di kantor? Ini kantor ku. Tidak akan ada yang berani menegurku, apapun yang mau aku lakukan di dalam kantor ku," bisik Alex dengan suara terdengar semakin berat.
Lelaki itu kembali membenamkan wajahnya di balik baju Nadira yang sudah berantakan.
"Mas," lirih Nadira mencoba menghentikan aktivitas Alex di atas tubuhnya.
Ada rasa malu menjalar di dalam dada, mengingat di mana mereka berada saat ini. Namun, bersamaan dengan itu, rasa mendamba juga memenuhi setiap sel di tubuhnya. Nadira menggigit bibirnya berlahan. Mengumpulkan segala logika yang masih bersarang di kepala. Logika yang lumpuh perlahan digantikan naluri yang menggebu.
Beruntung suara ketukan pintu membuat Alex menghentikan keinginannya yang sulit dibendung. Nadira memanfaatkan kesempatan itu dengan mendorong Alex menjauhi tubuhnya. Namun, pria itu tak berniat melepaskannya. Membuat Nadira salah tingkah.
"Saya sedang tidak mau diganggu," tegas Alex tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah Nadira yang sudah merah padam.
*************************************
masih mau nambah gak guys?? tegor aku yak kalau aku sampe kelewatan nulisnya.. ikut kebawa suasana ini... wkwkwkkwkwwkkkk