PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 29# Tidak Peka



"Kamu belum menjawab pertanyaan ku," ujar Aldi di balik setir kemudi.


"Pertanyaan yang mana?" ranya Nadira seolah tak dapat menerka kemana arah pertanyaan Aldi, meski sebetulnya ia sadar betul pertanyaan mana yang dimaksudkan oleh lelaki yang nampak fokus pada jalanan di hadapannya.


"Oh ayolah Nadira. Aku tahu kamu orang yang cukup cerdas hanya sekedar memahami maksud pertanyaan ku," balas Aldi membuat Nadira tergugu di tempatnya.


"Apakah aku harus menjawabnya?" ucap Nadira masih mengelak.


Aldi menghela nafas pasrah saat mendapati Nadira terus menghindar dari pertanyaannya. "Kamu punya hak untuk tidak menjawab. Lagi pula masalah pribadi mu memang tidak wajib kamu sampaikan padaku. Hanya saja, kalau masalah ini berimbas pada pekerjaan kita, aku tidak bisa membela mu jika tidak mengetahui duduk persoalannya."


"Aku mengerti," ujar Nadira dengan pasti, membuat Aldi menepiskan raut wajah menyerah dengan penuh pengertian.


Nadira sadar betul, cepat atau lambat statusnya bisa saja terkuak, jika ia terus bersinggungan dengan Alex. Namun, untuk saat ini, menutupi semuanya adalah pilihan yang paling tepat bagi dirinya.


Sisa perjalanan mereka selanjutnya hanya di isi dengan pembicaraan ringan untuk mengurangi ketegangan. Baik Aldi maupun Nadira berusaha mencairkan suasana dengan membahas pekerjaan. Mengalihkan pikiran dari pertanyaan-pertanyaam yang terus mengganggu isi kepala.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di pelataran parkir kantor De' Advertising. Taman yang mereka gunakan sebagai lokasi shooting beberapa hari belakangan, terletak tak jauh dari kantor. Sehingga memudahkan akses mereka dari kantor menuju lokasi shooting maupun sebaliknya.


"Sepertinya Kemal ada di sini juga," ujar Aldi saat turun dari mobil yang di kendaraianya. "Baguslah, biar urusan ini bisa segera di bicarakan."


Nadira juga melongok ke arah Kawasaki Ninja ZX-25R berwarna biru metalic yang biasa dikendarai oleh Kemal terpakir di halaman kantor. Perasaan tak tenang kembali menguasai hati. Ingin rasanya ia segera berlari mencari keberadaan lelaki yang beberapa waktu belakang hadir bak kesatria dalam hidupnya. Namun, rasa hormatnya pada Aldi, bisa menahan kakinya untuk diajak berkompromi.


Nadira rasanya sudah tak sabar mengusir penasaran yang menelusup dalam jiwa saat mengetahui Alex bersitegang dengan Kemal. Beruntung ia masih bisa menata hati untuk lebih bersabar. Perempuan itu memilih berjalan tenang bersisian dengan Aldi seraya menahan gejolak yang terus bergemuruh dalam hati.


"Ran, bos ada di ruangan?" tanya Aldi pada Rani di meja resepsionist saat mereka sudah memasuki lobi kantor.


"Ada pak. Bos hari ini ga kemana-mana," jawab Rani santai.


"Nad, saya mau menemui Bos dulu. Kamu jangan kemana-mana," instruksi Aldi hanya diangguki oleh Nadira.


"Oh ya satu lagi. Kalau kamu ketemu sama Kemal, kasih tau dia untuk tetap di kantor ini. Jangan kemana-mana," tambah Aldi yang bisa menebak bahwa Nadira pasti segera mencari keberadaan lelaki itu.


"Oke," jawab Nadira singkat seraya menyunggingkan senyum canggung.


"Ran, kamu tahu ga dimana Kemal?" tanya Nadira pada Rani setelah punggung Aldi menghilang dari pandangannya.


