PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
Masih numpang yah guys..



Masih promo yuh guys... cuma malam ini ajah...besok enggak kok... hehheeeee... sorry yah yang gak berkenan silahkan skip ajah....


yang nanya tayang dimana... ini tayang di Kuda ungu (******/i*novel --- masih free yuh guys.. karena baru nulis di sana jadi sistem gembok masih lama menyapa aku.. jadi masih aman buat kalian yang mau baca tapi berat di koin)


judul : LOVE HURTS


By : Tsabitah


Bab 2 - Love Hurts


"Sayang, kamu ngelamun? Senyum dong. Tamu-tamu ngeliatin kamu terus dari tadi," ucap Danisa seraya tersenyum bahagia. 


Reno hanya menganggap angin lalu semua kata yang keluar dari mulut wanita yang kini telah berstatus sebagai istrinya. Pun dengan sentuhan yang wanita itu layangkan selalu ia tepis dengan kasar. 


Danisa hanya terpaku di tempatnya. Menyerah melayangkan bujuk rayu pada Reno di atas pelaminan. Lelah dengan segala sikap dingin pria itu yang menjadi tontonan semua tamu undangan. 


Tak sepatah kata keluar dari mulut Reno, meski hanya sebuah penyangkalan atau makian pada Danisa. Wanita itu merasa benar-benar terabaikan.


"Baiklah Reno, kali ini aku mengalah. Tapi setelah ini, aku tak akan menyerah. Mulai malam ini aku akan membuat kamu hanya melihat padaku," janji Danisa dalam hati. 


Sementara pikiran Reno berkelana jauh. Ia memikirkan Kara yang sudah dua hari tak ditemuinya. Rasa rindu pada wanita itu semakin menjadi-jadi. 


"Kara?!" desis Reno membuat mata Danisa mendelik tajam. 


Satu kata yang keluar dari mulut lelaki itu, adalah satu kata yang tak ingin Danisa dengar. Nama itu memantik emosi dalam dirinya. Jika saja, tak banyak orang di dalam ruangan megah ini, sudah pasti wanita itu akan marah. Namun, ia hanya bisa menyimpan semua emosi yang memuncak dalam hati.


Ekor mata Danisa mengikuti arah pandang Reno yang tak berkedip. Sosok wanita ia dapati di ujung tangga. Wanita itu melenggang anggun naik ke atas pelaminan. Danisa tak dapat memungkiri, kecantikan wanita itu terpancar meski dalam balutan pakaian sederhana.


"Selamat untuk pernikahan kalian. Aku doakan kalian langgeng dan bahagia selamanya," ucap wanita itu lembut saat sudah berdiri tepat di depan kedua mempelai. 


Kara melempar senyum tulus pada pasangan pengantin di hadapannya. Namun, tak ada sahutan dari keduanya. Baik Reno maupun Danisa hanya diam seribu bahasa dengan ekspresi yang sukar untuk dibaca. 


Hingga wanita itu berlalu pergi dan tak lagi terlihat keberadaannya. Kemunculan wanita itu membuat Reno gelisah. Matanya bergerak liar mencari keberadaan Kara di dalam ruangan megah dipenuhi ratusan orang di dalamnya. Namun, tak ia dapati sosok wanita yang dicintainya ada di sana. 


"Kenapa kamu datang kesini Kara? Darimana kamu tahu kalau aku menikah hari ini? Apa yang kamu pikirkan saat ini, Sayang?" sejumlah tanya berkejaran dalam benak Reno. 


Ketakutan menyeruak dalam hati. Ia khawatir dengan apa yang akan dilakukan Kara setelah ini. Sejak pertunangannya enam bulan yang lalu, Kara berkali-kali ingin mengakhiri hubungan mereka. Meski Reno selalu bisa mencegah kepergian Kara, tapi kali ini ia tak berdaya. 


Senyum Kara meninggalkan banyak tanya. Membuat ketakutan akan kehilangan wanita tercintanya semakin menguasai jiwa. 


"Danisa, kamu ajak Reno kembali ke kamar kalian. Sepertinya Reno kelelahan, wajahnya terlihat pucat. Lagipula tak ada lagi tamu undangan yang datang," perintah Harlan pada menantu barunya. 


