
"Itu bukan urusanku." Alex mematahkan perkataan Nadira demi menutupi perasaan yang menyelinap ke dalam hati.
Ia tak ingin terlihat senang lantaran mengetahui bahwa tuduhannya terhadap pria yang sempat dihajarnya itu sama sekali tak beralasan.
"Aku sama sekali tidak bisa memahami apa yang mendasari perlakuannmu terhadap Kemal seperti tadi siang. Hanya saja, aku memohon satu hal, Mas. Aku harap kamu tidak memcampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Jika kau ingin membalas perbuatan ku padamu, aku akan menerimanya dengan lapang dada," ucap Nadira dengan lega setelah mengeluarkan apa yang menjadi tujuannya menghampiri sang suami selarut ini.
"kamu pikir aku masih melakukan kebodohan sama seperti dulu? Mengacaukan perusahaan hanya karena dirimu?" sindir Alex menghujam tepat ke jantung Nadira.
Pikirannya melayang pada kejadian di awal pernikahan mereka. Saat Alex dengan mudahnya mengabulkan semua permintaan Nadira termasuk bekerjasama dengan perusahaan baru tanpa memeriksa latar belakang perusahaan itu hanya demi menyenangkan hatinya.
Pikiran itu tak pelak menimbulkan nyeri di hati Nadira. Ia menyadari kebodohannya telah menyia-nyiakan perhatian Alex untuk dirinya.
"Bukan seperti itu, Mas. Aku hanya tidak ingin orang lain turut menerima imbas atas kebukuran sikap ku dulu," ucap Nadira dengan wajah pias.
Perempuan itu seperti dikuliti hidup-hidup. Sayatan demi sayatan ia torehkan di lubuk hati terdalam setiap kali mengakui kesalahannya dengan gamblang. Membuat ia semakin menyadari betapa dalam jurang pemisah antara ia dan sang suami.
Nadira merasa diingatkan betapa banyak dosa yang ia lakukan pada Alex sehingga tak pantas untuk mendapatkan maaf. Membuat asa semakin terkubur dalam rasa bersalah yang menggunung.
Namun, bukannya kesal karena disindir, Nadira justru nampak tersenyum puas mendengar perkataan dari Alex. Membuat lelaki itu semakin terheran dengan sikap yang Nadira tunjukkan.
Sikap istrinya itu jauh berbeda sejak terakhir kali mereka hidup dengan berbagi kamar yang sama. Tak ada lagi keegoisan dan arogansi yang perempuan itu nampakkan. Akan tetapi, justru sebaliknya. Nadira terlihat lebih memperdulikan orang lain dibanding dirinya sendiri. Membuat penasaran itu semakin menggerogoti isi hati dan kepala Alex.
"Terimakasih, Mas. Maaf sudah menyita waktumu. Aku permisi," ucap Nadira kemudian.
Perempuan itu lantas memutar tubuhnya dan bersiap keluar ruang kerja Alex. Meski langkah kakinya begitu berat lantaran perasaan membuncah yang ingin terus menatap sang suami, tak membuat Nadira menyurutkan tekadnya. Ia tak lagi boleh larut dalam perasaan yang mengombang ambing dalam diri. Perasaan yang harus ia kubur dalam-dalam jika tak ingin rasa sakit akibat penolakan menghantamnya dengan keras.
Setelah menutup pintu di belakangnya, Nadira menyandarkan tubuhnya di dinding tepat di sebelah pintu ruang kerja Alex seraya mencengkram dadanya erat. Degupan jantung bertalu dengan kencang. Menghantam dadanya dengan kenyataan yang harus ia hadapi.
Nadira memejamkan mata seraya menarik nafas panjang demi menenangkan gejolak yang terus mendera setiap kali ia bertatap muka dengan lelaki yang tak sedikitpun pergi dari angan, meski ia sudah mencoba dengan sangat keras selama berbulan-bulan menyingkirkan Alex dari benaknya.
Hanya dengan bertemu lelaki itu beberapa kali, mampu membangkitkan perasaan yang coba ia pendam di sudut hati terdalam hingga ia berharap tak lagi dapat menggapainya. Namun, hanya dengan memandang wajah rupawan sang suami mampu menarik perasaan itu ke permukaan dan membuat hati Nadira berdenyut nyeri.