"Biasanya dia selalu nongkrong di pantry sih."


"Yaudah deh, aku cari dia kesana dulu yah."


Setengah berlari, Nadira menuju pantry. Kelegaan menghiasi wajahnya saat dari kejauhan ia mendapati sosok Kemal sedang duduk santai seraya bercanda tawa dengan sang calon istri.


"Kemal ... " sapa Nadira saat perempuan itu sudah memangkas jarak di antara mereka.


"Kenapa, Lu?" tanya Kemal santai menadapati Nadira di hadapannya dengan raut wajah penuh tanya.


"Ralat ya, bukan berantem. Gue di serang tanpa peringatan. Yah gue bales lah ... " jawab Kemal acuh.


"Bisa jelasin maksud Lu apa?"


"Ga ada yang perlu gue jelasin. Kalau Lu mau tau alasannya, Lu tanya aja laki Lu," sembur Kemal menemukan pelampiasan kekesalannya akan tindakan Alex yang memukulnya tiba-tiba.


"Mal, Gue serius." Nadira melempar sorot mata tajam pada Kemal.


"Gue ga ngapa-ngapain ya, Nad. Dia yang dateng-dateng ngehajar Gue. Tanya aja sama El kalau ga percaya," ujar Kemal nampak kesal karena adu jotosnya dengan Alex kembali di bahas.


Nadira memutar kepalanya menghadap Elika dan melemparkan sorot mata tajam pada gadis itu.


"Duduk dulu sih ... Minum dulu, biar adem," ucap Elika santai mendapat tatapan tajam dari Nadira.


Elika mengambil sebuah botol jus yang tadi di bawanya dan memyerahkannya pada Nadira. Perempuan itu hanya mengikuti perintah Elikas dengan cepat. Mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi bar dekat Kemal dan menyeruput minuman yang di sodorkan oleh Elika.


"Kamu makan dulu deh. Udah lewat jam makan siang loh ini. Kamu sih di tungguin makan siang bareng malah ga muncul-muncul." Elika masih berujar santai sembari mengeluarkan bekal yang tadi di bawanya untuk Nadira.


"Gue ga laper, El," desah Nadira tak sabar.


"Bang Kemal bener. Pas kita lagi makan, tiba-tiba ada laki-laki dateng dan langsung mukul Bang Kemal." Elika akhirnya menjawab pertanyaan yang membuat Nadira gelisah sedari tadi.


Mata Nadira mendelik terkejut mendengar penuturan Elika. Ia takemyangka Alex bisa bertindak sembrono seperti itu. Selama ini ia mengenal Alex sebagai pribadi yang dewasa dan tidak emosian.


"Tapi kenapa?" desis Nadira.


"Kayanya dia cemburu liat kedekatan Elu sama Bang Kemal. Dia ngira Bang Kemal ngeduain Elu sama Gue," lanjut Elika memberi penjelasan.


Mata Nadira semakin membulat sempurna. Sesuatu yang sepertinya sangat mustahil mendengar seorang Alex Cesario cemburu padanya.


"Cemburu? Lu ngaco deh," tepis Nadira menyuarakan isi hati.


"Bener kan Gue bilang dari tadi. Ne cewek ga bakalan peka," sambar Kemal di sebelahnya.


"Tapi masalahnya ... "


"Bang, Lu di suruh ke ruangan Bos sekarang. Kalian semua," jerit Rani di depan pintu pantry memotong ucapan Nadira.


"Siyal ... Ada apa lagi sih?" seru Kemal yang bisa menebak untuk apa ia di panggil ke ruangan Bos besar De' Advertising.


Apa lagi kalau bukam soal adu jotosnya dengan Alex. Pasti seseorang sudah menyampaikan masalah tadi pada Elroy. Sehingga ia harus menemui lelaki itu bersama dengan Elika. Namun, untuk apa Nadira juga ikut di panggil ke ruangan? Dahi Kemal berkerut dalam mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri di dalam kepalanya.