Harlan sadar betul, apa yang membuat wajah anaknya pias. Namun, ia tak memperdulikannya. Harlan yakin, Danisa dapat menghapus nama Kara di hati putranya. Meski tak menyukainya, tapi ia senang akan kehadiran Kara. Itu menandakan, wanita rendah itu tau kedudukannya. 


"Baik, Pa. Kami kembali ke kamar dulu," jawab Danisa dengan senyum semakin mengembang di bibirnya. 


Danisa menggandeng Reno dan membawanya kembali ke kamar yang disediakan pihak hotel, khusus untuk bulan madu pasangan pengantin yang melaksanakan resepsi di hotel mereka. 


"Sayang, kamu capek yah? Mau mandi sekarang? Biar aku siapin air hangat," ucap Danisa seraya tersenyum manis. 


Danisa mencoba mengabaikan sikap dingin suaminya. Hal yang bisa ia lakukan hanyalah berbuat sebaik mungkin untuk mengambil hati lelaki itu. Namun, lagi-lagi hanya kebisuan yang diperlihatkan oleh Reno. 


"Reno !" hardik Danisa habis kesabaran.


Reno bahkan tak menoleh sama sekali pada Danisa. Ia mengambil pakaian dari dalam kopernya dan membawanya ke kamar mandi. Tanpa sedikitpun memperdulikan Danisa, seolah-olah wanita itu tak ada di hadapannya. 


Setelah membasuh wajah dan mengganti pakaian, Reno dengan cepat keluar kamar mandi. Mengambil ponsel, dompet juga kunci mobil yang ia letakkan di atas nakas.


"Kamu mau kemana, Reno? Kamu tidak akan meninggalkan ku di malam pengantin kita kan? Iya kan?!" ucap Danisa dengan suara bergetar. 


"Sudah berkali-kali saya katakan. Kamu hanya menggali lubang kuburan mu sendiri, jika terus memaksakan pernikahan ini," ucap Reno dingin, pun dengan tatapannya yang tak kalah dingin.


Reno tak memperdulikan air mata Danisa yang sudah membanjiri wajah cantiknya. Wajah yang sudah berjam-jam di poles hingga menambah kecantikannya menjadi berkali lipat. Namun, tak sedikitpun menarik perhatiannya. 


Setengah berlari, Reno membawa langkahnya untuk menemui Kara di rumah wanita itu. Wanita yang terus mengganggu ketenangannya, sejak kehadiran wanita itu di resepsi pernikahannya.


"Aku mohon Kara. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku," gumam Reno berulang, seolah merapalkan mantra. 


Reno memacu kendaraannya dengan cepat menembus jalanan Ibu Kota. Berkali-kali ia membunyikan klakson dengan tak sabar. Berharap dengan begitu, semua kendaraan lain minggir dan memberikan jalan untuknya. Namun, Ini adalah Jakarta. Semua orang sibuk dengan urusannya. Tak ada yang mau mengalah hingga membuat Reno diambang batas kesabarannya.


Jantungnya berdetak kian cepat, memukul rongga dadanya hinga berdentum. Reno semakin gusar seraya melihat pergelangan tangannya. Malam kian pekat, sepekat hatinya karena memikirkan Kara. 


Kara … Kara … Kara. Hanya satu nama itu yang terus membuat jantungnya berdetak kian memburu.


"Kenapa kamu datang, Kara? Kenapa kamu tersenyum menyaksikan pernikahanku? Apa kamu akan merelakan ku begitu saja? Tidak Kara, tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi," gumam Reno seraya memukul setir mobilnya frustasi.


Ketakutannya semakin menjadi saat ia sampai di depan rumah Kara. Rumah itu nampak gelap gulita. Tak ada tanda kehidupan di sana. Pencahayaan hanya berasal dari lampu jalan serta rumah tetangga. Reno melompat keluar dari mobil dengan tergesa.


"Kara … Kara, buka pintunya," jerit Reno seraya menggedur pintu rumah Kara. "Aku tahu kamu pasti ada di dalam kan? Kalau kamu gak buka, aku dobrak pintunya," jerit Reno semakin menjadi. 


Keraguan memeluknya seketika. Membuat Reno semakin gusar. Baru saja ia akan mendobrak pintu itu, cahaya lampu dari ruang tamu menghentikan niat Reno. Ia lantas menggedur pintu itu semakin kencang.


"Kara itu kamu kan, Sayang? Kara jawab aku," jerit Reno tak sabar. 


