
Setelah beberapa waktu Alex dan Nadira sampai di komplek perumahan Ferdi Adijaya. Di sana orang suruhan Alex udah menunggu kedatangan sepasang suami istri tersebut.
Nadira berupaya memaksakan diri untuk terlihat tenang sehingga Alex tak lagi mengkhawatirkannya. Wanita itu nampak celingukan mencari keberadaan Vanya. Namun, orang suruhan Alex yang bernama Rico tersebut hanya sendirian.
"Dimana Vanya?" tanya Nadira tanpa berbasa-basi.
"Nona Vanya sudah masuk ke dalam rumah, Non."
"Kenapa tidak menunggu kami datang?" ketus Nadira mulai tegang.
"Maaf Non. Tadi Nona Vanya memaksa untuk segera menyelesaikan misi."
"Sudah lama Vanya masuk ke dalam?" sambar Alex.
"Sudah Tuan. Nona Vanya di dalam sudah hampir setengah Jam."
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Alex lagi dengan raut wajah ikut tegang.
"Nona Vanya sekarang sudah berada di dalam kamar Nona Nadira," jelas Rico seraya menyerahkan dua benda seperti bluetooth earphone kepada Alex serta Nadira.
Alex menerima benda tersebut dan memasangkan salah satunya ke telinga Nadira. Lantas memasang yang satu lagi pada telinganya sendiri.
"Ini apa, Mas?" tanya Nadira pada Alex sesaat setelah sang suami memasangkan bluetooth earphone ke telinganya.
Sementara di dalam rumah tak jauh dari mobil Rico terparkir, wajah Vanya nampak pias.
"Apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan akal bulus mu?" Genta mengulang pertanyaannya.
"Maksud lu apa?" tanya Vanya menantang.
Perempuan itu menatap Genta nyalang. Matanya tampak memerah menahan emosi. Setiap kali melihat pria di hadapannya ini, selalu memantik emosi dalam diri Vanya. Pria ini terlalu menyebalkan untuk menjadi kakak sahabatnya.
Seharusnya sebagai kakak laki-laki dari seorang adik perempuan, ia berdiri di depan Nadira berusaha melindungi wanita itu mati-matian. Namun, Genta malah melakukan hal sebaliknya. Pria di hadapannya ini justru seringkali menjerumuskan Nadira untuk melakukan hal yang tak masuk akal dan membuat Nadira terpuruk dan berakhir dengan menyedihkan.
"Kamu pikir saya akan percaya begitu saja sama kamu?" desis Genta seraya membalas tatapan tajam Vanya.
Air mata sepertinya masih menjejak di pipi wanita itu. Pun dengan mata serta hidung yang memerah. Akan tetapi, Genta tahu persis jika semua itu hanyalah bagian dari akal-akalan Vanya yang berusaha menerobos masuk ke kamar adik perempuannya.
Ia mengingat dengan jelas bagaimana Vanya histeris dan menyalahkannya atas semua yang terjadi pada Nadira saat ini dengan berbagai cerita yang di dramatisir. Sayangnya, Genta tahu betul jika saat ini hidup adiknya jauh dari kata sengsara. Itu berarti, tindakan Vanya pasti di dasari dengan tujuan terselubung. Sengaja mengkonfrontasi dirinya untuk mencapai tujuannya yang belum bisa Genta tebak.
"Saya akui, acting kamu cukup bagus. Kamu sangat menjiwai saat melakukannya. Sayangnya saya bukan orang tolol yang gampang dibodohi oleh anak kemarin sore."
"Sekadar informasi untuk anda, Tuan Genta yang terhormat," dengkus Vanya kesal seraya melemparkan tatapan permusuhan. "Gue sama sekali gak berakting. Apa yang gue omongin soal lu yang berengsek itu, semuanya benar. Elu memang sumber kesengsaraan temen gue. Harusnya lu kadi orang yang berdiri paling depan untuk ngelindungi adik lu sendiri. Tapi anehnya, Nadira justru harus dilindungi dari lu."
Genta menatap Vanya dengan rahang mengetat. Jujur saja Genta angkat topi dengan keberanian perempuan di hadapannya ini. Namun, perempuan itu harus diajarkan arti kata takut sehingga tidak lagi sembarangan bersikap di depan orang yang bukan tandingannya.