PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 46# Imbalan



Dengan takut-takut, Nadira melangkahkan kaki keluar kamar mandi. Kepalanya melongok ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Alex di sana. Namun hanya kehampaan yang ia dapatkan.


Meski lega tak mendapati sang suami di dalam kamar, tapi tak urung hatinya merasakan kekecewaan mendalam pada dirinya sendiri. Kecewa akan segala sikap dan tingkahnya hingga membuat Alex seolah tak betah berada di dekatnya walau hanya sekejap.


Nadira naik ke pembaringan dan merebahkan tubuhnya di sana. Ia berusaha memejamkan mata demi mengistirahatkan raga yang memang sudah merasa penat. Akan tetapi, tubuh dan pikirannya seolah tak sejalan. Isi kepala Nadira terus mengajak perempuan itu berkelana.


Memori di dalam cerebrum-nya terus memutar kejadian demi kejadian yang sudah ia lewati seharian ini. Merangkai setiap adegan yang membuat harinya jungkir balik dalam sekejap. Semua serba kebetulan yang membuat ia kini berada satu kamar lagi dengan lelaki yang sangat ingin dia hindari, entah sampai kapan.


"Haruskah aku syukuri apa yang terjadi saat ini, Mas? ataukah ini hanya satu jalan lain untuk membuatku semakin merana?" gumam Nadira pada dirinya sendiri.


Selimut yang sudah perempuan itu tarik menutupi tubuhnya, ia sibakkan kembali. Nadira lantas mengangkat tubuhnya bersandar pada dipan. Matanya celingkukan memperhatikan setiap sudut kamar suaminya. Tanpa sengaja pandangannya menangkap dua cangkir teh di atas nakas.


Seketika hatinya menghangat dan membuat bibir melengkung menampilkan senyuman. Ternyata lelaki yang masih terus memenuhi mimpi-mimpi di tiap malam, masih perduli padanya.


Sebagai bukti, Alex tak melupakan kebiasaan mereka. Hampir setiap malam Alex membuatkan mereka berdua teh hangat dicampur madu setelah lelah beraktivitas seharian. Setelah itu mereka akan berbincang santai. Meski terdengar sepele, tapi Nadira sangat merindukan suasana seperti itu.


Perlahan Nadira menghampiri nakas dan membawa satu cangkir menempel ke bibirnya. Dengan perasaan membuncah, Nadira menyesap teh yang sudah mulai terasa dingin.


"Kamu belum tidur?" tanya Alex mengagetkan Nadira. Ia sama sekali tak menyadari sejak kapan Alex memasuki kamar.


"Belum ngantuk Mas," jawab Nadira asal sembari mencoba untuk bersikap setenang mungkin.


Diletakkannya kembali cangkir itu di atas nakas dan mendaratkan pinggulnya di atas dipan.


"Kurasa tehnya sudah dingin," ucap Alex terdengar basa basi.


Hati Nadira kian membuncah saat Alex turut mengambil satu cangkir lagi dan membawa cangkir itu ke sudut ruangan. Lelaki itu tampak khidmat menyesap teh di tangannya.


Nadira merasa begitu bahagia dapat mengulang kembali hal kecil dalam kehidupannya sebagai istri Alex. Berbincang hangat sebelum mereka benar-benar terlelap.


Dulu, Nadira bersedia meladeni keinginan Alex menutup hari dengan berbincang, hanya untuk meraih simpati lelaki itu. Namun, hal itu ternyata meninggalkan kesan mendalam dalam diri perempuan itu. Ia justru menikmati kebersamaan mereka di setiap malamnya.


Entah sejak kapan, hatinya melunak dengan segala kehangatan yang Alex curahkan. Sehingga perlahan tapi pasti, obsesinya pada Ravka terkikis begitu saja.


Sayangnya, saat ia menyadari betapa berharga Alex dalam kehidupannya, semua sudah terlambat. Tergantikan dengan penyesalan yang teramat dalam.


"Terima kasih atas semua pertolonganmu hari ini, Mas," ucap Nadira memecah kebisuan yang sudah lewat beberapa menit.


"Bukankah sudah aku katakan, aku akan meminta imbalan untuk semua yang sudah aku lakukan?!" ucap Alex sinis.


Kebekuan hati Alex seolah memancarkan aura dingin yang menyusup ke dalam hati Nadira. Membuyarkan segala angan indah yang sempat bersemayam di sana beberapa saat lalu. Kebahagiaan yang sempat menyapa hati berganti dengan rasa malu teramat dalam.


"Kamu pikir kamu pantas untuk dimaafkan, Nad? jangan mimpi ketinggian Nadira. Sadarlah, kamu tidak layak mendapatkan perhatian lebih dari Mas Alex," maki Nadira dalam hati pada dirinya sendiri.


"Imbalan seperti apa yang kamu harapkan dari aku, Mas?" tanya Nadira sendu.


Ia sama sekali tak dapat membayangkan, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Alex. Sementara saat ini ia sudah tak punya apa-apa lagi. Bahkan harga diri yang selalu ia junjung tinggi sudah hancur berkeping-keping.