Namun, tetap tak ada sahutan dari dalam rumah membuat hati Reno kian gelisah. Hingga ia melihat Kara berdiri di balik pintu yang baru saja wanita itu buka.


"Thanks God, kamu ada di rumah," ucap Reno seraya memeluk Kara dengan erat. 


Perasaan lega ia curahkan dengan mendekap erat tubuh Kara yang seakan lemah tak berdaya. Ia lantas mendorong wanita itu melewati pintu depan dan menyudutkannya ke dinding. Reno melabuhkan bibirnya di setiap jengkal wajah Kara, demi melampiaskan resah yang sedari tadi melanda. Ia kemudian memagut bibir wanitanya dengan penuh perasaan. 


Ciuman itu membuat Kara lupa akan kesedihannya yang memberikan rasa perih tak terperi. Ia kembali hanyut dalam buaian bibir pria yang tak layak lagi ia sebut sebagai kekasih. Menikmati setiap rasa yang Reno curahkan melalui pertautan bibir mereka.


Bibir pria yang tengah melancarkan aksinya itu semakin menuntut, bergerak liar hingga turun ke leher jenjang Kara. Namun, wanita itu tiba-tiba mendorong tubuh Reno, menghentikan aksi pria itu. 


"Ada apa Kara? Apa kamu tak merindukan ku?" tanya Reno dengan mata sendu.


Kara bukannya tak merindukan sentuhan Reno yang memabukkan. Namun, kini ia harus bisa menahan hasratnya yang membakar. Reno sudah jadi milik wanita lain. Ia tak lagi berhak atas apapun yang ada pada Reno, baik tubuh maupun perhatiannya.


Kara tak mau menjadi duri dalam pernikahan Reno dan Danisa. Ia tak akan bisa bahagia di atas penderitaan wanita lain, apalagi merebut malam pengantin wanita itu.


"Pulang lah Reno. Istrimu menunggumu. Kamu tidak boleh meninggalkannya sendirian. Ini malam pengantin kalian," desah Kara seraya menahan isak.


Mata wanita itu kembali memerah. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tak lagi tumpah. Sudah berjam-jam ia mengurangi sesak di dada dengan membiarkan air matanya mengalir deras. Namun, bulir bening itu tak juga mengering. 


"Aku ingin melewati malam ini bersama kamu," ucap Reno tegas. 


"Aku tak bisa Reno. Tidak untuk malam ini," ucap Kara berusaha tegar. 


"Baiklah, aku tak akan memaksa. Tapi aku tetap akan bersamamu malam ini. Aku hanya ingin memelukmu semalaman. Apa itu juga tidak boleh?" 


"Terserah kamu saja. Toh kamu selalu melakukan apa yang kamu mau."


Kali ini Kara akan mengalah. Ia tak kuasa mengusir Reno pergi dari sini. Lagipula setelah ini, ia akan menghilang dari hidup Reno. Jadi untuk terakhir kalinya, ia akan mengabulkan keinginan pria itu. Ia akan mengingat malam ini sebagai kenangan terindah yang akan menguatkannya untuk menapaki kehidupan sulit tanpa Reno di sisinya.


Bab 3 - Love Hurts


Reno masih menatap Kara dengan intens. Diletakkannya jemari tangannya di wajah Kara. Menyusuri setiap inci wajah cantik nan ayu milik wanita terkasihnya.


Mereka hanya berbaring sambil berhadapan di tempat tidur. Seperti yang Reno janjikan, ia tak akan menyentuh Kara malam ini sesuai permintaan kekasihnya. Pria itu memaklumi, karena mengganggap Kara masih butuh waktu


untuk menata hati setelah pernikahannya dengan Danisa. 


Saat ini ia hanya ingin menatap Kara dengan puas. Meski wajahnya terlihat kacau dan berantakan, tapi di mata Reno, Kara tetaplah wanita yang paling cantik dan terlihat manis. Hati Reno terenyuh saat menatap hidung wanita itu yang memerah serta matanya yang bengkak akibat menangis berjam-jam. Pun dengan alisnya yang turut memerah. 


"Maaf, sudah membuatmu jadi seperti ini," lirih Reno tiba-tiba.


"Bukan salah mu. Aku yang terlalu rapuh," balas Kara seraya tersenyum. 


