PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 79#



"Mas, gimana sama mobil aku?" tanya Nadira tiba-tiba teringat mobilnya saat ditengah perjalanan. 


"Nanti biar minta tolong Dito yang ambil," jawab Alex acuh tak acuh. 


"Apa kita langsung pulang?" tanya Nadira gugup. 


"Tentu saja langsung pulang, mau kemana lagi memangnya?" tanya Alex ketus. 


Nada bicara Alex membuat Nadira mengkerut. Rasa gugup kembali menguasai jiwa dan raga. Ia tak tahu bagaimana harus menghadapi Alex. Ia sendiri tak dapat membaca pikiran lelaki itu sesungguhnya.


Namun, sikap Alex yang terus menggenggam tangannya selama di mall, membuat Nadira terenyuh. Ia merasa seolah diterbangkan ke awang dengan perasaan bahagia. 


Nadira terus memikirkan apa yang harus ia katakan di hadapan sang suami, hingga tak menyadari hal itu sungguh menyita waktu. Tiba-tiba saja ia tersadar bahwa mereka sudah memasuki pekarangan rumah keluarga Dinata.


"Cepet banget sih udah sampe?" keluh Nadira dalam hati yang merasa belum siap menghadapi Alex. 


Namun, lelaki itu seolah sudah tak sabar. Alex langsung turun dari dalam mobilnya dan melemparkan kunci mobil pada salah satu satpam di rumah keluarga Dinata agar mobilnya diparkirkan. Lelaki itu kemudian langsung melangkah masuk menuju ke kamar di ikuti Nadira di belakangnya. 


"Tenang Nadira, tenang ... " ucap Nadira dalam hati berusaha memelankan ritme kerja jantungnya yang terus bergemuruh di dalam sana. 


Baru saja Nadira melangkahkan kaki memasuki kamar, Alex sudah menarik Nadira. Ia mendorong istrinya itu ke dinding tepat di sebelah pintu dan menutup pintu menggunakan kaki.


"Apa sebenernya yang kamu inginkan? Kenapa kamu selalu mempermainkan aku?" ucap Alex seraya menghimpit Nadira hingga terpojok di dinding tanpa celah.


"A-aku ... aku ...." Suara Nadira seakan tercekat di tenggorokan. 


"Buakankah kamu ingin menjelaskan semuanya? Katakan apa yang kamu inginkan sesungguhnya?" ucap Alex terdengar frustasi.


Tatapan mata Alex membuat Nadira tak dapat menguasai diri. Darahnya berdesir dan memompa jantungnya dengan cepat. Nadira bahkan merasa jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya. 


Tatapan mata itu menyihirnya begitu dalam membuat Nadira terbuai. Satu minggu ini ia berharap bisa melihat mata ini lagi. Mata yang menatapnya penuh rindu seperti rindu yang selalu ia coba tahan selama ini. 


Nadira tak dapat menemukan kata yang bisa mewakili isi hatinya. Begitu banyak yang ingin ia ungkapkan pada lelaki di hadapannya ini. Lelaki yang membuatnya jatuh dalam jurang perasaan yang mendalam. Lelaki yang membuat ia mengenal arti cinta sesungguhnya. Cinta yang tak dilandasi ambisi. Cinta yang membawanya bertahan menghadapi segala kepahitan dan rela berkorban. 


Nadira mendekatkan diri pada Alex. Jantungnya semakin bertalu-talu memukul dadanya. Desahan nafasnya memburu. Ia tak akan membuang kesempatan kali ini. Ia akan menyatakan seluruhnya pada Alex, tapi bukan dengan kata. 


Nadira berjinjit untuk menyamai tingginya dengan Alex lantas memejamkan matanya. Dengan nekad, ia mendaratkan bibirnya pada bibir Alex. Mengecup lembut bibir penuh milik Alex agar bisa menyampaikan apa yang tersimpan dalam hati. 


Nadira lantas melepaskan tautan bibir mereka. Ia membuka matanya dan melirik Alex sekilas. Ia dapat melihat keterkejutan di wajah lelaki itu. 


Namun, hanya sepersekian detik kemudian, Alex menyambar bibir Nadira. Menuntaskan dahaga yang sudah menghantui di setiap malamnya. Memberitahu Nadira betapa tersiksa rindu yang membelenggunya selama ini, melalui kecupan yang semakin menuntut.


Alex menyesap bibir Nadira, memberitahu perempuan itu betapa kecewa dirinya, tapi tak mampu membendung perasaan yang memenuhi setiap sudut dalam hati. 


Pengharapan yang berusaha ia pendam, tapi kian subur memenuhi jiwa. Ia tak dapat menolak desakan perasaan yang membuncah. Memenuhi setiap desah nafasnya. Setiap sel dalam tubuh seakan berteriak menginginkan ia merengkuh Nadira ke dalam pelukannya. Membuai perempuan itu agar bisa merasakan pengharapannya.