PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 12# Belum Siap



Setelah puas mengeluarkan segala himpitan yang menyesakkan dada, Nadira keluar dari bilik toilet. Membasuh wajahnya beberapa kali dengan air yang mengalir di westafel dan mengeringkan wajah menggunakan tisu toilet.


Ia membuka tas, merogoh compac powder serta lipstik dari sana. Nadira lantas menepuk wajahnya menggunakan bantalan spons dan mengoles tipis lipstik di bibirnya. Setidaknya cukup menyamarkan wajah sembab sehabis menangis.


Nadira menatap wajahnya pada pantulan cermin dan mengangkat garis bibirnya melengkung ke atas. Memaksakan sebuah senyum terpatri di sana. Sebelum akhirnya ia meninggalkan toilet dengan wajah sedikit menunduk menuju lift.


"Sherly? Kamu Sherly kan?!" sebuah sapa membuat Nadira menoleh pada sang pemilik suara.


Nadira tersentak mendapati sosok perempuan ayu di balut hijab. Perempuan yang sudah sangat ia kenal. Jantungnya kembali menghentak dengan kencang. Bergemuruh menghadapi situasi yang tak pernah terbayangkan olehnya.


Ada sesal, malu, canggung dan bingung bercampur jadi satu. Jujur saja, Nadira belum siap menghadapi hari ini. Tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya bahwa mereka akan berjumpa lagi. Meski kemungkinan itu ada, tapi ia berasumsi hal itu sangat kecil dan entah kapan bisa terjadi. Namun, segala asumsi termentahkan begitu saja.


Sosok itu kini berdiri di hadapannya, menyapa lembut seolah tak ada masalah.


"Maaf, permisi ... " ucap Nadira hendak berlalu dari sana.


Ia hampir saja melangkahkan kakinya kedalam lift yang masih terbuka. Sebelum suara perempuan itu kembali menahannya.


"Tunggu Sherly, ada yang mau aku bicarakan."


Nadira menghentikan ayunan langkahnya, lantas berbalik menghadapi perempuan yang dulu seringkali ia sakiti. Perempuan yang kerap menghadirkan kecemburuan akibat kebodohannya sendiri. Permempuan itu tak lain adalah Alea, istri dari Ravka, mantan tunangannya.


"Nadira ... namaku Nadira." Ucap Nadira kembali menekan tombol lift yang kadung tertutup.


Alea menautkan kedua alisnya bingung mendapati jawaban perempuan di hadapannya. Perempuan yang dulu selalu memasang tampang mengajak perang ketika bertemu dengannya, kini agak berbeda. Tak ada yang berubah dengan wajahnya. Hanya gaya dan tingkahnya tak seperti perempuan yang sempat ia kenal. Ditambah ia mengaku bernama Nadira. Membuat Alea semakin salah tingkah.


"Maaf kalau aku salah orang, tapi kamu mirip banget sama Sherly," ucap Alea meragu.


Satu hal yang membuat Alea bertambah ragu. Tak ada keterkejutan atau kebingungan saat ia mengenal sosok perempuan di hadapannya ini. Kalaupun memang perempuan ini orang yang berbeda, tentu saja ia akan memasang ekspresi aneh menyadari seseorang menyamkan dirinya dengan orang lain.


"Tak ada lagi Sherly. Yang ada hanya Nadira," ucap Nadira membuat Alea akhirnya memahami.


"Oke ... Nadira ... aku perlu bicara sama kamu."


"Maaf, tapi saat ini aku buru-buru. Ada yang sedang menungguku di bawah."


"Kalau begitu, bisa kita bicara nanti?"


"Aku bekerja di De' Advetising sekarang. Kalau ada perlu denganku, silahkan mencariku kesana. Aku bisa ditemui jam empat setelah jam kerja ku selesai. Atau saat jam makan siang. Aku permisi," ucap Nadira cepat tanpa menunggu jawaban dari Alea saat dentingan lift kembali berbunyi.


Nadira segera menyelinap ke dalam lift tanpa melemparkan pandangan pada Alea yang ia tinggalkan begitu saja.


