
Kerutan dalam tercetak jelas di dahi Alex, menghadirkan aroma ketegangan di dalam ruangan itu. Nadira beringsut menjauh dari sang suami. Jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Hatinya ketar ketir memikirkan apa yang sedang terjadi.
Nadira tak dapat menyingkirkan pikiran negatif yang tiba-tiba memenuhi kepala. Keluarganya sudah pernah mencoba menggoyahkan BeTrust. Tak menutup kemungkinan masalah yang Alex hadapi kali ini juga adalah ulah keluarganya lagi. Apalagi ia tahu betul baik ayah maupun kakaknya adalah orang yang bersedia melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Mas, apa ini ada hubungannya dengan keluarga ku?" tanya Nadira saat Alex membanting map itu ke atas meja.
Wanita itu tak dapat menahan kegelisahannya hingga pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Alex mengendurkan ketegangan di wajahnya. Menggantikannya dengan senyuman tipis di bibir yang ia berikan untuk Nadira.
"Tidak usah pikirkan masalah perusahaan. Aku pasti akan menyelesaikan semuanya dengan baik," ucap Alex penuh kelembutan dalam nada bicaranya.
Nadira menarik nafas panjang. Kekhawatiran itu tak serta merta pergi begitu saja bersamaan dengan ia membuang nafasnya perlahan. Rasa takut itu masih bersemayam dalam dada.
Alex mendekati Nadira, membelai pipi mulus wanita yang sedang diterpa gundah tersebut.
"Sebaiknya kamu kembali ke kantor mu terlebih dahulu. Nanti kita bicarakan lagi, jika aku sudah tau masalah detilnya seperti apa," ucap Alex menenangkan Nadira.
Wanita itu lantas menepiskan senyum di bibir. Ia berusaha terlihat tenang agar Alex tidak mengkhawatirkannya. Persoalan yang sedang suaminya hadapi mungkin bukanlah persoalan mudah, untuk itu ia tak mau menambah beban pikiran Alex.
"Baiklah, Mas. Aku kembali ke kantor ku dulu. Lagipula ini sudah lewat jam makan siang. Kamu juga jangan lupa makan. Jangan terlalu asik sama pekerjaan hingga melupakan makan," ucap Nadira kemudian.
"Maaf, aku tidak bisa menemani mu makan siang."
Nadira sempat menoleh sekilas pada sang suami yang sudah kembali tenggelam dalam data yang tadi di bawa oleh Nino. Lelaki itu nampak serius dengan apa yang tengah ia kerjakan. Menandakan bahwa apa yang tengah terjadi saat ini butuh perhatian penuh darinya.
"Siska, boleh minta tolong pesankan makan siang untuk Mas Alex dan Nino?" pinta Nadira pada Siska sesaat ia baru keluar dari ruangan Alex.
"Oh iya, Bu. Saya akan pesankan makan siang. Mau makan siang yang seperti apa, Bu?" tanya Siska sigap.
Nadira menyebutkan pesanannya pada Siska. Memberikan beberapa instruksi pada wanita yang mencatat titahnya di selembar kertas.
Sebetulnya Nadira sudah merencanakan akan mengajak Alex makan siang bersama. Hanya saja kejadian tak terduga, membuat ia mengurungkan niatnya dan harus kembali ke kantor lebih Cepat dari rencananya.
"Makasih yah, Sis," ucap Nadira sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kantor Alex.
"Sama-sama, Bu," ucap Siska seraya tersenyum ramah.
Nadira lantas mengemudikan mobilnya dengan pikiran melayang. Ia khawatir akan apa yang akan dipikirkan oleh keluarga Dinata -terutama Mama Erica- jika saja benar masalah di BeTrust disebabkan oleh keluarganya. Apalagi kejadian ini bertepatan dengan kehadirannya dalam keluarga Dinata.
"Apa kamu masih akan percaya sama aku, Mas, jika semua itu benar ulah keluarga ku?" desis Nadira dengan mata berkaca-kaca.
******************************************
Yang nanyain cerita Nino sabar yah... udah mulai oret2 garis besar kisah Nino... cuma kisah Nino gak akan publish sebelum PI tamat... heheheee jadi sabar ye... masih ada dua konflik secara keseluruhan di PI setelah itu baru end.. Nah kalau udah end baru bisa lanjut kisah Nino.. biar aku gak keteteran.. ini aja udah mulai keteteran.. selingkuh itu capek guys... wkwkwkwkwkkkk