
Alex menggenggam erat setir mobil manakala mengingat keberadaan perempuan cantik di sebelahnya. Beberapa kali ia melirik Nadira hingga menyadari bahwa perempuan itu sudah bergelut dengan mimpinya. Ia menyempatkan diri menoleh sekilas pada perempuan yang nampak semakin cantik di kala terlelap. Membuat jantungnya bergemuruh.
Ia mencoba kembali fokus pada jalanan agar cepat sampai tujuan. Berharap segera lepas dari perasaan yang semakin membelenggu karena kehadiran Nadira di dekatnya.
Saat sudah memasuki kawasan Jatiwaringin, Alex menepikan mobil di pinggir jalan. Menatap seksama perempuan selayaknya putri tidur yang sedang menunggu dibangunkan oleh sang pangeran.
"Sherly, bangun. Ini sudah sampai di Jatiwaringin," ucap Alex perlahan.
Akan tetapi, perempuan itu tetap bergeming, meski sudah beberapa kali Alex memanggil namanya. Lelaki itu kemudian mencondongkan badannya lebih mendekat pada Nadira dengan tangan terulur siap mengguncang tubuh perempuan yang masih berstatus sebagai istri sahnya.
Namun, niat awal lelaki berperawakan serius itu berubah. Gerakan tangan justru tak sejalan dengan perintah yang dikirimkan oleh otak. Perlahan lelaki itu menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Nadira seraya memperhatikan paras yang sedang tertidur pulas itu dengan seksama.
"Sandiwara apa yang tengah kamu mainkan sekarang, Sherly? Kenapa kini kamu terlihat begitu berbeda?" gumam Alex seraya menahan keinginan untuk membelai wajah mulus yang sedang terlena dalam mimpinya.
Wajah polos Nadira dengan dandanan sederhana, membuat perempuan itu terlihat lebih menarik di mata Alex. Membuat hasrat lelakinya sulit untuk di bendung.
"Mmm ... " gumam Nadira seraya menggeliat merasa tidurnya terganggu.
Dengan cepat, Alex menarik tubuhnya saat akal sehat menguasai kepala. Ia menggeleng demi menghentakkan pikiran yang mulai menguasai setiap sendi dalam tubuh. Secepat kilat pula ia berusaha menguasai diri untuk menormalkan sikapnya yang mulai tak bisa dikendalikan.
"Bangunlah ! Sampai kapan kamu mau tidur?" hardik Alex memaksa Nadira membuka mata secara sempurna saat sedang mengerjapkan mata perlahan.
Nadira mencoba menyesuaikan retina dengan keremangan rembulan yang menembus melalui kaca jendela mobil. Kemudia tersentak dan membulatkan bola mata lebar-lebar ketika menyadari dimana ia berada saat ini.
"Ma-maaf, Mas. Aku ketiduran," ucap Nadira seraya membetulkan posisi duduknya agar lebih tegak. "Dimana kita sekarang?" tanya Nadira lagi seraya celingukan memperhatikan kiri kanan jalan.
"Kita sudah di Jatiwaringin."
"Oh iya, sudah tidak jauh lagi kok. Mas Alex tinggal lurus aja," ucap Nadira saat menyadari dimana Alex memberhentikan mobilnya.
"Disini aja, Mas," ucap Nadira beberapa saat kemudian.
"Apanya yang di sini? Di sini tidak ada rumah," balas Alex memperhatikan sekelilingnya.
Mereka berhenti di pinggir jalan depan sebuah jalan kecil, dimana hanya terdapat bangunan yang diselimuti kegelapan. Bangunan yang dengan sekali pandang dapat diketahui bukanlah sebuah tempat tinggal, melainkan bangunan dengan rolling dor besar yang menghiasi. Sehingga bisa Alex pastikan deretan jalan ini digunakan sebagai tempat usaha.
"Aku jalan saja dari sini," jawab Nadira.
"Apa maksudmu mau jalan sendiri malam-malam begini?" Alex menolehkan wajahnya seraya melemparkan tatapan tajam. "Apa kamu mau membuktikan kepada Ravka, bahwa aku memang lelaki tidak bertanggung jawab karena menurunkanmu di tengah jalan yang gelap seperti ini?"
"Bu-bukan begitu Mas, maksudku ... " Nadira tergugu seraya menggigit bibir bawahnya yang justru membuat perempuan itu semakin menggoda di hadapan Alex.
Dengan cepat Alex memalingkan wajah. Menghindar dari pesona Nadira yang semakin bersinar. Tak ada lagi perempuan arogan yang kerap kali ia lihat dalam diri Nadira, justru tergantikan kesederahanan dalam sikapnya kini.
"Aku antar kamu sampai rumah. Tunjukkan saja jalannya," sambar Alex cepat dengan nada tegas tak dapat terbantahkan.
Nadira tak dapat menolak perintah sang suami. Lagipula ia memang sudah terlalu lelah untuk menyeret kaki menyusuri jalanan gelap yang kental akan suasana perkampungan.
"Disini saja, Mas," ucap Nadira setelah beberapa kali memberikan instruksi pada lelaki itu saat melewati jalan yang penuh dengan belokan.
"Yang mana rumahmu?" tanya Alex heran karena mereka tak berhenti tepat di depan pintu masuk salah satu rumah yang berderet. Namun, mereka berhenti tepat di sebuah gang kecil.
"Rumahku masih masuk ke dalam, Mas. Mobil tidak bisa melewatinya. Jadi kamu bisa antarkan aku sampai sini saja," ucap Nadira sembari melepaskan seatbelt yang membelitnya. "Rumahku sudah tidak jauh lagi kok. Hanya beberapa meter saja dari sini. Terimakasih banyak atas tumpangannya. Maaf sudah merepotkan mu," imbuh Nadira lagi seraya melemparkan senyum tulus sebagai tanda terimakasih.
Perempuan itu lantas mengangguk pelan sebai tanda hormat pada lelaki yang masih menikamnya dengan sorot mata tajam. Bergegas ia membuka pintu mobil dan keluar mobil tergesa. Setengah berlari, Nadira menyusuri gang dibalut keheningan malam.