PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 91#



"Nad, sini dulu gue mau ngomong," cegat Rani saat Nadira melangkahkan kaki melewati pintu kaca memasuki kantornya.


Mata Nadira membulat sempurna manakala dia menyadari Rani berdiri menunggunya tak jauh dari pintu. Tanpa aba-aba, temannya itu langsung menarik tangan Nadira dan menyeretnya ke arah pantri. Ia hanya membisu dan mengikuti langkah Rani yang tergesa-gesa. 


"Ada apa?" tanya Nadira dengan wajah datar tanpa rasa bersalah saat ia sudah duduk di sebuah kursi bar dekat pantri. 


Di depannya Rani mendelik tajam seraya bersedekap. 


"Lu yakin gak tau kenapa gue bawa lu ke sini?" tanya Rani meremehkan tampang polos Nadira. 


"Ya, gue gak ngerti lah, kenapa lu tiba-tiba kaya sumanto gitu. Muka lu itu udah kaya mau makan orang, tau enggak?" jawab Nadira asal seraya terkekeh.


"Lu kapan nikah?" sosor Rani tanpa mengindahkan ucapan Nadira yang mengajaknya bercanda.


Rani menyipitkan mata menatap Nadira. Menyatakan lewat matanya bahwa ia sedang serius. 


"Belum ada setahun kok. Lu kenapa tiba-tiba nanya itu?" jawab Nadira menyatukan kedua alisnya heran melihat sikap temannya itu. 


"Berarti sebelum kerja di sini lu itu udah nikah?" cecar Rani tak menggubris pertanyaan Nadira. 


"Iya. Emang kenapa sih?"


"Terus kenapa selama ini lu diem aja pas orang-orang ngomongin lu. Lu juga gak pernah memperlihatkan kalo lu itu istrinya Pak Alex," sembur Rani kesal.


Nadira membungkam saat menyadari kemana arah pembicaraan temannya itu. Kali ini dia hanya diam karena menyadari, bahwa yang dikatakan Rani itu benar adanya.


Hanya saja, sejak awal ia sendiri tak tahu akan seperti apa nasib pernikahannya. Ditambah lagi, teman-teman kantornya yang membicarakan keburukan dirinya di masa lalu, membuat ia merasa tak percaya diri mengungkapkan kebenarannya di hadapan teman-teman kantornya. 


"Sorry, Ran. Gue tahu kalau gue salah, tapi ...." 


"Berarti bener dong dugaan gue kalau Pak Alex itu suami lu?" potong Rani cepat. 


"I-iya."


"Huh ...." Rani menghela nafas kasar. 


Ia kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi sebelah Nadira. 


"Lu kenapa sih? Emang apa bedanya suami gue Mas Alex atau bukan?" sergah Nadira ikutan kesal melihat tingkah temannya. 


Rasa tak enak hati karena menutupi jati diri berubah seketika menjadi kesal melihat reaksi temannya itu. 


"Terus masalahnya dimana?" 


"Yah gak ada masalah sih. Cuma rasanya jadi agak gimana gitu. Bikin canggung."


"Canggung apanya? Dari tadi aja lu marah-marah mulu."


Spontan Rani menampilkan seringai lebar saat menyadari kelakuannya baru saja. Ia bahkan tak memikirkan bagaimana  seharusnya ia bersikap di depan Nadira. Ia hanya merasa kesal karena selama ini Nadira sudah menutupi statusnya. 


"Maaf," ucap Rani seraya tertunduk.


"Apaan sih, gak cocok banget tampang lu sok imut gitu," desis Nadira seraya menoyor pipi Rani. "Gue malah seneng kok lu marah-marah kayak tadi. Itu artinya lu masih anggep gue temen," ucap Nadira seraya tersenyum lebar. 


"Emang lu gak gengsi temenan sama karyawan rendahan kayak gue?" Rani mengangkat kepalanya menatap Nadira dengar terperangah. 


"Ya enggak lah. Apaan sih, pakai ngomong karyawan rendahan segala. Lu pikir gue di sini punya jabatan? Mendingan elu kali. Gue malah karyawan magang doang di sini," sembur Nadira. 


"Yah elu cuma karyawan magang. Tapi suami lu bosnya para bos."


"Itu kan suami gue. Bukan gue nya. Udah sih ah, biasa aja. Gak usah norak gitu deh. Kita masih bisa temenan kayak biasa kan?" tanya Nadira penuh harap.


"Ya bisalah," ucap Rani menghantarkan senyum lebar di bibir keduanya. 


"Eh, tapi lu tau dari mana kalau Mas Alex itu suami gue? Aviva sama Ais yang ngomong yah?" 


"Yaelah, Nad. liatin interaksi lu berdua sama Pak Alex kemaren, siapa aja bisa nebak kali. Masak iyah simpanan di beliin couple ring. Udah gitu enak banget lu nyindir Thalita soal simpanan. Mana ada simpanan yang berani ngomong kaya elu. Cuma yang punya status jelas berani ngomong kayak gitu," jelas Rani panjang lebar. 


"Gitu ya?" cengir Nadira. 


"Eh, tapi kenapa sebelum ini sikap elu sama Pak Alex kayak orang asing gitu sih? Gue jadi bingung gara-gara itu."


"Panjang itu ceritanya. Tar lah besok-besok gue cerita. Sekarang udah waktunya kerja. Tar gue disembur Aldi lagi." Nadira bangkit dari duduknya dan bersiap meninggalkan pantri. 


"Mana berani lah Aldi nyembur elu kalau dia tau siapa lu sebenernya," sambar Rani menyusul Nadira keluar pantri. 


"Kerja tuh profesional. Segala status di rumah ga perlu di bawa-bawa kesini. Bener ya bener, salah ya salah," ketus Nadira. 


"Iya aja dah. Gue gak satu divisi ini sama elu," kekeh Rani lebih lega setelah semalaman tak bisa tidur memikirkan siapa sosok Nadira sebetulnya.


Entah apa jadinya kalau ia menjadi Thalita. Mungkin ia akan sembunyi dalam kamar dan tak berani datang ke kantor lagi. Membayangkannya saja membuat Rani ingin tertawa.