PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 36# Selingkuhan



Setelah cukup lama Erwin menunggu dalam diam, pintu ruangan Alex terbuka lebar diiringi langkah dua orang yang saling berbincang hangat.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat malam." Lawan bicara Alex menutup perbincangan mereka.


"Selamat malam," jawab Alex seraya mengulurkan tangan untuk saling berjabatan.


"Pak Alex ... " suara Erwin menggantung menghentikan langkah Alex yang hendak kembali ke ruangannya.


"Ada apa, Win?" tanya Alex seraya mengerutkan dahi mendapati sikap tak nyaman yang diperlihatkan orang kepercayaannya itu.


Erwin hanya termangu tak dapat menemukan kata yang tepat untuk memberitahukan keberadaan Nadira yang terlelap di sofa. Matanya hanya melirik ke arah istri atasannya itu. Tanpa di komando, Alex mengikuti lirikan mata Erwin. Lelaki itu terperangah saat mendapati Nadira di sana.


"Sejak kapan Sherly di sini?" tanya Alex heran.


"Sudah sekitar satu jam, Pak," jawab Erwin ragu.


"Untuk apa dia kemari malam-malam dan menunggu hingga selarut ini?" desis Alex yang dijawab kebungkaman oleh Erwin.


Alex memperhatikan Nadira yang nampak kelelahan. Ada dorongan kuat dalam hati untuk menghampiri perempuan itu. Pipi mulusnya seolah melambai minta dijamah. Pun dengan leher jengjang yang terpampang jelas --lantaran kepalanya mendongak menempel pada sandaran sofa-- seakan berbisik agar Alex mendaratkan jemarinya di sana.


Baru saja Alex akan melangkahkan kaki mendekati sang istri, perempuan itu sudah menggeliat seraya mengerjapkan mata perlahan. Terlihat Nadira berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk membuat matanya terjaga.


"Mas Alex ... " gumam Nadira mendapati sang suami tengah memandangnya.


Bergegas Nadira membetulkan posisi duduknya dengan tak enak hati.


"Ada apa kamu kemari?" ketus Alex dingin.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Win, kamu pulang saja duluan. Lagipula sudah malam," ucap Alex seraya melirik ke pergelangan tangannya.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak ... Bu ... " ucap Erwin menatap sepasang suami istri itu bergantian seraya menganggukkan kepala hormat.


"Masuklah," ajak Alex pada Nadira setelah Erwin meninggalkan mereka berdua.


Alex berjalan perlahan sembari mengerutkan dahi lantaran heran dengan keberadaan Nadira di kantornya lewat jam sepuluh malam. Namun, rasa penasaran yang menggayuti hati membuat Alex menepis curiga pada perempuan yang mengekorinya dalam diam.


"Sekarang katakan apa yang kamu inginkan?" tanya Alex tanpa berbasa-basi saat keduanya sudah menduduki sofa di ruang kerja lelaki itu.


Alex melemparkan senyum smirk mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir sang istri. Sorot mata perempuan itu pun terlihat begitu serius. Membuat hati Alex semakin berkecamuk. Seharian ini ia melewati hari dengan tidak tenang, lantaran tak dapat mengontrol emosi yang mendidihkan hati.


Kehadiran perempuan yang masih memberinya sorot mata tajam membuat suasana hatinya semakin tak karuan. Bahkan tatapan mengejek yang ia layangkan pada Nadira tak membuat perempuan itu gentar.


"Wow ... sebegitunya kamu membela dia?! Sampai-sampai kamu rela, malam-malam begini menemuiku? Padahal selama ini kamu sengaja menghilang dari pandanganku," geram Alex yang berusaha menutupi emosi dalam nada suaranya.


"Kemal salah apa sama kamu? Hingga kamu memukulnya di depan umum seperti itu? Apa kamu sadar sikapmu itu berdampak buruk pada orang lain?" kecam Nadira.


"Aku jadi semakin penasaran sama selingkuhanmu itu. Dua wanita membelanya mati-matian seperti ini," dengus Alex menahan kesal sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Apa maksudmu selingkuhanku, Mas?" Mata Nadira mengkilap menahan amarah.


"Apa namanya kalau wanita bersuami berhubungan dengan pria lain kalau tidak mau disebut sebagai selingkuhan?!"


"Asal kamu tahu, Mas. Sampai detik ini aku masih menjaga komitmen yang aku janjikan pada mu sebelum kita menikah, Mas," seru Nadira dengan nafas memburu.


"Komitmen?!" Alex tergelak mendengar kata-kata yang diucapkan Nadira. "Kamu tidak pantas melucu," sindir Alex telak.


"Aku sadar kalau aku sudah salah selama ini. Tapi aku tidak pernah melanggar janjiku selama menikah dengan kamu."


"Janji yang mana yang tidak kamu langgar? Kamu bahkan masih terus mencari perhatian Ravka sejak hari pertama pernikahan kita. Kau pikir aku tidak tahu itu?" ucap Alex membungkam Nadira.


"A-aku ... Aku hanya ... " Nadira kembali mengatupkan bibirnya tak berani meneruskan kata yang terlintas di kepala.


Dilihat dari sisi manapun, apa yang ia lakukan memang terpampang jelas. Tak ada pembenaran yang bisa membuat ia bisa membantah tuduhan Alex.


"Sudahlah, itu sudah tidak penting lagi. Apa kamu kesini hanya ingin membela lelaki brengs*k itu?" desis Alex tajam.


"Dia punya nama, Mas. Namanya Kemal. Dan dia bukan lelaki br*engsek. Dia orang yang sudah banyak menolong aku sama Mama."


"Menolong karena ada maunya," sindir Alex seraya tertawa mengejek.


"Kemal itu tulus, Mas. Dia tidak ada niatan buruk, baik terhadap aku atau Mama. Lagipula dia sudah bertunangan, dan sebentar lagi mereka akan menikah," jelas Nadira yang mengetahui kemana arah pembicaraan Alex.


Alex memaku manik mata Nadira demi mencari tahu kebeneran ucapan perempuan itu. Tak setitikpun kepalsuan yang dapat dia temukan dalam pancaran mata perempuan yang masih tercatat sah secara hukum sebagai istrinya itu.


Entah kenapa gundah yang menyesakkan dadanya berhari-hari seolah terangkat begitu saja dari dadanya. Memberikan sedikit ruang bagi hatinya menghirup nafas lega.