
"Kalian pasti belum makan. Kita makan malam bersama, ya. Aku siapkan makan malam," ajak Alea saat melihat Nadira dan Alex memasuki ruang keluarga.
"Aku mau mandi dan ganti baju dulu," jawab Alex seraya berlalu dari hadapan Alea.
"Oh iya Al, Ravka dimana?" Alex berteriak dari kejauhan.
"Mas Ravka lagi nge-gym di atas."
"Kamu mau mandi dulu atau mau ikut bantuin aku nyiapin makan malam?" tanya Alea saat melihat Nadira begitu canggung.
Nadira masih membisu mendapat ajakan dari Alea. Sungguh hatinya belum siap untuk kembali bertemu dengan semua anggota keluarga rumah ini. Duduk bersama dalam satu meja pasti akan membuatnya salah tingkah.
Nadira seolah tak lagi punya muka untuk mensejajarkan diri dan dianggap bagian dari keluarga besar Dinata. Dia hanya tergugu di tempatnya seolah tak punya pegangan.
Alea dapat melihat kebimbangan yang terpancar di mata Nadira. Perempuan lembut nan baik hati itu mendekati Nadira, lalu meraih tangan dan menggenggamnya.
"Nad, jangan terlalu dipikirkan. Yang berlalu sudah berlalu. Hidup itu harus terus berjalan ke depan. Masa lalu adalah bagian dari pendewasaan kalau kita mau belajar dari kesalahan," ucap Alea seraya menepuk-nepuk lembut punggung tangan Nadira di genggaman tangannya.
Seketika air mata membanjiri pipi Nadira. Ia memeluk perempuan yang begitu berjiwa besar di hadapannya. Menumpahkan segala rasa bersalah di sana dengan terisak.
"Aku merasa tidak pantas untuk dimaafkan, Al. Aku terlalu banyak berbuat salah pada keluarga ini. Terutama kepada kamu," lirih Nadira sesenggukan. "Padahal semua orang di keluarga ini sudah begitu baik padaku juga menyayangiku dengan tulus. Tapi semua kebaikan itu aku balas dengan pengkhianatan."
Alea tersenyum mendengar permintaan maaf Nadira. Hatinya begitu terenyuh saat Nadira berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Ia bisa merasakan ketulusan dari suara perempuan yang masih terus terisak di pelukannya.
"Allah itu maha pemaaf. Ia akan memaafkan setiap hamba yang mau bertaubat. Tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, jika kamu betul-betul ingin berubah."
Perkataan Alea menembus ke dalam sanubari Nadira hingga membuat hatinya bergetar. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba mengalir di sana.
"Maukah kamu membantu ku menjadi pribadi yang lebih baik? Aku … " Nadira menjeda kalimatnya.
Ia seolah ragu meneruskan kalimatnya. Nadira lantas melepaskan pelukannya pada Alea. Lantas mengalihkan tatapannya pada ujung sepatunya.
"Aku ingin lebih mengenal agama. Ingin bisa lebih dekat dengan Tuhan." Ada kelegaan yang Nadira rasakan sesaat setelah ia menyampaikan isi hatinya pada Alea.
"Subhanallah. Tentu, Nad. Tentu aku bersedia membantumu," ucap Alea dengan penuh suka cita.
Nadira mengangkat kepalanya. Memberanikan diri menatap perempuan berhati mulia di hadapannya.
"Terima kasih, Al. Terima kasih banyak atas kebaikan mu, pengertian mu, juga ketulusan mu," ucap Nadira terbata-bata.
"Iya, sama-sama. Yaudah yuk, kita ke dapur. Bantuin Bi Mimah untuk nyiapin makan malam. Kita bisa sambil ngobrol-ngobrol di sana," ajak Alea lagi mencoba membuat Nadira lebih rileks berada di kediaman keluarga Dinata.
"Sekali lagi terima kasih ya Al." Perempuan itu sungguh merasa beruntung bisa mengenal Alea. Sosok yang bisa ia jadikan panutan untuk menjalani kehidupannya yang sudah porak poranda.
"Entar kamu kehabisan stok terima kasih loh kalo di borong semua buat aku," ucap Alea berkelakar.
Alea tertawa renyah sembari menarik tangan Nadira menuju dapur. Tawa Alea seketik menularkan kebahagiaan di hati Nadira yang sudah mengulum senyum.
*********************************************
oh iya manteman semua yang mau masuk group jangan lupa sebutin paswordnya yah.. soalnya banyak banget yang ngetik pintu ga nyebutin password jadi ga bisa di ACC sama admin tuh..
jangan lupa juga follow IG ku yah kawan2..
tsabitahtsa_bitah
aku akan kasih info seputar karya ku di sana yah manteman