PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 120#



"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alex panik.


"Aku hanya sedikit pusing, Mas," ucap Nadira lemah.


Nadira masih bertahan pada tubuh Alex agar tidak jatuh ke lantai. Dengan perlahan sang suami menuntunnya kembali duduk di sofa. Pria itu masih memeluknya erat dan meletakkan kepala Nadira di dadanya. 


"Kita ke Rumah Sakit ya?" 


"Jangan, Mas. Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat sebentar. Nanti juga pusingnya hilang."


"Kamu bukan dokter, mana bisa tahu kamu sakit atau tidak," ketus Alex semakin khawatir saat melihat Nadira meringis sembari memejamkan mata. 


"Gak apa-apa beneran. Sebentar lagi juga hilang kok. Akhir-akhir ini aku emang sering pusing. Di bawa tiduran bentar langsung hilang pusingnya," ucap Nadira seraya memijat kepala. 


Alex melepaskan pelukannya pada Nadira dan membaringkan istrinya itu di sofa. Dengan telaten dan sangat berhati-hati, Alex melepaskan sepatu Nadira dan mengangkat kaki wanita itu ke atas sofa. Ia lantas berlutut di sebelah kepala Nadira dan memijat lembut kepala istrinya itu. 


"Kamu kenapa gak bilang kalau sering pusing? Kalau kamu kenapa-napa gimana?" tanya Alex dengan lembut.


Pria itu kemudian mengarahkan tangannya ke kepala Nadira dan memberikan pijatan lembut di sana.


"Aku beneran gak apa-apa, Mas. Kamu kan tahu. Belakangan ini aku terlalu banyak pikiran. Makanya aku sering pusing."


"Aku sudah bilang kan sama kamu. Jangan mikirin yang gak penting. Kita pasti bisa menyelesaikan semua masalahnya satu persatu. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu bisa percaya sama aku kan?" gerutu Alex semakin khawatir melihat Nadira yang berbicara sembari terus memejamkan mata.


"Maaf aku bikin kamu khawatir," ucap Nadira seraya membuka matanya perlahan. 


Sesungguhnya Nadira masih merasa lemas. Rasa berdenyut di kepala juga masih menghantamnya. Namun, sekuat tenaga Nadira tahan agar tidak membuat suaminya khawatir. Wanita itu menyunggingkan senyum tipis di bibir demi meyakinkan Alex kalau dia baik-baik saja. 


"Sudah lebih baik?" tanya Alex lembut seraya membelai pipi Nadira. 


Sementara di seberang mereka, Erika melihat interaksi sepasang suami istri itu. Kemarahannya melunak saat melihat betapa lembut Alex memperlakukan Nadira. Seburuk apapun wanita itu, putranya terlihat mencintai Nadira dengan tulus. 


Ia tak mungkin merusak kebahagiaan putra satu-satunya itu dengan tangannya sendiri. Setidaknya ia harus memberikan satu kesempatan bagi Alex untuk membuktikan keyakinannya.  


Erika lantas meninggalkan Alex dan Nadira menuju dapur dan mencari minyak aroma terapi di dalam kotak P3K.  


"Oleskan ini di kepalanya," ucap Erika seraya menyodorkan botol kecil kepada Alex. 


"Makasih, Ma," ucap Alex senang melihat ibunya turut perhatian pada Nadira. 


Setidaknya ibunya tidak setega itu membiarkan Nadira sakit di rumahnya. Alex tersenyum hangat menyadari bahwa mungkin saja tidak sesulit itu menaklukkan hati ibunya. Ia mengoleskan minyak aroma terapi itu ke kepala Nadira hingga membuat wanita itu terlihat sedikit lebih rileks.


Setelah beberapa waktu Nadira akhirnya terlihat lebih baik. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersandar pada sofa. 


"Bagaimana? Sudah enakan?" tanya Alex lagi yang dijawab dengan anggukan oleh Nadira. 


"Sudah lebih enakan," ucap Nadira lirih.


"Kalau begitu, kita ke rumah sakit sekarang yah?" ajak Alex lagi. 


"Aku beneran gak apa-apa kok, Mas. Ngapain pake ke Rumah Sakit segala sih?" 


"Bawa saja dia ke kamar untuk istirahat. Mama sudah menghubungi dokter untuk memeriksanya." 


Suara dari balik punggung Alex membuat sepasang suami istri itu terperanjat. Baik Alex maupun Nadira seolah tak percaya dengan pendengaran mereka. 


Senyum merekah di bibir Alex mendengar apa yang baru saja ibunya katakan. Hatinya menghangat seketika dengan kasih sayang yang ditunjukkan oleh wanita terkasihnya meski tidak secara terang-terangan.