
Kasak-kusuk teman-temannya menghadirkan rasa penasaran di hati Aviva yang langsung melebarkan langkahnya. Spontan kaki Nadira turut bergerak cepat mengikut Aviva yang sudah tak sabaran melihat apa yang tengah terjadi.
Nadira terperangah saat melihat seorang pemuda berdiri sambil bercanda dengan Rani di meja resepsionis. Di tangannya terdapat sebuket mawar merah cantik yang menyegarkan mata. Meski pria itu hanya menampakkan punggungnya, Nadira tahu dengan pasti siapa pria tersebut.
"Cie, yang kedatangan pangerannya," ledek Jono pada Rani.
"Hampir aja gue ngira lu gak demen cowok, Ran. Habis gak pernah keliatan jalan bareng cowok sih," timpal Irfan seraya tergelak.
Baru saja Denis akan menimpali ucapan teman-temannya, tapi mulutnya tertahan saat menyadari siapa lelaki yang tengah mengobrol santai dengan wanita yang tengah mereka ledek.
Lelaki tersebut tersenyum manis ke arah mereka. Membuat semua orang terperangah bahwa ia bisa menyunggingkan senyum yang selama ini hanya menampakkan wajah yang dingin dan datar.
Para pria yang tadi meledek Rani saling sikut, saat melihat Alex berdiri dengan santainya di sana. Mereka langsung berubah jadi canggung dan cengengesan di hadapan Alex.
"Sore, Pak Alex," sapa Aldi seraya berjalan mendekati Alex dan mengulurkan tangannya.
"Sore," jawab Alex santai menerima uluran tangan Aldi.
Aldi nampak salah tingkah di hadapan Alex. Jika mengikuti hati, ingin sekali dia menanyakan maksud kedatangan pria di hadapannya itu. Namun, melihat sebuket mawar di tangan Alex, membuat Aldi mengurungkan niatnya. Aldi tentu bisa menebak bahwa tujuan kedatangan sang big bos kali ini tak ada hubungannya dengan pekerjaan.
"Mawar yang cantik," ucap Aldi basa-basi.
"Saya mau ajak istri saya nge-date. Sepertinya gak lengkap kalo tanpa mawar," ucap Alex tanpa melepaskan senyum di bibir.
Sontak saja para pria itu membulatkan mata saat Alex menyebutkan kata istri dengan santainya. Mereka serempak mengerutkan dahi saat menyadari bahwa Alex datang ke kantor mereka untuk menemui istrinya.
"Istri Pak Alex kerja di sini?" sambar Jono tak dapat menahan rasa penasarannya.
"Mas Alex sudah lama? Kenapa gak kasih tau kalau mau kesini?" ucap Nadira dengan cengiran lebar saat menyadari pandangan teman-temannya tertuju padanya.
"Kalau aku kasih tau, gak suprise dong jadinya," ucap Alex mendekati Nadira dan menyerahkan buket mawar pada Nadira.
"Tapi hari ini, kita udah janjian mau jalan bareng. Habis aku gak tau kamu mau jemput ke sini. Jadi aku iya-in ajakan temen-temen."
"Eh, gak apa-apa kok, Nad. Kita bisa nongkrongnya besok-besok aja," ucap Aldi cepat.
"Iya bener. Besok aja kita jalan bareng. Gue juga belom ijin sama suami mau nongkrong dulu habis kerja," timpal Ais.
"Iya santai aja, Nad. Kan jarang-jarang Pak Alex jemput buat ajak nge-date," ucap Aviva seraya mendorong Nadira lebih mendekat ke Alex.
"Eh, seriusan?" tanya Nadira tak enak hati.
"Iyah serius, sudah sana jalan," usir Ais cepat.
"Ini beneran Nadira istrinya Pak Alex?" celetuk Denis dengan wajah cengok.
"Diem lu," ucap Irfan menyikut Denis agar tak melakukan sesuatu yang akan temannya itu sesali nantinya.
Pun dengan Aviva dan Ais yang sudah memelototi Denis agar ia menutup rapat mulutnya. Pria yang di serang oleh teman-temannya itu bersamaan hanya bisa menunduk dalam-dalam.
"Kalau gitu kita duluan yah," ucap Nadira pada teman-temannya.
Semua temannya kompak melambaikan tangan pada Nadira. Sementara Alex hanya menyunggingkan senyum seraya melingkarkan tangannya di bahu Nadira. Mereka nampak mesra berjalan beriringan menuju parkiran.