
"Jadi sekarang Elu balik lagi ke rumah keluarga Dinata?" Bola mata Vanya membulat sempurna mendengar segala cerita Nadira.
Nadira hanya menjawab pertanyaan Vanya dengan anggukan kepala. "Karena itu gue berani ajak elu ketemuan. Genta tau sekarang gue tinggal sama Mas Alex. Jadi dia enggak akan berani macem-macem sama Mama, karena dia dibawah perlindungan gue sama Mas Alex," jelas Nadira.
"Hidup lu dari dulu drama banget sih, Nad," ucap Vanya yang sudah mulai mengganti panggilan pada sahabatnya itu. "Enggak pernah lempeng. Ada aja masalahnya," ucap Vanya seraya menghembuskan nafas berat.
"Udah elu-nya dipaksa deketin Ravka, jadi cewek murahan buat ngerayu dia. Taunya pas elu udah cinta beneran, malah di suruh nikah sama Alex. Sekarang di kejar-kejar sama Kakak sendiri."
"Tapi gue bersyukur, Van. Dari semua kejadian ini, gue banyak belajar jadi pribadi yang lebih baik."
"Gue sih, cuma berharap elu bisa nehajalanin hidup atas kemauan elu sendiri, Nad. Enggak cuma hidup karena mengikuti kemauan orang lain. Dulu eku hidup di setir sama Bokap elu. Bahkan sekarang juga elu hidup di rumah keluarga Dinata karena memenuhi permintaan Kakeknya Alex kan?!"
"Tapi kali ini gue seneng ngelakuinnya, Van. Baru kali ini gue ngikutin maunya orang lain tapi gue merasa bahagia dan tenang," ucap Nadira dengan mata yang sudah mulai basah.
"Duh, jangan nagis dong, Nad. Kan gue pengen liat elu happy terus." Vanya menghamoiri Nadira dan membawa perempuan itu ke dalam pelukan hangat.
"Gue itu kangen banget sama elu," lanjut Vanya.
"Gue juga kangen banget sama elu. Cuma elu orang yang paling ngertiin gue," ucap Nadira terisak.
"Oh iya, selain kangen, gue sebetulnya mau minta tolong sama elu," ucap Nadira seraya melepaskan pelukannya pada Vanya.
"Tolong sesekali, Lu liat kondisi Mama di penthouse-nya Mas Alex. Gue mungkin enggak akan bisa sering-sering temenin Mama selama tinggal di rumah Kakek Bayu. Kasian Mama sendirian di sana. Soalnya gue bilang dia enggak boleh kemana-mana."
"Elu tenang aja kalau cuma itu gue pasti bisa. Gue bakal sering jenguk Tante Shinta."
"Gue mau minta tolong satu lagi sama elu," ucap Nadira ragu. "Tapi, ini agak berbahya. Jadi kalau elu enggak bisa bantu, gue bisa ngertiin."
"Elu kan udah kenal gue lama. Enggak ada yang bisa bikin gue takut. Termasuk bokap sama kakak elu, enggak akan bikin gue gentar," sambar Vanya.
Nadira tersenyum lega mendengar kesediaan temannya. Tanpa ia beritahu sekalipun, Vanya sudah bisa menebak bahwa apa yang akan dia minta berhubungan dengan Ayah dan Kakaknya.
Gue akan bikin rencana dulu. Setelah itu gue akan hubungin elu. Kita ketemuan lagi untuk membahas lebih detail.
"Oh iya, gue punya nomor baru yang diregistrasi bukan atas nama gue. Kita bisa komunikasi lewat situ. Jadi elu engga perlu hubungin gue lewat orang lain."
Nadira mengulas senyum lega memiliki seorang sahabat seperti Vanya yang selalu bisa mengerti kondisnya. Bahkan perempuan itu bisa memahami, saat Nadira menghubungi Vanya melalui Rani tanpa menyebutkan nama Nadira.
Beruntung banyak rahasia diantara mereka yang bisa meyakinkan Vanya untuk menemuinya di kantor Alex, meski orang yang tak di kenal yang menghubungi sahabatnya itu.