
"Hey … kok ngelamun?!" ucap Alea menarik Nadira dari tatapannya yang menerawang jauh.
Alea mendaratkan tubuhnya persis di sebelah Nadira, setelah ia meletakkan dua cangkir yang dibawanya ke atas meja.
"Minum dulu deh." Alea menyodorkan secangkir teh rosella dicampur madu kepada Nadira.
"Makasih yah," ucap Nadira seraya melemparkan senyum tipis yang terlihat dipaksakan.
Nadira menyeruput teh digenggaman tangannya. Perempuan itu menyesap teh sembari menarik nafas panjang. Rasa sesak di dada kian menjadi hampir satu minggu belakangan.
Sejak kejadian malam itu, Alex seolah menghindar dari dirinya. Alex akan berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum Nadira terbangun dari tidurnya. Lelaki itu baru pulang, saat malam sudah menuntun Nadira ke dalam mimpi.
"Kamu sebetulnya kenapa? sudah berapa hari ini aku lihat kamu seperti banyak pikiran." Pertanyaan Alea seperti membelai telinga Nadira dan menembus hingga ke dalam hati.
Tentu saja saat ini ia sangat membutuhkan seseorang sebagai tempat bersandar. Seseorang yang mau merelakan bahunya buat Nadira menumpahkan tangis. Namun, ia malu untuk mengungkapkan permasalahannya. Hanya Vanya yang bisa ia percaya. Sayangnya, ia tak dapat bertemu Vanya sesuka hati karena menyimpan rencana yang membuat ia tak boleh terlihat berdekatan dengan sahabatnya itu.
"Aku enggak apa-apa kok," jawab Nadira seraya menahan tangis yang seakan siap membludak dari dalam diri.
Rasa sungkan tergurat jelas di wajah Nadira. Ia tak menyangka Alea punya hati begitu mulia. Perempuan itu tak hanya pemaaf, tapi juga perhatian bahkan pada perempuan yang pernah menyakitinya.
"Kamu terlihat murung beberapa hari ini. Apa kamu masih memikirkan perkataan Tante Erika?" tanya Alea hati-hati.
Nadira menggelengkan kepala cepat. "Sebetulnya aku enggak terlalu memikirkan ucapan Mama. Aku bisa memahami kenapa Mama sampai marah seperti itu. Aku emang pantes diperlakukan seperti itu."
Akhirnya tangis itu luruh dari mata Nadira. Ia tak lagi mampu membendung perasaannya. Rasa bersalah itu masih terus menghantui.
Alea menarik tangan Nadira dan membawa tangan itu ke dalam genggaman tangannya seraya menepuk-nepuk punggung tangan Nadira dengan lembut.
"Hei ... itu sudah berlalu. Yang penting kamu menyadari kesalahanmu dan mau berubah. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua."
"Serahkan semuanya pada yang di atas. Mohon pengampunan dari-Nya. Hanya Dia yang bisa menenangkan hatimu," ucap Alea lembut.
"Apa aku pantas memohon ampun? A-aku bukan perempuan baik seperti kamu," ucap Nadira canggung.
"Allah itu Maha Pemaaf. Kamu hanya perlu bertaubat. Mintalah petunjuk pada-Nya untuk menyelesaikan semua permasalahan kamu."
"Tapi aku enggak ngerti gimana caranya. Aku enggak pernah mengenal Tuhan selama hidupku. Agama hanya sekedar pelengkap identitas ku selama ini," ucap Nadira ragu.
"Aku akan membantumu untuk belajar, kalau kamu mau belajar."
"Aku mau ... aku mau," sambar Nadira cepat dengan mata berbinar.
Ale menyunggingkan senyum tulus melihat antusias Nadira. Ia melihat bahwa perempuan di hadapannya ini benar-benar sosok yang berbeda dengan perempuan yang dulu memusuhinya. Perempuan yang secara terang-terangan berusaha menghancurkan rumah tangganya.
"Aku senang kalau kamu mau belajar," ucap Alea membalas senyum Nadira.
"Bagaimana kalau kamu sekarang sholat dulu? Biar hati tenang. Berdoalah supaya Allah segera menghapus gundah dalam hatimu. Hanya Dia sebagai tempat kita mengadu dan berkeluh kesah untuk semua permasalahan yang menghampiri."
"Aku enggak tau gimana caranya sholat. Aku belum pernah sholat seumur hidupku," ucap Nadira seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Mau mulai belajar sekarang?" tanya Alea lembut.
Nadira mengangkat kepalanya perlahan. Menatap Alea yang tersenyum dengan menawan. Tak terasa air mata kembali membanjiri pipinya. Sebuah senyuman terlukis di bibir Nadira. Seketika hatinya begitu lega. Ia bersyukur dipertemukan dengan bidadari berwujud dihadapannya ini.
Seketika Nadira merengkuh Alea ke dalam pelukannya seraya terisak hingga sesenggukan.
"Terimakasih, Al. Terimakasih ...." ucap Nadira di sela tangisannya.