Saat pintu lift merapat, Nadira mengangkat kepala seraya bernafas lega. Ada sesal tiba-tiba merambat dalam dada. Kesempatan untuk meminta maaf ia lewatkan begitu saja.


Akan tetapi, sungguh hatinya benar-benar belum siap menyingkirkan segala gengsi dan merendahkan diri demi sebuah permohonan maaf. Hidupnya kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Seharusnya itu cukup untuk membayar semua kesalahannya selama ini.


Apa perlu ia menghiba pada mereka yang pernah ia hina sedemikian rupa? Pikiran Nadira kalut dengan berbagai hal yang mendera batinnya. Menyerangnya bertubi disaat bersamaan.


"Hei ... ngelamun aja lu." Kemal mengibaskan tangan di hadapan Nadira.


"Ngapain lu dari tadi? Ke toilet aja lama banget? Terus itu muka kenapa?" berondong pertanyaan Kemal lemparkan pada perempuan yang masih memasang wajah kuyu.


"Enggak apa-apa. Yang lain kemana?" tanya Nadira mengalihkan pembicaraan.


"Tuh, lagi nungguin di coffe shop. Aldi ngantuk berat." Tunjuk Kemal pada sebuah kedai kopi ternama di Jakarta yang membuka cabang di dekat loby gedung. "Lu nya kelamaan, jadi gue nyusulin elu. Takut lu kenapa-napa," oceh Kemal sembari berjalan disampingnya.


"Lah, emang gue kenapa? Orang gue gak kenapa-napa."


"Ga kenapa-napa apanya? Orang mata lu aja merah gitu? Kenapa, Lu kangen sama suami Lu? Sakit hati dia cuekin, terus nangis bombay di toilet?" Lagi-lagi berondong pertanyaan yang lebih mirip penghakiman dimuntahkan Kemal dengan berapi-api.


"Apa sih lu, ngaco."


Kali ini Nadira tak berniat mengungkapkan apa yang terjadi pada Kemal. Biarlah ia pendam sendiri lara di hati. Tak mau sampai hal itu membebani lelaki yang kini menjadi sahabat setia dan membuatnya semakin salah paham pada Alex.


"Makanya gue bilang berkali-kali sama Lu. Jan galak jadi cewek. Buka hati lu, kasih kesempatan cowok-cowok deketi elu biar cepet move on."


"Jangan mulai lagi deh, Mal," gerutu Nadira sebal.


Meski mulut menggerutu tapi hati Nadira menghangat. Kemal selalu bisa membuat hati perasaan Nadira lebih baik setiap dilanda kegalauan walaupu mereka sekedar mengobrol ringan.


"Heh, cewek keras kepala. Dikasih tau itu didengerin, bukan ngebantah terus." Kemal menggeram kesal. "Kalau gue liat-liat, elu tuh cocok loh sama Elroy," ucap Kemal tanpa beban.


"Lu makin ngaco deh, Mal."


"Ngaco apanya?! Lu single, dia juga single. Cocok dong." Seringai lebar menghiasi wajah Kemal.


Sontak Nadira menyikut dada Kemal. "Gue itu tercatat sebagai istri orang di KUA. Gimana bisa lu bilang gue single?"


"Gemes gue sama lu sumpah ... Ih ... " Kemal membalas sikutan Nadira dengan mencubit gemas kedua pipi gadis itu.


"Lepasin woi ... " Nadira memukul lengan Kemal seraya terkekeh.


Merekapun larut dalam canda tawa seraya berjalan memasuki coffe shop.


Sementara di belakang mereka Alex mengepal tangannya geram melihat tawa renyah Nadira. Tawa yang sempat dia nikmati selama beberapa bulan pernikahan mereka sebelum perempuan itu menghilang entah kemana. Kini perempuan itu kembali seolah membuka luka yang tersimpan di sudut hati terdalam.


**********************************************


hey... hey...


aku mau makasih sama kalian semua.. kemaren mataku penuh bintang dan love2 pas liat rank masuk 50 besar.. hua... bahagianya.. terluv buat kalian semua pokoknya...


terimakasih atas apresiasi kalian sama tulisanku yang masih banyak kekurangannya ini..


kam sa ham nida..