Bibirnya menyunggingkan senyum yang bertolak bekang dengan hatinya yang masih terasa perih. Bukan karena menyaksikan pernikahan pria di hadapannya ini yang membuat Kara tak berhenti menangis. Namun, karena keputusannya sendiri yang hendak meninggalkan Reno. 


"Sudah malam Reno, sebaiknya kamu cepat tidur. Kamu pasti lelah setelah seharian ini …."


Reno meletakkan telunjuknya di bibir wanitanya, menghentikan Kara melanjutkan apa yang hendak ia katakan.


"Aku tidak mau kita membahas apapun yang tidak ada hubungannya dengan kita berdua," ucap Reno penuh kelembutan. 


Pria itu mendaratkan ciumannya di dahi Kara. Menyesap kulit lembut Kara dan menghidu aroma tubuhnya yang menjadi candu.  


"Aku hanya ingin kita menikmati waktu berdua malam ini. Hanya ada aku dan kamu. Aku hanya ingin menatapmu, mencium aroma tubuhmu, mendengar desah nafasmu. Memastikan bahwa kau akan selalu bersama ku."


Ia menumpangkan dagunya di puncak kepala Kara sembari memainkan rambut panjangnya yang tergerai.


"Bukankah kamu sudah melihatku. Aku di sini bersamamu."


"Tapi entah mengapa aku merasa bahwa kamu berniat meninggalkan ku."


"Kamu terlalu banyak berpikir." 


"Apa kamu bisa merasakan debaran jantung ku? Setiap debaran itu meneriakkan namu mu, Kara. Aku benar-benar takut kehilangan kamu," bisik Reno tak berdaya. 


Kara bisa merasakan jantung Reno berdetak lebih cepat dari biasanya. Pun bisa merasakan pelukan posesif yang dilayangkan oleh Reno. Membuat Kara merasakan betapa ia begitu dicintai oleh pria yang tak berani lagi ia akui sebagai kekasih. Sekuat tenaga, Kara menahan perasaannya agar tak melemahkan niatnya. 


"Ren … kenapa kamu tak belajar mencintai Danisa? Mungkin kamu bisa mencintai dia melebihi cintamu padaku. Dia wanita yang sempurna untuk dicintai," ucap Kara dengan detak jantung yang memburu. 


Ternyata teori memang tak semudah praktek. Kara bertekad untuk meminta Reno belajar mencintai Danisa. Namun, ia tak menyangka, hatinya bisa sesakit ini saat mengatakannya. Matanya mulai berembun menahan sesak yang kembali menghantam dada.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" ucap Reno dengan suara bergetar.


Kara menarik tubuhnya dari dekapan Reno. Mencoba menantang dirinya sendiri dengan menatap mata pria itu. Akan tetapi, kedalaman mata Reno semakin membuat hatinya merana. Sekuat tenaga ia menahan isak tangis yang sudah sampai di tenggorokan.


"Jawab aku Kara Anggraini. Apa maksud ucapan mu? Katakan sekali lagi kalau kamu memang menginginkan aku mencintai wanita lain," geram Reno memaku kedua manik mata Kara.


Reno mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Menatap Kara dengan penuh emosi. Reno membenci pendengarannya. Ia menyesali perkataan itu keluar dari mulut wanitanya. Ia tak tahu lagi bagaimana meyakinkan Kara, bahwa cintanya hanya untuk wanita itu semata. 


Namun, Kara seolah tak mau memahami keputusan yang ia ambil demi kelangsungan hubungan mereka berdua.


Tak lama lagi, Harlan Pradipta, lelaki tak berhati itu akan menyerahkan semua kekuasaan Pradipta Group ke tangannya. Setelah itu Harlan tak lagi punya kuasa atas dirinya. Ia akan terlepas dari bayang-bayang lelaki ambisius itu. Setelah itu ia akan bebas melakukan apapun yang dia kehendaki tanpa campur tangan lelaki tua itu lagi.


"Bagaimanapun, kalian sudah menikah. Setidaknya beri kesempatan pada dirimu sendiri juga Danisa untuk mencoba. Pernikahan bukan permainan, Reno," ucap Kara bergetar. 


Lelehan bulir bening itu tak lagi mampu Kara tahan. Mengalir begitu saja di kedua pipinya. Semakin ia berusaha meyakinkan Reno, maka semakin bertambah pula irisan sembilu di hati. Sakit sekali, hingga Kara tak mampu menahannya.


