PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 15# Kehilangan Fokus



"Woiii ... " Jerit Kemal seraya menepuk tangannya di depan wajah Nadira.


"Apa sih lu ah ... ngagetin aja," ucap Nadira terlonjak.


"Ngelamun mulu dari tadi. Ada masalah apa sih?" tanya Kemal menghenyakan tubuhnya di sebelah Nadira yang sedang bengong sembari memegang stroryboard.


"Gue janji hari ini bakal nemuin Kakek Bayu di rumahnya," lirih Nadira mengembalikan fokusnya untuk menyelesaikan pekerjaan.


"Mau ditemenin ga?" tanya Kemal yang selalu mengetahui apa saja yang terjadi pada perempuan yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


Menjadi anak tunggal dari otang tua tunggal terkadang membuat Kemal kesepian. Ibunya telah lebih dulu menghadap Sang Pencipta di saat Kemal masih dalam buaian. Berulang kali Kemal memaksa Ayahnya untuk mencari tambatan hati. Namun, apa mau dikata, lelaki tua itu justru betah menyendiri.


Karena itu sejak kehadiran Nadira dan Ibunya membuat Kemal bersemangat. Mereka membawa warna baru bagi dirinya. Rasa sayang tumbuh begitu saja pada perempuan yang memperlihatkan ketegaran menghadapi hidup, saat mendengar kisahnya yang mengharu biru.


"Ga usah lah. Gue harus ngadepin semuanya sendiri."


"Yaudah ... Kalo gitu, jangan pikirin itu sekarang. Fokus aja dulu sama kerjaan. Kalau Aldi sampe liat lu ngelamun mulu, abis lu kena damprat. Gue tu bukan sebulan dua bulan kerja bareng dia. Orangnya tegas kalau lagi serius." Kemal mengingatkan Nadira sebelum beranjak meninggalkan perempuan itu berkutat dengan storyboard di tangannya.


Kemal sempat mengusak rambut Nadira seraya melemparkan tatapan lembut yang di balas senyuman oleh perempuan manis yang rambut panjangnya ia ikat ke belakang. Terlihat sekali bagaimana Nadira begitu nyaman dengan semua perhatian yang dicurahkan Kemal. Lelaki yang sudah ia anggap sebagai pengganti Genta.


Sementara tak jauh dari sana, tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan interaksi keduanya dangan tatapan menyalang.


Dadanya turun naik menahan geram karena gemuruh yang tercipta akibat aksi sepasang anak manusia yang membuat jiwa kelelakiannya di uji. Harga dirinya seolah dicabik saat melihat perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya yang sah bermesraan di depan umum.


"Hei, kamu lagi liatin apa sih?" suara centil Thalita mengalihkan pandangan Alex dari Nadira.


"Ada perlu apa?" tanya Alex dingin.


"Cari makan yuk."


"Saya kesini buat kerja bukan buat makan," tegas Alex masih memasang tampang dingin.


Lelaki itu sudah mengembalikan tatapannya pada perempuan yang masih asik bergelut dengan pekerjaannya. Mengecek satu persatu properti yang akan mereka gunakan untuk pemotretan hari ini.


Thalita mengikuti arah pandang Alex dan mendapati Nadira sebagai objek perhatian Lelaki di sebelahnya itu. Membuat Thalita menatap Nadira dengan raut masam.


"Apa cakepnya sih tuh cewek sampai bisa narik perhatian Alex? Gue aja yang udah berbulan-bulan ini ngedeketin dia ga pernah berhasil. Pokoknya gue ga boleh kalah sama cewek kampungan itu. Liat aja, elu itu bukan tandingan gue cewek kampung," desis Thalita dalam hati seraya meremas kedua tangannya.


"Oh iya Lex. Kamu ada perlu apa kesini? Bukannya kamu bilang ga akan terlibat sama pembuatan iklan seluruh produk perusahaan kamu?" Thalita mencoba menarik kembali perhatian Alex padanya. "Untung aku dedikasi tinggi sama pekerjaan. Walaupun bukan bagianku, tapi aku tetap bertanggung jawab penuh sama proses pembuatan iklan ini. Makanya aku mampir kesini dan kita malah ketemu. Emang kita jodoh kali yah?!" ujar Thalita percaya diri dengan gaya kecentilan.


