
"Nad, lu bawa mobil kan? Gue boleh nebeng gak?" tanya Aviva saat Nadira sedang merapikan meja kerjanya.
"Boleh, emang lu baliknya kemana?" tanya Nadira masih berkutat dengan semua berkas di atas meja tanpa menoleh pada Aviva.
"Gue mau nebeng sampe bengkel mobil yang deket pertigaan. Tadi mekaniknya telpon, katanya mobil gue udah beres."
"Gue ikutan nebeng dong," sambar Ais seraya cengengesan.
"Emang lu balik kemana? Bukannya rumah lu beda arah?" celetuk Aviva.
"Barusan laki gue ngabarin kalau dia jemputnya telat. Nah kan kantor dia enggak jauh dari pertigaan juga. Yah sekalian lah gue nebeng, biar gue aja yang nyamperin dia ke kantornya," jawab Ais.
"Halah, bilang aja lu kepo sama mobil barunya Nadira. Pake nyari-nyari alesan segala."
"Yaelah, Va orang beneran laki gue masih di kantornya. Dari pada gue cengok nungguin di sini, mending gue ikutan kalian kan. Yah sekalian nyobain mobil barunya Nadira lah, mobilnya cakep," jawab Ais dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya.
"Yaudah yuk, buruan," ucap Nadira menghentikan perdebatan dua temannya.
"Laki lu tajir pasti ya," ucap Ais masih penasaran.
Nadira hanya menjawab pertanyaan Ais dengan senyuman. Padahal ia sudah berusaha mengalihkan perhatian kedua temannya agar tak membahas soal suaminya.
"Ya tajir lah pasti. Kalau enggak mana mungkin bisa beli BMW buat bininya," sambar Aviva.
"Seingat gue yang waktu itu kasih kunci mobil elu ke Rani, asistennya Pak Alex. Makanya gosip itu jadi gede," ucap Ais membuat jantung Nadira berdenyut.
Wajah perempuan itu memucat seketika saat temannya mulai membicarakan gosip itu lagi. Ia merasa bingung bagaimana cara menghindari pertanyaan teman-temannya. Kecurigaan temannya itu tentu punya dasar yang kuat hingga akan sulit baginya untuk mengelak.
"Emang suami lu ada hubungan apa sama asistennya Pak Alex, Nad?" tanya Aviva membuat Nadira makin salah tingkah.
Baru saja hendak mencari jawaban untuk mengelak, Nadira dikejutkan dengan pemandangan di lobi kantor. Seorang pria tengah duduk di sofa ditemani wanita cantik dengan pahanya yang mulus.
Sontak wajah Nadira memerah menahan geram melihat tingkah Thalita yang kecentilan pada lawan bicaranya yang tak lain adalah Alex.
"Eh, Nad. Lu mau kemana?" tanya Aviva saat Nadira sudah memutar tubuhnya dan hendak kembali ke lantai atas.
Ais meyenggol lengan Aviva seraya menunjuk pada Thalita yang sedang melancarkan aksinya mendekati Alex. Perempuan itu bahkan menumpangkan tangannya secara terang-terangan ke paha Alex.
"Udah, Nad. Enggak usah perdulikan si nenek lampir itu. Kalau dia berani macem-macem sama elu, biar kita yang ngadepin," ucap Aviva meraih tangan Nadira demi menahan langkah perempuan itu menghindari Thalita.
"Bingung gue sama tuh orang. Perasaan dia yang nyebar gosip kalau Nadira itu pelakor. Lah dia sendiri apa namanya kalau bukan pelakor? Udah tau tuh cowok punya istri, masih aja disikat," omel Ais.
Nadira tak punya alasan untuk membantah teman-temannya. Lagipula untuk apa dia lari? Bukan dia yang sedang menggoda pria lain, tapi justru suaminya yang sedang bergenit-genitan dengan perempuan lain. Jadi sudah seharusnya laki-laki itulah yang merasa tak enak hati padanya bukan sebaliknya, pikir Nadira.