
Dengan anggun Nadira memasuki gedung BeTrust. Heels setinggi sembilan sentimeter membuat langkah wanita berkulit putih itu semakin anggun bak model berjalan di atas catwalk.
Wanita itu semakin terlihat bersinar saat menebar senyum pada setiap karyawan BeTrust yang menyapanya. Keramahannya menambah kecantikan yang terpancar dari dalam.
"Selamat siang Bu Sherly," sapa seorang petugas keamanan yang masih mengenali Nadira sebagai istri salah satu pemilik perusahaan.
"Selamat siang, Pak," jawab Nadira seraya membalas senyum tulus yang dilayangkan oleh petugas keamanan tersebut.
"Ibu mau bertemu Pak Alex?" tanya pria berseragam hitam tersebut.
"Iya. Mas Alexnya ada di ruangan?" tanya Nadira balik.
"Sepertinya tadi Pak Alex sama Pak Erwin sudah turun dari lantai dua puluh delapan. Tapi saya rasa ibu bisa menanyakan langsung ke sekretarisnya. Apa mau saya telepon sekretarisnya?"
"Tidak usah, Pak. Saya langsung ke ruangannya saja."
"Mari saya antar," tawar petugas keamanan tersebut.
Nadira berjalan di ikuti petugas keamanan tersebut yang mengantar Nadira hingga ke lantai dua puluh delapan. Petugas keamanan tersebut menggesekkan kartu aksesnya pada lift khusus menuju lantai dua puluh delapan.
Sementara tak jauh dari lift, Alex nampak berjalan cepat mengejar Nadira. Sayangnya, wanita itu sudah menghilang dalam kapsul yang membawanya menuju ruangan Alex.
"Siyal, kenapa wanita selalu menyebalkan," umpat Alex kesal hanya karena melihat Nadira tersenyum ramah pada pria di sekelilingnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Erwin aneh melihat kekesalan yang ditunjukkan oleh atasannya itu.
"Kamu temui Pak Danu di kantornya," ucap Alex seraya memencet tombol lift di depannya.
"Tapi, Pak. Saya sudah mengatakan kepada Pak Danu, kalau anda sendiri yang akan menemuinya hari ini."
"Kamu karang saja alasan. Masalah ini juga bisa kamu tangani sendiri," titah Alex singkat.
Ia lantas masuk ke dalam lift yang sudah terbuka di depannya. Meninggalkan Erwin menghela nafas panjang menghadapi kelakuan bosnya yang suka berubah-ubah.
Alex berjalan cepat memasuki ruangannya. Di sana nampak Nadira sedang duduk santai di sofa sembari memainkan gadgetnya. Ia mengintip apa yang membuat istrinya itu keasikan memainkan gadgetnya hingga tak menyadari kedatangannya.
"Mas Alex," ucap Nadira terlonjak kaget mendapati Alex yang tengah menjulurkan kepala dari belakang sofa.
"Itu hanya urusan kecil, Erwin bisa menanganinya sendiri," ucap Alex kemudian mendaratkan tubuhnya di sebelah Nadira.
"Oh ...." timpal Nadira tak acuh.
Wanita itu kembali fokus pada layar ponselnya dan mengabaikan keberadaan Alex di sebelahnya. Pria itu sudah mengerutkan dahi melihat sikap acuh tak acuh Nadira. Ia mendekatkan tubuhnya pada Nadira hingga menempel pada istrinya itu.
"Apa yang begitu menarik perhatian mu sampai mengabaikan keberadaan ku di sini?" ketus Alex sembari melongok ponsel Nadira secara terang-terangan.
Wanita itu tak memperdulikan kekesalan Alex. Ia sibuk mengetikkan sesuatu pada tombol keyboard ponselnya sembari tertawa kecil. Alex mendengkus kesal melihat sikap Nadira.
Tanpa aba-aba, pria itu merebut ponsel dari tangan Nadira, lantas melemparnya ke atas meja begitu saja.
"Mas, kamu apa-apaan sih? Aku lagi balas chat temen ku," protes Nadira kesal.
"Teman mu itu pria atau wanita? Apa kau sedang menggoda pria lewat HP mu itu sehingga kau mengabaikan aku?" ucap Alex menatap tajam Nadira.
"Kamu tidak masuk akal, Mas," ucap Nadira seraya menggelengkan kepala.
Wanita itu memajukan bibirnya menunjukkan sikap kesalnya di depan Alex. Membuat jakun Alex naik turun menatap wajah cantik yang semakin terlihat menggoda di depannya.
Dengan menahan kesal, Nadira hendak meraih ponselnya di atas meja. Namun, kedua tangan Alex memenjarakan Nadira di sofa hingga wanita itu tak bisa bergerak.
"Kamu mau bermain-main dengan ku," ucap Alex dengan wajah menahan kesal.
Tingkat kekesalan Alex memang sudah memuncak melihat Nadira yang terus mengabaikannya. Wanita itu sengaja berdandan maksimal hanya untuk menguji kesabarannya.
Ia tentu akan membuat perhitungan dengan istrinya itu dan tidak akan melepaskan Nadira begitu saja. Matanya menatap setiap inci wajah Nadira, mengirimkan sinyal yang mengintimidasi wanita di bawah kungkungannya.
Suara ketukan pintu membuat Alex terpaksa menghentikan niatnya untuk melummat habis bibir merekah yang terus menggodanya sedari tadi.
********************************************
Jangan lupa tinggalin jejak yah guys.. kalo komennya banyak aku up lagi nanti malem.. aku kebut mgetiknya nih..