Hal iti justru membuat Alex semakin muak pada sikap perempuan disampingnya itu. Alex bukannya tidak tahu apa tujuan Thalita berusaha mendekatinya. Perempuan itu bahkan sudah pernah mencoba menyodorkan tubuhnya pada Alex. Namun, tak sedikitpun Alex tertarik meliriknya apalagi membawa perempuan jenis Thalita ke dalam hidupnya.


Karena kerjasama ini justru bisa mempertemukan ia dengan perempuan yang selama ini menghilang tak tau rimbanya. Setidaknya kali ini, ia bisa memenuhi permintaan Kakeknya untuk menyelesaikan persoalan pernikahannya yang selalu dibiarkan terombang ambing tanpa kejelasan.


"Kalau kamu memang berdedikasi tinggi pada pekerjaan? Untuk apa kamu disini? Bukankah sebaiknya kamu menunjukkan kinerja kamu?" sindir Alex telak.


Thalita hanya bisa memberengut dan segera berlalu dari sana tanpa kata. Meninggalkan Alex seorang diri asik memperhatikan Nadira dari kejauhan.


Tiba-tiba ia melihat Nadira tersungkur karena kakinya terbelit kabel. Hampir saja Alex berlari menghampiri perempuan yang sedang meringis kesakitan, ketika sebuah suara menggelegar, menghentikan kesibukan semua orang dan memandang ke arah asal suara.


"Nadira ... Kamu niat kerja ga sih? Kalau ga niat kerja, mending kamu pulang."


"Maaf, Al. Aku ga sengaja."


"Iyalah ga sengaja. Kalau sengaja udah ku pecat kamu," hardik Aldi membuat Nadira pucat pasi saat mendengar kata pecat keluar dari mulut lelaki itu.


Ia tidak mau sampai diberhentikan dari pekerjaan karena keteledorannya. Dalam hati perempuan itu terus merutuki kebodohannya karena tidak bisa fokus pada pekerjaan.


"Lihat gara-gara kecerobohan kamu, setting nya harus di tata ulang. Dan itu buang-buang waktu." Tunjuk Aldi pada beberapa setting yang bergeser karena tertarik kabel yang membelit kakinya.


"Aku minta maaf, Al. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Mata Nadira sudah berkaca-kaca.


Tak hanya ketakutan akan diberhentikan dari pekerjaan. Akan tetapi, rasa malu saat dibentak di depan umum membuat perempuan itu mengkerut dan menahan sekuat tenaga dinding pertahanan agar tidak jebol. Akan semakin memalukan jika ia sampai meneteskan air mata di depan banyak orang.


Nadira menahan nafas saat menyadari betapa sulitnya bekerja dan menjadi pegawai rendahan hanya demi uang yang dulu ia anggap tak ada harganya.


"Aw ... " jerit Nadira saat mencoba bangkit.


Perempuan itu memegang pergelangann kakinya yang terasa menusuk. Saat ia tak kuat menopang berat tubuhnya, Kemal sudah lebih dulu merengkuh Nadira.


"Itu kenapa kaki nya?" tanya Aldi melunakkan suaranya.


"Paling keseleo," jawab Kemal asal sembari menuntun Nadira menuju kursi terdekat.


"Aviva, kamu ambil alih kerjaan Nadira. Denis benerin lagi ni setting. Bentar lagi kita mulai. Jangan sampai molor dari jadwal." perintah Aldi tegas dan mulai sibuk kembali pada pekerjaanya sendiri.


"Udah Mal, ga apa-apa. Lu kerja aja. Nanti Aldi marah lagi," ucap Nadira tak enak hati saat Kemal berjongkok di lantai dan memijat pergelangan kaki Nadira.


"Gue bukan anak buahnya Aldi. Jadi dia ga bakal bisa marah-marah sama gue. Lagian kerjaan gue cuma jeprat jepret doang kok, nyantai lah. Udah ada yang handle kerjaan yang lain." Kemal berucap santai.


Lelaki itu memang selalu membawa tim videography yang bisa di andalkan. sehingga ia tak perlu repot bolak-balik mengecek pekerjaan anak buahnya. Setelah memastikan semuanya beres, Kemal tinggal fokus pada kameranya sendiri. Dia akan mempercayakan anggota timnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.