"Mengapa Kara? Mengapa kamu begitu ingin aku belajar mencintai Danisa? Apa cinta yang ku curahkan untukmu tak cukup untuk kamu bertahan di sisiku? berjalan bersamaku menempuh badai sekalipun?"


Reno menatap Kara dengan tatapan menghujam. Tangannya mencengkram dagu Kara agar tak mengalihkan tatapannya. Ia ingin Kara melihat matanya. Begitu banyak emosi yang terpancar di sana. 


"Aku bertahan sejauh ini hanya demi kamu, Reno. Karena aku sadar, cintamu membuatku tak bisa berpaling. Tapi, sekarang ikatan yang lebih suci dan sakral telah melepaskan ikatan yang kita miliki. Semua tak lagi sama seperti sebelumnya," lirih Kara sambil terisak pelan. 


"Kenapa Kara, kenapa kamu begitu keras kepala?" ucap Reno melemah. 


Ia tak dapat melihat Kara menangis seperti itu karena dirinya. Kara membuatnya semakin tersiksa. Dilema dengan segala keputusan yang sudah ia ambil. Ada banyak alasan yang tak mampu Reno ungkapkan di hadapan Kara. Mengapa ia terpaksa menikahi Danisa. Namun, Reno tak mampu melepas Kara. Ia bisa gila jika kehilangan cintanya. 


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau tetap bertahan di sisiku, Kara?" ucap Reno lemah. 


Air mata turut meleleh di kedua pipi Reno. Kedua tangannya mencengkram bahu Kara dengan erat. Menyalurkan kepedihan yang ia rasakan pada wanita keras kepala di hadapannya. 


"Aku akan berikan seluruh dunia padamu setelah ini. Kamu hanya perlu bertahan sedikit lebih lama. Aku mohon padamu Kara. Aku akan kabulkan apapun permintaanmu. Tapi tidak untuk yang satu ini. Tak ada lagi cinta yang tersisa di hatiku, yang bisa kuberikan untuk wanita lain. Semuanya sudah ku serahkan padamu."


Hati Kara berdenyut perih melihat ketidakberdayaan yang Reno perlihatkan kali ini. lelaki arogan di hadapannya itu melemah. Tak ada lagi emosi membabi buta seperti biasanya. Membuat Kara jadi goyah.


Padahal ia sudah mempersiapkan diri menghadapi kemarahan lelaki itu. Reno yang emosional setiap kali ia meminta berpisah, berganti dengan Reno yang lemah tak berdaya. Membuang rasa malu dan merendah sedemikian rupa. Membiarkan tangisan mengalir di kedua pipinya. Kara tak pernah melihat Reno yang seperti ini. Tak dapar dipungkiri, hati Kara terenyuh melihatnya. 


"Reno ... maaf," ucap Kara seraya mengulurkan tangannya ke pipi Reno.


Kara membelai pipi itu, mengusap jemarinya di sana. Menggesekkan jari-jarinya di jejak air mata yang tertinggal sambil menatap Reno penuh cinta. Ia hanya ingin memberikan kebahagiaan pada pria di hadapannya itu, tapi mengapa jalan takdirnya sesulit ini?


Sudah banyak kisah yang mereka lalui tiga tahun ini. Bertahan menghadapi segala halang rintang yang menghadang. Namun, akhirnya mereka harus menyerah pada keadaan. Kara tak lagi mau memaksakan keadaan, tapi cinta Reno begitu erat membelenggunya.


"Kara kumohon mengertilah," lirih Reno sembari menangkup tangan Kara di pipinya. 


Reno memejamkan mata, menyesap setiap detik kebersamaan mereka. Membayangkan akan seperti apa hidupnya tanpa Kara. Namun, semua hanya gelap gulita. Seperti itulah hidupnya jika Kara meninggalkannya. 


Reno membuka matanya, meraih Kara dalam pelukannya. Ia mencium leher Kara dan memberikan tanda kepemilikan di setiap jengkal tubuh yang mampu ia gapai dengan bibirnya. 


"Reno, ingat janjimu," ucap Kara dengan nafas tertahan. 


"Aku akan menepati janjiku. Aku tidak akan berbuat lebih. Aku hanya ingin mencium mu, hingga kamu menyadari betapa besar rasa cintaku padamu."


Yang mau tau lanjutan ceritanya cuma ada di tetangga... Aplikasi warna ungu yang ada gambar kuda bertanduk...