
Genta melepaskan cengkraman tangannya pada Shinta. Matanya menyasar langsung tepat kepada Alex.
"Bisa-bisanya Lu mengakui, kalau Lu juga anak Mama tapi membiarkan Mama tinggal di tempat ga layak seperti ini?" geram Genta kehilangan kesabaran.
"Seharusnya perkataan seperti itu Lu tujukan untuk diri Lu sendiri. Anak macam apa Lu yang membiarkan orang tuanya terlantar?"
"Kurang ajar." Genta menghampiri Alex dengan tangan terkepal, bersiap memberikan satu tinjuan untuk lelaki di hadapannya itu.
"Berhenti Genta. Jangan buat keributan di sini, sudah malam," sambar Shinta panik.
"Sekarang, Mama ikut aku pulang."
"Mama tidak akan ikut kamu pulang," seru Nadira tegas.
"Begini saja. Kita akan tanyakan pada Mama, dia mau ikut siapa, Lu atau Gue?" Alex menengahi pertengkaran Nadira dan Genta. "Kita harus hargai keputusan Mama."
"Mama harus ikut aku pulang. Mama ga boleh tinggal di tempat seperti ini lagi. Untuk apa sih Mama pake kabur segala hanya demi membela anak ga tau diri itu?" sembur Genta seraya menyipitkan mata menatap Nadira.
Nadira hanya membuang muka tak membalas tatapan menuduh dari Kakaknya. Nadira mengalihkan tatapannya pada wajah kuyu di hadapannya. Melihat sosok ibunya yang nampak kelelahan dan tak berdaya menghadapi siatuasi saat ini.
Padahal baru saja mereka merasakan kedamaian dengan saling memberikan cinta satu sama lain. Namun, dengan mudahnya kedamaian itu akan direnggut paksa dari mereka kembali. Satu-satunya cara adalah dengan menyambut bantuan dari Alex. Hanya saja, perempuan itu tidak dapat mengerti apa yang melatari Alex membela mereka.
Tidak mungkin benci yang begitu kentara Alex tunjukkan dalam sorot matanya saat mereka bersitatap memudar begitu saja, pikir Nadira mulai berkelana. Akan tetapi, hal yang paling utama saat ini adalah menyelamatkan mereka berdua terutama Ibunya dari Genta. Ia tak akan membiarkan Ibunya dibawa Genta untuk kembali ke rumah Ayahnya. Entah apa yang akan menimpa wanita yang sangat dikasihinya itu jika ia membiarkan hal tersebut sampai terjadi.
"Ma, Mama ikut aku aja yah. Mas Alex hari ini nganterin aku pulang karena emang mau ngajak kita berdua untuk tinggal bareng dia." Kata itu akhirnya meluncur dengan lancar dari bibir Nadira.
Perempuan itu harus berusaha meyakinkan Ibunya bahwa mereka lebih baik ikut Alex saat ini. Nadira sadar betul, kalau ia tidak meyakinkan wanita paruh baya di hadapannya itu, maka ibunya pasti akan memilih mengikuti Genta demi melindungi dirinya.
Mereka sama-sama tahu, seperti apa Ferdi, lelaki yang pernah sangat dicintainya dengan segenap hati itu akan melakukan apa saja demi mencapai tujuannya. Entah apa yang direncanakan dan diinginkan oleh Ayahnya itu kali ini.
"Aku tahu Papa pasti tidak terima aku dan Mama menentangnya dan meninggalkan rumah begitu saja." Batin Nadira berkecamuk.
Namun, kenyataannya mereka berdua masih bisa bertahan sampai detik ini. Nadira akan melakukan apa saja untuk terus bertahan agar bisa lepas seutuhnya dari cengkraman ayahnya, meski ia harus melewati rintangan yang besar. Nadira membulatkan tekadnya.
"Baiklah, Mama akan ikut dengan kalian," ucap Shinta dengan mata berbinar.
Harapan dan do'anya selama ini akan keberlangsungan rumah tangga putrinya itu terkabul. Ia hanya berharap Nadira pada akhirnya merengkuh kebahagiaannya sendiri.
"Mama tidak bisa ikut mereka," sergah Genta mencoba menghalangi ibunya.
"Mama akan ikut dengan ku. Ayo, Ma kita pulang." Nadira meraih tangan Shinta dan membawanya berlalu dari hadapan Genta.
Sementara di belakangnya Alex menatap tajam Genta. Lelaki itu berupaya memberi peringatan melalui sorot matanya agar tak mengusik Nadira dan ibunya.
"Siyal," desah Genta memukulkan tinjunya di udara meluapkan kekesalannya karena tak berhasil membawa Shinta ikut dengannya.
Mau tak mau Genta harus membiarkan ibunya mengikuti Alex. Genta sadar, Alex bukanlah orang sembarangan yang bisa ia lawan dengan terang-terangan.
Meski selama ini, reputasi Alex selalu berbisnis dengan cara yang benar. Namun, adik iparnya itu mengetahui segala bisnis kotor yang ia dan ayahnya geluti. Itu menandakan bahwa Alex tak bisa mereka libas begitu saja. Membuat ia harus mengambil langkah mundur dan mengatur strategi lain demi merebut kembali ibunya.
Genta akhirnya membiarkan mereka berlalu begitu saja tanpa perlawanan. Hingga ketiga orang itu menghilang di balik ujung gang sempit. Barulah ia melangkah menyusuri jalan yang sama untuk segera berlalu dari tempat ini dan bersiap menghadapi murka ayahnya atas kegagalannya kali ini.
********************************************
Hallo ha ....
aku mau ngucapain terimakasih banyak untuk kalian semua yang udah bersedia memberikan vote nya untuk ku.. rasanya bener-bener luar biasa liat cover PERFECT IMPERFECTION nangkring di 10 besar.. Mudah2an bisa terus beratahan sampai dua minggu ke depan...
oh ya buat yang minta crazy up aku ga bisa janji ya.. soalnya kemaren aku kasih crazy up karena upnya cuma seminggu sekali.. sekarang alhamdulillah aku mulai bisa atur waktu untuk up rutin.. tapi aku akan usahain sesekali akan kasih dua part dalam sehari.. tapi ga langsung yah.. misalnya aku up pagi yang satu lagi sore atau malam.. tapi aku ga janji yah.. aku usahakan..
sekali lagi terimakasih banyak atas dukungan kalian untuk aku.. luv u all....