
"Eh Ran, lu tu udah tau belom sih kalau Kemal itu udah mau nikah?" tanya Nadira pada Rani saat mereka sedang berbincang menghabiskan jam kerja.
Sekembalinya Nadira dan rombongan dari Kantor BeTrust, perempuan itu tak punya kegiatan yang bisa ia lakukan. Aldi sudah lebih dulu ngacir pulang ke rumah lantaran tak kuat menahan kantuk meski sudah menghabiskan dua cangkir espresso. Jadilah ia duduk di lobi sembari mengajak Rani mengobrol di sela-sela kerja gadis itu.
"Udah ... Emang kenapa?" tanya Rani masih sibuk dengan layar komputer di depannya.
"Ga apa-apa sih. Habis gue liat lu sama Kemal saling rayu gitu. Gue kira tuh anak tukang gombal sana sini."
"Yaelah, Nad ... Bang Kemal kan playboy cap cicak, semua cewek juga dirayu sama dia."
"Masa sih?" Kekeh Nadira mendengar istilah yang dilontarkan oleh Rani. "Tu orang emang slengean sih. Tapi kacau juga yah kerjaannya ngerayu semua cewek. Kalau pada baper gimana?"
"Rugi amat baper sama Bang Kemal. Dia mah emang gitu anaknya. Bahkan semua model yang pernah kerja ama dia aja udah tau kelakuannya," Rani menggelengkan kepala mengingat kelakuan pria somplak satu itu. "Tapi biar begitu orangnya enak tau Nad. Asik buat jadi temen curhat."
"Iya sih, orangnya tuh kalo nasehatin adem di hati. Kita ga berasa kaya lagi dihakimi."
"Untungnya lagi, calon bininya itu orangnya asik dan ga cemburuan. Cocoklah pokoknya mereka."
"Kamu juga kenal sama calonnya?"
"Yah kenal lah. Kan dia adeknya Boss," jawab Rani yang sudah melepas keyboard komputer yang sedari tadi dijamahnya.
"Elika itu adeknya Pak Elroy?" tanya Nadira heran dengan informasi yang baru didengarnya.
Nadira sudah beberapa kali bertemu dengan Elika. Gadis manis yang ramah dan humble. Orangnya juga sangat menyenangkan untuk diajak berteman. Mereka bisa mengobrol berjam-jam lamanya. Bahkan sampai hal sensitive pun bisa dengan lancar dibicarakan padanya.
Akan tetapi, Nadira belum pernah tahu tentang keluarga gadis itu. Pantas saja Nadira dengan mudah diterima bekerja di De' Advertising. Meski berstatus sebagai karyawan magang, ia mendapatkan haknya secara penuh. Gaji yang di dapat masih diatas Upah Minimum Regional Ibukota.
"Udah jam empat nih, pulang yuk," ajak Rani seraya merapihkan merapikan meja resepsionis sekaligus meja kerjanya.
Memasukkan beberapa barang diatas meja ke dalam tas nya, lantas mematikan komputer. Setelah itu ia segera beranjak dari duduknya.
"Ayok, gue juga udah bosen duduk-duduk doang disini," balas Nadira turut bangkit dari kursi.
"Mau nebeng, ga?" tanya Rani saat mereka sudah berada di luar kantor.
Perempuan itu menawari Nadira karena setiap harinya dia memang berangkat bekerja menunggangi motor matic kesayangannya.
"Ga usah deh, lagian kan kita ga searah. Yang ada lu muter-muter kalau nganterin gue dulu. Gue naek angkot aja," tolak Nadira.
"Yakin ga mau gue anter?" tanya Rani memastikan.
"Iya ... Udah sana pulang," ucap Nadira dengan senyum mengembang di bibir.
Nadira pun turut berjalan berlainan arah menuju jalanan di depan kantor untuk mencegat angkutan kota yang biasa lewat di sana. Baru mengayunkan kaki beberapa langkah, Nadira di buat kaget dengan sebuah mobil yang memasuki pekarangan kantornya.
Mobil yang sudah tak asing di mata Nadira. Bagaimana tidak, mobil itu seringkali mengantar jemput Nadira saat masih tinggal di kediaman keluarga Dinata. Tanpa di komando, jantung perempuan itu berdetak tak beraturan. Lagi-lagi dia harus dihadapkan pada situasi yang tak mengenakkan. Situasi yang sesungguhnya belum siap untuk ia hadapi.
"Assalamualaikum ... " sapa Alea sesaat setelah turun dari mobil.
Senyum ayu tak pernah surut dari wajah yang terlihat semakin cantik dan menawan dari terakhir kali mereka bertemu. Tiba-tiba rasa malu dan tak percaya diri menggerogoti hati Nadira. Keanggunan Alea begitu sempurna. Pantas saja jika ia dilimpahi cinta yang besar dari Ravka.
Kecantikannya seolah terpancar dari dalam hati. Membuatnya begitu sejuk dipandang mata. Nadira meringis, mengingat bagaimana ia merendahkan perempuan di hadapannya itu, hanya karena rasa cemburu dan iri hati.
"Wa alikum salam," jawab Nadira pelan setelah terdiam cukup lama.
Degupan jantung Nadira seperti tak mau bekerjasama dengan pikirannya yang memerintahkan untuk tenang. Ada rasa khawatir dalam diri, menerka apa yang akan Alea lakukan padanya.
Meski Nadira sesungguhnya sudah siap menerima segala perlakuan buruk Alea demi membalas semua tindak tanduknya dulu, tapi tetap saja hatinya butuh dukungan untuk dikuatkan.
"Udah pulang kerja?" tanya Alea masih dengan senyum yang kian mempesona.
"Eh iya, udah. Ada perlu apa?" tanya Nadira tak berniat berbasa basi.
"Seperti yang ku katakan tadi siang, aku ingin bicara denganmu. Boleh aku minta waktu mu sebentar agar kita bisa ngobrol-ngobrol?" jawab Alea santai.
"Kamu mau bicara soal apa?" tanya Nadira masih dengan keraguan dan kegugupan yang menyergap.
"Bisa kita cari tempat yang lebih nyaman?"
"Mau bicara dimana?"
"Mungkin kita bisa ngobrol-ngobrol sambil makan atau minum?" tanya Alea ragu.
Keduanya memang fak pernah terlibat obrolan santai sejak mengenal satu sama lain. Hingga menghadirkan ke canggungan diantara keduanya.
"Terserah kamu aja," ucap Nadira seraya mengedikkan bahunya acuh.
"Pakai mobil ku atau mobil mu?" tanya Alea lagi.
"Aku tak masalah pakai yang mana saja. Tapi apa kamu mau berpanas-panas naik angkot?" tanya Nadira santai yang menghasilkan kerutan di dahi Alea.
"Kita pakai mobilmu saja," lontar Nadira tak berniat membuat Alea semakin bingung. "Ayo jalan," ajak Nadira seraya menghampiri Alea.