PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 113#



Nadira mengurai senyum menggantikan gundah yang sejak siang ia rasa. Senyum itu tak pernah pudar dari bibir tipisnya setelah menikmati makan malam tak biasa dengan suaminya. 


Hanya makan malam sederhana, tapi rasanya sungguh luar biasa. Dengan langkah riang ia berjalan bersisian dengan Alex kembali menuju kamar mereka. 


"Aww … " jerit Nadira tiba-tiba.


Baru saja wanita itu menutup pintu kamar, tangannya sudah ditarik oleh Alex hingga membuatnya limbung ke dalam pelukan sang suami. 


"Mas, kamu kenapa narik tangan aku tiba-tiba sih?" 


"Apa kamu tahu, kamu membuat Nino mendapatkan kesempatan untuk memarahi ku. Dan dia sepertinya sangat menikmati bisa memarahi ku," bisik Alex serak di telinga Nadira.


Pria itu membelit kedua tangannya di pinggang Nadira dengan erat. Ditambah lagi suara sexy dengan ******* nafas menyapu telinga Nadira membuat bulu kuduk wanita itu meremang.


"Kenapa Nino marahin kamu karena aku?" tanya Nadira gugup. 


"Karena hari ini kamu membuat ku jadi tidak bisa konsentrasi saat bekerja," desah Alex masih belum menyingkirkan bibirnya dari telinga Nadira. 


"Aku memangnya ngapain kamu?" tanya Nadira pura-pura tak tahu apa yang dimaksudkan oleh Alex. 


Tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri, Alex langsung mendaratkan bibirnya persis di bawah telinga Nadira. Ia bermain-main di sana hingga membuat pertahanan Nadira melemah. 


Tentu saja aksinya tak sampai di situ. Alex langsung membopong Nadira tanpa melepaskan bibirnya dari leher istrinya. Memberikan stimulasi agar wanita itu sadar dengan konsekuensi dari tindakan menantangnya hari ini. 


"Mas, kamu mau apa? Aku belom mandi," ucap Nadira berusaha mengembalikan akal sehatnya yang mulai mengabur karena sentuhan yang di berikan oleh Alex. 


Alex seakan menggila di atas tubuhnya, menularkan kegilaan itu pada Nadira. Hingga wanita itu tak lagi mampu berkata apalagi memprotes tindakan suaminya. 


"Mas, boleh aku bertanya sesuatu pada mu?" tanya Nadira dalam pelukan suaminya.


"Mau tanya apa?" Alex membelai lembut rambut Nadira yang tergerai di atas dadanya. 


"Soal tadi siang," ucap Nadira ragu seraya mengangkat kepalanya agar bisa menatap sang suami. 


Alex nampak menarik nafas panjang sebelum mengembuskan perlahan. Ia menyadari perubahan raut wajah Nadira tadi siang. Tentu saja ia tak heran jika istrinya itu menebak apa yang sedang terjadi di perusahaan. Hanya saja ia tak tahu bagaimana harus menyampaikannya pada Nadira. 


"Bagaimana, kalau sekarang kita mandi dulu?" ucap Alex mengalihkan perhatian Nadira. "Aku belum pernah merasakan dimandikan oleh istri ku ini," ucap Alex membuat rona merah muda menjalar di pipi Nadira. 


Namun, dengan cepat Nadira bisa menguasai diri. Ia memberikan senyum termanisnya pada Alex sembari menatap mata suaminya. 


"Aku tahu, kamu hanya sedang mengalihkan pembicaraan," ucap Nadira kemudian. 


Alex menangkup kan kedua telapak tangannya pada pipi Nadira. Membelai pipi itu dengan ibu jarinya yang menempel di sana. 


"Kamu yakin mau tahu soal ini?" tanya Alex dengan sorot mata serius. 


Nadira menganggukkan kepala dengan cepat. Meski keraguan sempat mendera hatinya, tapi ia harus memperlihatkan keyakinan di hadapan Alex. Apapun yang terjadi, ia akan menghadapinya dengan dagu terangkat. Ia tak akan membiarkan kebimbangan hadir dalam pernikahannya. Pernikahan yang akan ia pertahankan dengan segenap hatinya.