PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 6# Seandainya



"Mal, thanks yah, berkat lu akhirnya gue bisa dapet kerjaan," ujar Nadira pada lelaki yang berjalan bersisian dengannya.


"It's okay. Nyantai aja sih," jawab Kemal seraya mengibaskan tangannya sembarang. "Jadi lu kerja bagian apa?"


"Gue masuk tim kreatif dan produksi. Yah katanya sih, disana masih double-double gitu deh kerjaannya. Karena emang kekurangan orang jadi anak-anak tim kreatif dan tim produksi digabung gitu."


"Wah ... kita bakal sering ketemu dong entar."


Nadira menoleh pada Kemal seraya mengerutkan keningnya. Selama ini yang Nadira ketahui, lelaki di sebelahnya ini adalah pekerja lepas. Jiwa bebasnya membuat ia merasa enggan terikat pada satu perusahaan.


"Perusahaan tempat lu kerja itu, sering pakai jasa gue dalam pembuatan iklan. Hampir semua foto di dinding kantor elu itu, gue yang jepret," ucap Kemal seolah memahami arti tatapan yang dilempar oleh Nadira. "Bahkan kadang pake model kenalan gue. Makanya mereka percaya sama gue waktu rekomendasiin elu. Kebetulan mereka emang kekurangan orang dan butuh dalam waktu deket. Soalnya gue denger, mereka dapet tender dari perusahaan yang lumayan besar gitu deh," jelas Kemal panjang lebar.


"Perusahaan besar mau kasih project iklan ke agency advertising kecil?" tanya Nadira heran.


"Gue denger sih, menejer marketing-nya itu punya koneksi sama pemilik perusahaan yang kasih project."


Nadira membulatkan bibirnya sebagai tanda mengerti akan penjelasan Kemal.


"By the way, lu emang mau cari apaan sih di pasar malem? tumben-tumbenan minta anter gue ke pasar malem segala."


"Cari baju buat kerja. Kan besok gue udah mulai kerja, tapi gue ga punya baju."


"Cari baju kerja di pasar malem?! Gimana sih lu? Kirain gue lu mau nyari daster," ledek Kemal seraya terkekeh.


"Lu kira gue emak-emak di sekitar rumah?! Dasteran mulu tiap hari?!" timpal Nadira sebal seraya meninju lengan Kemal.


"Ya siapa tau. Pan lu sekarang makin hari muka elu mirip emak-emak. Jutek mulu sih lu jadi cewek. Estu CS ngomongin lu mulu, tuh. Katanya, lu cakep-cakep galak."


"Bodo lah mau mereka ngatain gue apa kek. Males gue ngeladenin cowok-cowok tengil ga ada kerjaan. Lagian nih ya, emangnya mereka masih mau godain gue, kalau tau gue istri orang?" ketus Nadira makin kesal setiap kali Kemal membicarakan soal pria-pria usil yang tinggal disekitar rumah mereka.


Rumah Kemal memang terletak tak berjauhan dengan petakan yang sekarang di tinggali oleh Nadira dan Ibunya. Bahkan Kemal dan Ayahnya lah yang mencarikan mereka tempat tinggal termasuk membayarnya di muka untuk satu tahun penuh.


Tak hanya itu, Ayah Kemal juga memberikan sejumlah uang sebagai bekal bagi Nadira dan Ibunya sampai Nadira bisa memperoleh pekerjaan.


Sayangnya tak mudah mencari pekerjaan pada masa krisis global seperti sekarang-sekarang ini. Apalagi semua dokumen penting yang dimiliki Nadira tertinggal di rumah Ayahnya saat ia dan Ibunya memutuskan pergi dari rumah Ayahnya tanpa membawa apapun selain selembar pakaian di badan. Beruntung, sang penolong mereka yang ternyata adalah sahabat Ibunya saat tinggal di panti asuhan, bersedia memberi pertolongan.


"Mana ada yang percaya lu udah married? Secara nih ya, lu itu tinggal di lingkungan sini udah lebih dari setengah tahun. Belum pernah sekalipun orang ngeliat elu ada yang ngapelin. Pacar aja lu ga punya, apalagi laki," cerocos Kemal.


"Ih, elu tuh ya kalau gue kasih tau suka ngeyel. Mau sampe kapan lu nungguin laki lu yang ga tanggung jawab?" ejek Kemal seraya menaikkan sebelah alisnya meremehkan.


"Bukan dia yang salah, Mal. Tapi gue," desah Nadira.


Entah untuk yang keberapa kalinya ia selalu membela sosok yang jauh di mata, tapi selalu bernaung di hatinya di depan Kemal.


"Tapi seenggaknya, dia nyari elu kek. Selesein apa yang ada diantara kalian. Biar lu ga gantung kaya gini. Sayang elu punya muka cakep, kalau dianggurin doang. Gue punya banyak kenalan cowo ganteng dan mapan yang bersedia mencintai elu dengan tulus," ujar Kemal dengan wajah kesal.


"Gantengan mana sama elu?"


"Yah gantengan gue lah," sosor Kemal cepat yang disambut tawa dari bibir tipis Nadira.


"Kepedean Lu," Nadira memonyongkan bibirnya.


"Gue serius, Nadira."


"Modelan elu mana percaya gue, punya temen-temen yang bertanggung jawab," ledek Nadira asal ceplos.


"Ih ... songong. Jangan salah lu. Gini-gini gue orang bertanggung jawab. Ga bakalan gue serahin elu sama cowo-cowo sembarangan. Tenang gue bakalan jagain elu," sosor Kemal seraya megehentakan dadanya pongah.


"Udah deh Mal. Cari pembahasan lain aja napa sih. Barusan Mama bahas ini, kenapa lu jadi ikut-ikutan? Janjian lu ya sama Mama?" Nadira menaikkan sebelah alis seraya melemparkan tatapan tajam.


"Ah, serah elu deh. Dasar keras kepala," decak Kemal seraya mengacak-acak rambut Nadira.


"Ehh ... songong. Kunciran gue jadi berantakan nih," desis Nadira seraya menarik kepalanya menjauh dari tangan Kemal.


"Halah ... kunciran jelek begitu doang lu banggain."


Bukannya semakin menjauh, Kemal justru merangkul Nadira dan membaaa gadia itu keadalam rengkuhan sebelah tangannya. Selama perjalanan mereka berbincang seraya menertawakan hal sepele


Rangkulan Kemal membuat hati Nadira terasa berdetak. Ada rasa yang sangat ia rindukan mendapat perlakuan seorang cowok urakan nan cuek seperti Kemal. Perhatian Kemal membuat Nadira teringat akan Genta, saudara satu-satunya yang Nadira miliki. Tak pernah ia mendapat kehangatan dari seorang Genta seperti yang ia dapatkan dari lelaki berperawakan manis disampingnya. Membuat hatinya mencelos semakin merasakan kekosongan dalam hati.


"Seandainya Genta seperti elu, Mal. Alangkah bahagianya hidup gue dari dulu. Seenggaknya ada yang akan perduli sama gue. Dan gue ga akan dimanfaatkan cowok brengsek macam Deryl," lirih Nadira dalam hati seraya melirik pria yang usianya hanya terpaut dua tahun dengannya.