
Nadira meletakkan tas ke atas meja di sudut kamarnya. Ia lantas membuka lemari dan mencari pakaian ganti untuk dibawa ke kamar mandi.
Meskipun kini ia sudah menjadi istri dari seorang Alex Dinata seutuhnya, rasa malu masih terus merayapi jika harus berganti pakaian di hadapan sang suami.
"Mas, ngagetin aja sih," jerit Nadira tertahan saat Alex memeluknya dari belakang.
Lelaki itu menumpangkan dagunya pada bahu Nadira.
"Aku sudah dari tadi pengen peluk kamu. Habis kamu gemesin banget. Kalau gak inget Rena mau berangkat ke paris besok, udah aku batalin janji ketemu dia hari ini."
"Apaan sih, Mas," ucap Nadira tersipu malu.
"Aku tuh pengen mandangin wajah kamu yang gemesin kalau lagi cemburu," ucap Alex seraya mendaratkan bibirnya di pipi Nadira.
"Sepertinya aku menyukai di dekati oleh para wanita," bisik Alex kemudian tepat di telinga Nadira.
Sontak Nadira meradang. Baru saja ia tersipu mendengar ucapan lelaki itu, tapi sekarang Alex susah membuatnya kembali kesal.
Dengan paksa ia melepaskan tangan sang suami yang memeluknya dengan erat. Nadira menjauh dari sang suami dan menghentakkan kakinya menuju kama mandi.
"Aku punya banyak kenalan wanita yang rela melemparkan dirinya padamu. Apa mau ku kenalkan?" tanya Nadira seraya mendengkus.
Dengan sigap Alex menarik tangan Nadira, hingga wanita itu berbalik padanya. Alex menggamit pinggang Nadira dan merapatkan tubuh Nadira hingga menempel pada tubunya. Alex menarik dagu Nadira dan memaksa perempuan itu menatap matanya yang bersinar penuh kebahagiaan.
"Aku bukan senang karena didekati oleh wanita-wanita itu. Tapi aku senang karena bisa liat wajah cemburu kamu yang gemesin."
Suara serak Alex membelai telinga Nadira. Rasa kesal membuncah seketika saat lelaki itu menggodanya. Nadira memukulkan tangannya pada dada Alex untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Kamu bener-bener gemesin kalau lagi marah gini," ucap Alex tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Bikin aku tambah cinta," ucap lelaki itu dengan perasaan mendalam.
Wajah Nadira memerah seketika mendengar pengakuan sang suami.
"Kamu suka liat aku kesel, marah, terus jantungan, gitu? Biar bisa ganti istri sekalian," oceh Nadira cemberut antara kesal dan bahagia.
"Aku minta maaf. Aku gak akan bercanda kayak gini lagi. Tapi jangan pernah ulangi kata-kata kamu barusan," bisik Alex di telinga Nadira. "Aku berharap, kita bisa menua bersama. Membangun keluarga kecil kita yang bahagia."
Alex menatap manik mata di hadapannya dengan penuh cinta. Menyalurkan perasaan yang tak terungkap melalui tatapannya yang mendalam.
Nadira bisa melihat betapa besar rasa cinta Alex dari tatapan matanya. Perasan yang kini juga tengah ia rasakan. Ingin sekali ia menghabiskan sisa umurnya hanya bersama lelaki di hadapannya ini hingga maut memisahkan. Namun, mimpi itu terusik oleh satu kenyataan yang harus ia hadapi.
"Tapi gimana dengan Mama Erica? Gimana kalau Mama meminta kita pisah? Mama masih marah banget sama aku," ucap Nadira ragu dengan sorot mata sendu.
"Aku tahu caranya gimana bikin Mama enggak marah lagi dan maafin kesalahan kita. Mama pasti akan nerima kamu lagi seperti dulu," bisik Alex dengan kerling nakal menggoda.
"Gimana caranya?" tanya Nadira antusias.
Bola matanya yang sendu berubah seketika. Tatapannya penuh semangat mendengar ucapan lelaki itu, tanpa menyadari kerlingan nakal yang dikirimkan Alex padanya.
Alex mengendurkan pelukannya pada Nadira. Kemudian mundur satu langkah memberi celah antara tubuhnya dan sang istri.
"Bikin kehidupan baru tumbuh di dalam sini," ucap Alex seraya mengusap lembut perut Nadira, mengirimkan gelenyar di sekujur tubuh wanita itu.
"Aku yakin, Mama akan melupakan semua amarahnya kalau kita bisa cepet-cepet kasih dia cucu," bisik Alex serak di telinga Nadira.
Wajah Nadira kembali merona seketika saat jemari Alex mulai bermain di atas tubuhnya.
**********************************
Maaf yah, dua hari kemaren nyelesain urusan real life dulu, jadi gak bisa diajak ngehalu..
Btw, kemaren aku itu minta kritikan bukan karena ada yang kritik pedas karya aku. Tapi akhir2 ini aku lagi asik baca komen, tapi malah jarang nemuin kritik dari kalian. Palingan keitung jari. Sebagai penulis amatiran, kadang aku butuh kritik yang membangun sesuai novelnya. Karena mungkin aku sering alpa atau kelewat hingga menimbulkan plote hole. Dengan baca kritikan kalian, aku jadi evaluasi apa yang kurang sama tulisanku dan meminimalisasi plote hole yang timbul. Aku justru berterima kasih sama kalian yang udah mau kasih masukan sama aku atau negor kalau ada yang kurang sesuai or keluar jalur.
Terimakasih banyak untuk dukungan kalian buat aku.. Apapun itu bentuk dukungannya. Kamsahamida.. luv u all..