
"Nak Alex sekarang tinggal di Apartemen?" tanya Shinta ketika Alex membelokkan SUV yang dikendarainya ke area gedung apartemen mewah di kawasan Kuningan.
Sebuah kawasan yang menjadi area segitiga emas Jakarta. Dimana area tersebut menjadi pusat bisnis yang mengalami perkembangan cukup pesat tak hanya di Indonesai melainkan seantero Asia.
"Iya, Ma. Lebih dekat sama kantor," jawab Alex sekenanya.
"Udah ga tinggal di rumah Pak Bayu lagi?"
"Sesekali masih menginap di sana, kalau Kakek meminta. Lagipula Mama saya sekarang menetap di Amerika. Dan rumah yang ditempati Kakek Bayu cepat atau lambat nantinya akan menjadi rumah keluarga Om Derry. Jadi saya rasa sudah saatnya saya memutuskan pindah dari sana." Sembari membelokkan SUV-nya ke parkiran khusus, Alex memberikan penjelasan kepada ibu mertuanya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Alex membawa Nadira beserta Shinta menuju Griya Tawang yang terletak di lantai tiga puluh dua. Lantai paling atas yang terletak satu lantai di bawah rooftop gedung apartemen tersebut.
Foyer yang di dominasi warna monokrom dengan design interior modern menyambut mereka, ketika Alex selesai menggesekkan kartu kunci apartemennya di dekat pintu masuk unit miliknya.
"Mama bisa pakai kamar ini," tunjuk Alex pada sebuah pintu yang merupakan salah satu kamar di dalam Griya Tawang tersebut.
"Kamar ini memang tidak pernah digunakan. Tapi dua atau tiga hari sekali, maid service dari apartemen ini akan datang untuk membersihkan seluruh ruangan. Jadi saya rasa kamarnya bersih dan nyaman. Mama bisa langsung menggunakannya."
"Kamar kamu sama Nadira di sebelah mana?" tanya Shinta dengan polosnya.
Sontak Alex dan Nadira saling melempar tatap dengan kerlingan canggung.
Sesungguhnya Alex sama sekali tidak berpikir ia dan Nadira akan berbagi kamar yang sama. Griya Tawang yang ditempatinya ini memiliki tiga kamar tidur. Jadi mereka tidak perlu menempati kamar yang sama.
Namun, pertanyaan Shinta yang tiba-tiba membuat Alex gamang. Wanita yang sudah mulai berumur tersebut berpikir bahwa sedari awal Alex memang sengaja menjemput mereka. Tentunya hal itu untuk memperbaiki pernikahan mereka yang sekarang sedang berada di ujung tanduk. Akan terdengar aneh jika Alex mengatakan mereka berdua akan tidur di kamar yang terpisah.
Ditambah lagi Shinta sudah cukup mengalami drama malam ini setelah pertemuan yang menegangkan antara ia dengan anak lelakinyaa. Alex merasa tak enak hati jika harus menambah beban pikiran wanita yang sudah nampak kelelahan tersebut.
Alex sempat melirik sekilas kepada Nadira yang menampakkan keterkejutan di wajahnya yang berusaha perempuan itu tutupi dengan senyuman kaku.
"Yasudah kalau begitu. Sebaiknya kalian istirahat. Pasti kalian capek seharian bekerja. Apalagi kamu, Lex, harus menyetir bolak balik dari sini ke Jatiwaringin," tutur Shinta sembari menguraikan senyum di bibir tipisnya. "Mama tinggal ke dalam dulu ya." Shinta menutup basa basi malam itu seraya membuka kenop pintu.
"Terimakasih, Mas atas bantuan mu malam ini. Aku tidak tau apa yang akan terjadi sama Mama kalau tidak ada kamu," ucap Nadira dengan senyum yang ia tepiskan di bibirnya.
"Aku akan meminta balasan untuk semua yang aku lakukan," ucap Alex dingin seraya melewati Nadira bwgitu saja menuju kamarnya.
Nadira terperangah mendengar perkataan Alex sembari mengobrak-abrik isi kepalanya mencari jawaban yang memungkin akan ucapan sang suami. Hal apa yang akan diminta oleh lelaki itu sebagai balasan atas bantuannya malam ini. Nadira lantas tergopoh-gopoh mengikuti Alex dari belakang.
"Tunggu, Mas. Apakah tidak ada kamar lain yang bisa aku tempati?" tanya Nadira ragu sesaat sebelum Alex memasuki kamar yang tadi ditunjuknya di hadapan Shinta.
"Masih ada satu kamar lagi di sebelah sana. Silahkan kamu tempati kamar itu sesukamu. Tapi aku tidak mau menjelaskan apapun kepada ibumu soal kamar yang terpisah," ucap Alex acuh tak acuh.
Nadira terpaku di tempatnya berdiri. Satu hal yang dia lupa bahwa kamar yang terpisah akan menimbulkan pertanyaan bagi Shinta. Buntutnya, Shinta pasti akan mengajak Nadira pindah dari apartemen Alex kalau menyadari bahwa hubungannya dengan Alex tidak membaik.
Sementara tinggal bersama Alex adalah satu-satunya jalan yang bisa Nadira pikirkan untuk memastikan keamanan ibunya dari cengkraman Ayah serta Kakak lelakinya.
"Kita tidur bareng aja deh, Mas," ucap Nadira akhirnya seraya menggigit bibirnya menutupi kegugupan yang semakin menghebat di lubuk hati.
Alex mengerling dan memberikan tatapan tajam mendengar pemilihan kata yang di ucapkan oleh Nadira. Tanpa Nadira sadari apa ya g ia ucapkan seolah merujuk pada sesuatu yang selalu didambakan oleh Alex. Membuat tubuh Alex panas dingin membayangkannya.
Sementara Nadira justru terlihat melenggang santai memasuki kamar yang sudah menjadi tempat privacy Alex seorang diri beberapa bulan ini.