
"Darco, geledah dia," titah Genta pada salah seorang pengawal yang bersiap siaga di belakang Vanya.
Orang yang dipanggil Darco oleh Genta langsung maju ke depan dan merebut tas dari tangan perempuan itu dan melemparkannya kepada seorang pengawal lain di belakangnya.
Setelah itu Darco fokus pada Vanya dan mulai meletakkan kedua tangannya di pinggang Vanya.
"Mau apa lu? Enggak usah berani macem-macem lu, ya," ancam Vanya berusaha menutupi hatinya yang ketar-ketir.
Baru saja tangan lelaki berpakaian hitam-hitam itu mulai bergeser hendak menjelajah tubuh Vanya, sebuah bogem mentah melayang ke wajahnya. Ketidaksiapan Darco akan serangan riba-tiba itu, membuat tubuh lelaki itu terhuyung ke belakang.
Darco berusaha keras menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak oleng. Hampir saja bibirnya mengeluarkan makian jika saja tidak menyadari bahwa saat ini Genta masih ada di antara mereka. Membuat Darco harus bisa meredam emosi dan tidak meledakkannya secara sembarangan.
Melihat ketidakbecusan anak buahnya, Genta mengambil alih tugas yang ia perintahkan pada Darco.
"Lepasin gue. Mau ngapain lu?" hardik Vanya saat Genta meraih kedua tangannya dan mengunci pergerakan tangan Vanya di belakang punggung wanita itu.
Genta menghimpit kedua tangan Vanya dengan kencang dengan sebelah tangannya. Sementara tangan satu lagi menjelajah tubuh Vanya. Ia menggesekkan tangannya di sekujur tubuh Vanya mencari apa saja yang tersembunyi di balik tubuh semok teman adiknya itu.
Tak hanya kantong-kantong jeans yang dikenakan oleh Vanya yang menjadi incaran Genta. Kulit mulus di balik kaos yang dikenakan oleh Vanya tak luput dari gesekan tangan Genta.
"Mau apa lu berengsek?" jerit Vanya tak lagi berusaha menekan emosi yang mendidihkan kepalanya.
"Kau makhluk bernama perempuan itu selalu punya seribu satu akal untuk melaksanakan niat liciknya," bisik Genta tepat di telinga Vanya.
"Aku hanya ingin mencari tahu apa yang kamu simpan dibalik bra mu itu?"
"Jangan kurang ajar ya. Gue gak nyimpan apa-apa. Semua yang gue ambil dari kamar Nadira ada di dalam tas. Elu bisa periksa sesuka lu," ucap Vanya seraya menginjak dengan keras kaki Genta.
Pria itu meringis kesakitan hingga mengendurkan cekalannya pada tangan Vanya. Dengan sekejap mata Vanya membebaskan diri dari kungkungan Genta.
"Saya tidak menyukai perempuan urakan seperti kamu. Jadi simpan saja pikiran kotor mu itu di kepala mu sendiri. Saya sama sekali tidak tertarik dengan kamu," balas Genta tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Vanya.
"Balikin tas gue, dan biarin gue pergi dari sini."
"Tidak akan semudah itu kamu keluar masuk kediaman Adijaya. Jika kamu berani masuk ke sini tanpa di undang, itu artinya kamu audah siap dengan segala resikonya," ancam Genta dengan nada santai tapi mengintimidasi.
Ucapan Genta tersebut membuat Vanya bergidik ngeri, tapi berusaha ia tutupi agar Genta tak menyadarinya. Bagaimanapun ia harus berhasil keluar dari rumah ini sesegera mungkin agar cepat terbebas dari ketegangan menghadapi kakak sahabatnya itu.
"Sebaiknya kamu katakan saja, apa tujuanmu sebenarnya masuk ke rumah ini."
"Udah gue bilang dari tadi, gue cuma mau ngebebasin Nadira."
"Kamu memang keras kepala. Kamu akan lihat apa yang bisa ku lakukan untuk membuat mu sadar posisi mu saat ini," gerutu Genta kesal.
Pria itu lantas mengalihkan tatapannya pada dua anak buahnya yang sibuk mengobrak abrik tas Vanya. Namun, tak ada apapun yang mencurigakan yang bisa mereka temui di sana.
"Gak ada apa-apa di sini Boss."
Genta mengernyitkan dahi bingung menerka apa sebetulnya yang dicari oleh Vanya di dalam kamar adiknya.
Ia lantas memeriksa satu persatu barang dari tas Vanya yang sudah berserakan di lantai. Kerutan di dahinya semakin terlihat jelas saat ia melihat satu benda yang mengusik rasa penasaran Genta.
********************************************
Oh iya, mengikuti saran salah satu member group chat Tsabitah, aku ada niatan bikin WAG untuk saling bertegur sapa secara personal.. yang niat gabung cus cek di group yah.. aku tinggalin jejak nomor Wa ku di sana...