
Dengan langkah gontai Nadira memaksakan kakinya terus menuruni anak tangga. Entah mengapa, rasanya ia enggan sekali untuk pulang. Namun, tak ada lagi alasan baginya terus menetap di kantor.
Project iklan yang sedang mereka garap beberapa waktu belakangan sudah rampung semua. Hingga tak perlu memaksa ia dan rekannya untuk tinggal lebih lama di kantor demi mengejar target. Padahal Nadira justru berharap ia diminta lembur. Bila perlu hingga dini hari. Sampai pagi pun tak akan jadi soal bagi perempuan yang saat ini menguncir kuda rambutnya secara sembarang. Asal ia punya alasan untuk tidak mengharuskannya kembali ke apartemen Alex malam ini.
Perempuan itu menepis segala pikiran yang berkelabat di kepala. Ia lantas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. kemudian mengubah fokusnya pada seseorang yang nampak sibuk membenahi meja kerjanya.
"Hai, Ran … " sapa Nadira seraya menghampiri meja resepsionis.
"Hai Nad … Udah mau balik?" tanya Rani seraya mendongakkan kepala menatap Nadira dengan tas selempang tersampir di bahunya.
"Yup … " jawab Nadira seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Lu belom balik?" Perempuan berkulit putih mulus itu balik bertanya pada Rani dikarenakan memang sudah memasuki jam pulang kantor.
"Ini mau balik kok. Lagi beresin ini dulu," ucap Rani yang sedang menekan tombol shut down pada keyboard komputer.
"Oh ya, besok jadi ke mall?" tanya Nadira saat sudah berada persis di samping meja resepsionis.
"Jadi dong. Besok gue jemput ya?!"
"Sip … Entar wa aja yah jam berapanya."
"Siap bos," balas Rani seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ya udah deh, kalau begitu gue duluan yah," imbuh Nadira lagi sembari melemparkan senyum hangat.
"Oh iya Nad, hampir aja gue lupa. Tadi ada yang nyariin, Lu," sambar Rani cepat hingga membuat temannya itu menghentikan langkahnya.
"Nyari gue?" tanya perempuan itu memastikan pendengarannya.
"Iya … Tadi dia nanyain karyawan sini yang namanya Sherly. Gue bilang ga da lah. Terus dia nanyain elu. Pas gue mau panggilin lu, dia bilang ga usah. Dia tungguin lu di luar aja katanya," jelas Rani panjang lebar.
"Siapa?" tanya Nadira masih dengan kerutan dalam di dahinya.
"Gue ga nanya namanya. Tapi kayanya gue pernah liat dia kesini kok. Kalo ga salah … waktu itu dia bareng Mbak Talitha," ujar Rani seraya memutar bola matanya ke sudut kiri seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
Nadira semakin memperdalam kerutan di dahinya. Ia sempat tersentak mendengar penuturan Rani. Satu-satunya orang yang terlintas di pikiran Nadira hanyalah Alex, sang suami.
"Ap mungkin itu Mas Alex?" tanya Nadira dalam hati. "Tapi rasanya ga mungkin Mas Alex datang kemari hanya untuk mencariku," hati perempuan itu berperang dengan logikanya.
"Orangnya masih nungguin ga yah?" tanya Nadira kemudian.
"Ga ngerti deh gue. Soalnya udah dari tadi sih. Ada kali dua puluh menitan," ujar Rani santai.
"Yaudah deh, gue liat dulu. Siapa tau masih nungguin," desis Nadira seraya mempercepat langkahnya.
Belum sampai pintu ke luar, seseorang mencegat perempuan itu. Tangan Nadira di cekal dan di tarik hingga memaksa perempuan itu berbalik menghadap sang pencekal.
"Mau kemana lu buru-buru?" ucap sang pencekal dengan nada tinggi.
Nadira mengernyitkan alis bingung menatap sosok perempuan yang tak sedikitpun menarik simpatinya. Perempuan yang saat ini tengah membidiknya penuh emosi.