
Nadira menghenyakkan tubuh di atas kursi bersebrangan dengan Elroy. Dibalik meja, perempuan itu memilin jemari mengusir gugup yang terus menyergap. Kepalanya terus berkelana, menerka apa yang akan dibicarakan oleh pria yang saat ini duduk dengan tenang di tempatnya.
Ia lantas menundukkan pandangan saat matanya tak sengaja berserobok dengan Elroy. Nadira tak berani bersitatap dengan atasannya itu yang memberi lirikan penuh selidik.
"Baiklah Nadira, saya akan to the point saja. Saya sangat mengenal bagaimana sifat Kemal. Dia tidak akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi meskipun posisinya menjadi taruhan. Jadi, bisakah kamu menjelaskan apa yang sudah terjadi?" tanya Elroy seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari bersedekap.
Nadira mengangkat kepalanya membalas tatapan Elroy dengan agak canggung. Meskipun suara lelaki di hadapannya itu terdengar tenang, tapi perempuan itu sangat menyadari ada nada menuduh dalam ucapan yang di lontarkan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Maaf, Pak. Sejujurnya saya juga tidak mengetahui apa yang sudah terjadi. Saya baru tahu kalau tadi Kemal berkelahi dengan Pak Alex," ujar Nadira ragu.
"Tapi saya mendengar, kalau kamu lah yang menjadi penyebabnya," timpal Elroy seraya menelisik perubahan raut wajah perempuan manis di hadapannya itu.
Wajah Nadira sama sekali tidak memperlihatkan kegugupan saat mendengar tuduhan yang ia lontarkan dengan gamblang. Membuat Elroy mengernyitkan dahinya memperhatikan Nadira lebih seksama.
"Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Saya sendiri baru mau mencari tahu kebenaran berita itu pada Kemal, tepat sebelum Pak Elroy memanggil kami semua ke ruangan ini," jawab Nadira tanpa keraguan sedikitpun.
"Baiklah, kalau kamu betul-betul tidak mengetahuinya persoalannya, saya juga tidak bisa memaksa kamu untuk bicara. Hanya saja, apa kamu tau siapa Pak Alex?" cecar Elroy tak memberi kesempatan bagi Nadira bernafas lega.
"Tentu saja saya mengetahui siapa Pak Alex. Bukan kah saya sudah pernah ikut rapat dengan BeTrust sebelum ini, Pak?!"
"Tapi sepertinya kamu sudah mengenal Pak Alex jauh sebelum itu. Ada hubungan apa diantara kalian?" tuduh Elroy tanpa basa basi.
"Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Tapi pertanyaan itu tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Itu sudah masuk ranah pribadi saya. Jadi, mohon maaf kalau saya tidak bersedia membicarakan hal yang mentangkut privacy saya."
Semakin lama ia memperhatikan Nadira, kecantikan perempuan itu semakin menonjol dalam kesederhanaannya. Tak banyak Elroy melihat perempuan yang punya prinsip dan berani mengutarakannya pada orang yang jelas-jelas berpengaruh pada karirnya. Itu memperlihatkan bahwa sesungguhnya Nadira bukanlah perempuan biasa. Hal itu menghadirkan rasa penasaran yang semakin menggelitik untuk mengenal perempuan itu lebih dalam.
"Tapi yang sedang kita bicarakan ini adalah seorang yang sangat berpengaruh pada kemajuan perusahaan ini. Pak Alex bukanlah orang sembarangan. Dia bisa melakukan apa saja terhadap perusahaan kecil seperti D' Advertising, tanpa kita bisa memberikan perlawanan berarti."
"Perusahaan sebesar BeTrust tidak mungkin bisa megah begitu saja. Semua orang dalam dunia bisnis mengetahui, kalau BeTrust sangat mengagungkan profesionalisme di dalamnya. Jadi saya rasa, selama kita menjalankan kerjasama sesuai kontrak, tidak mungkin BeTrust merugikan D' Advertising dengan alasan yang tidak jelas," jawab Nadira tanpa keraguan sedikitpun.
Nadira yakin sekali dengan apa yang diucapkannya. Meski ia tahu Alex membencinya, tapi ia tahu betul lelaki itu tak akan merugikan orang lain hanya karena sebuah kebencian.
Kalaupun Alex akan meluapkan kebenciannya, tentu dirinyalah yang akan menjadi sasaran langsung suaminya itu tanpa menyasar orang lain. Namun, ia masih belum bisa memahami, mengapa Alex sampai memukul Kemal.
"Sepertinya kamu cukup mengenal dunia bisnis. Kamu bisa membicarakan perusahaan sebesar BeTrust dengan enteng tanpa canggung. Lantas kenapa kamu menerima tawaran menjadi karyawan magang di perusahaan kecil ini?"
Pertanyaan Elroy seolah menyadarkan Nadira akan statusnya saat ini. Ia bahkan tak menyadari bahwa sedari tadi ia sudah berbicara lantang pada atasanya itu. Sikapnya yang tak pernah gentar menghadapi siapapun kembali menyeruak menghadapi cecaran pertanyaan dari atasannya itu.
Perempuan itu lantas menarik nafas demi menenangkan hati. Ia tak mau sikap arogan kembali menguasai dirinya. Pikiannya mencari jawaban tepat agar bisa membuat atasannya itu memahami maksudnya tanpa terdengar arogan.
"Saya belum berpengalaman dalam bekerja, Pak. Jadi tentu saja dengan senang hati saya memerima kesempatan untuk bisa belajar banyak dari perusahaan ini."
Elroy menyunggingkan senyum miring mendengar jawaban Nadira. Perempuan itu semakin mengagumkan dengan jawaban yang dia berikan. Mengelak dari pertanyaan yang ia lontarkan dengan cara elegan sehingga tak memberi celah bagi lelaki itu untuk semakin memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Meski Elroy sesungguhnya kesal karena tak bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan, tapi ia menyukai sikap yang Nadira tunjukkan.