Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 12



Hanya tinggal berapa cm lagi bibir Lim dengan bibir Anna bersentuhan.


Tangan Anna bergetar ketakutan, matanya mulai berkaca-kaca.


Anna mendorong tubuh Lim menjauh dan pergi meninggalkan Lim dengan air mata yang sudah menjatuhi pipinya.


Lim mengepalkan tangannya kesal karena memikirkan diri sendiri. Lim sama sekali tidak memikirkan perasaan Anna.


" Tch. " desis Lim.


" Kap! " panggil Okumura dari luar kelas 1-1.


" Anna menangis. " lanjut Okumura.


Lim terdiam, ia hanya duduk dikursi dengan pandangan tertunduk.


" Ini hanya permainan, kenapa dia tidak ingin? " tanya Lim tidak mengerti.


" Mungkin karena ada suatu alasan kap. Kap juga harusnya mengerti. " jawab Okumura. " Lebih baik kap menemui Anna. "


" Untuk apa, untuk membuatnya menangis lagi? Tidak bisa, aku tidak bisa mengontrol diri sendiri saat didekat dia. "


" Ah ini membuatku frustasi. " kesal Lim seraya keluar dari kelas 1-1.


Lim kembali menuju lapangan. Seluruh siswa-siswi sudah mendapatkan pasangannya masing-masing sedangkan Lim tidak.


Ia hanya duduk sendirian ditribun. Siswa-siswi lainnya bermain game bersama dengan pasangannya.


" Aku sudah bilang, kamu harusnya denganku saja. " kata Hinata mendekati Lim.


Lim hanya menjawab Hinata dengan senyuman simpulnya.


Hinata menepuk punggung Lim perlahan " Bye-bye. " ucapnya seraya pergi kembali bermain game.


Okumura juga mendapatkan pasangan sehingga ia tidak bisa menemani Lim yang tengah patah hati.


••


1 Minggu kemudian..


Pergantian baju dari Musim Dingin ke Musim Panas.


Selama seminggu Lim telah menyelesaikan pelajaran tambahannya. Dan hanya tinggal pergi menuju Chiba untuk pelatihan bersama SMA Sense.


Selama seminggu pula, Lim tidak pernah berbicara kembali dengan Anna. Saat bertemu pun hanya saling mengabaikan seperti pertama kali bertemu.


Lim memainkan bola basket yang berada di lapangan untuk membuat pikirannya kembali jernih.


" Anna sialan. Kenapa kamu tidak bisa menghilang dari pikiranku! " Seru Lim seraya memasukkan bola basket dengan three-points.


Bola itu hanya memantul dan tidak masuk ke dalam ring.


" Badanmu tegang lagi! " Tegas Hirahata yang tiba-tiba datang mendekati Lim.


" Maaf kap, sepertinya akhir-akhir ini pikiran saya tidak bisa tenang. "


" Kenapa karena perempuan lagi? "


" Maaf kap. "


" Jangan pikirkan perempuan lagi, kamu harus fokus dengan latihanmu untuk Inter-High. Apalagi besok kita akan melawan SMA Sensen selama 3 hari. 3 hari lagi kamu akan melakukan pelatihan di Pantai. "


" Saya tahu kap, tapi saya hanya binggung. Apa saya harus meminta maaf atau tidak. "


" Apa makusdmu? "


" Ada suatu kesalahan kap yang aku buat. "


" Hah dasar lelaki. "


" Saya benar-benar binggung kap. "


Hirahata mengambil bola basket dan memasukkan bola tersebut kearah ring dengan melakukan gaya lay up.


" Kamu tinggal minta maaf saja secara langsung, dan jelaskan semuanya. Itu tidak terlalu sulit kan? Kamu hanya menyulitkan diri kamu sendiri karena takut dia tidak akan memaafkan kamu. Benar bukan? " nasihat dari Hirahata membuat mata Lim melebar terkejut.


Ucapan Hirahata membuat Lim tersadar bahwa selama ini Lim hanya takut Anna tidak akan memaafkannya.


" Jangan takut sebelum mencoba. Benar kan kap? " ujar Lim membuat Hirahata tersenyum. " Itu kamu tahu. "


" Haha, saya benar-benar bodoh. Terimakasih kap. " kata Lim seraya berjalan kembali menuju kelasnya.


4:00 p.m


Bel berbunyi pulang sekolah.


Lim terus berpikir bagaimana caranya ia meminta maaf dengan Anna, menemuinya secara langsung di kelasnya akan membuat Lim menjadi perbincangan lagi.


Kerumah Anna, takut disangka Lim menjadi penguntit Anna.


" Ini benar-benar sulit! " keluh Lim merasa frustasi dengan dirinya sendiri.


Berjam-jam Lim terus memikirkan, dan tidak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 5:00 p.m


Kelasnya sudah sangat kosong dan hujan sebelum musim panas sudah mulai turun dengan sangat deras.


Lim berjalan memasukkan kedua tangannya dalam saku untuk keluar kelas.


Menganti sepatunya di loker, Lim mengambil payungnya dari tempat penitipan payung berada dekat loker.


Ia berjalan keluar dan tidak sengaja melihat seorang perempuan yang sepertinya sedang terjebak karena hujan.


" Kamu tidak bisa pulang? Ingin meminjam payungku terlebih dahulu? " tanya Lim seraya mendekati perempuan itu.


Perempuan tersebut menoleh kearah Lim dan ternyata dia adalah Anna.


Lim mengedipkan matanya secara cepat, tidak tahu bahwa ini adalah Anna.


Karena situasi ini membuat Lim tidak bisa berbicara dan hanya keheningan diantara mereka.


" Kamu terjebak hujan? Tidak membawa payung? " tanya Lim menghentikan keheningan tersebut.


" Tidak. " jawab Anna singkat


" Ingin pulang bersama? "


" Tidak. "


" Kalau begitu, aku pinjamkan payung ini. Kamu pulang lebih dahulu saja. "


" Tidak. "


Anna terus menjawab tidak, sehingga Lim tidak tahu harus berkata apa lagi.


Anna mengangkat tangannya keatas merasakan hujan dikulit tangannya. " Aku hanya ingin menikmati hujan. " kata Anna.



Lim melihat rintikan hujan tanpa henti, suara suara decekan hujan yang terjatuh di tanah.


" An. " Panggil Lim dengan nada rendah.


" Aku... " ragu Lim.


" Tidak senggaja. "


" Aku minta maaf. Karena sudah memaksa kamu. "


Seketika hujan berhenti. " Hujan reda, aku pergi dulu. " ucap Anna seraya berlari menuju rumahnya.


" Apa dia malu atau bagaimana? " tanya Lim.


" Hei hujan turun lagi, aku ingin lebih lama dengan Anna. "


Keesokan harinya.


Lim serta tim Seido pergi menuju Chiba menggunakan bis sekolah.


Tim Seido melakukan izin kepada Sekolah selama 1 minggu.


Chiba.


Sesampai mereka di sekolah SMA Sensen, sekolah olahraga dengan para atlet yang sangat hebat.


Tim Seido berkumpul di depan lapangan basket, berbaris menunggu Tim Sensen datang.


Tidak lama kemudian, Tim Sensen datang dengan pakaian baju tim mereka.


" Selamat datang " ucap Tim Sensen bersamaan.


" Wah, kami terlihat sangat hebat. " gumam Hideyoshi.


" Dai, kapten Tim Sensen " ucap Dai dengan menjulurkan tangannya kearah Hirahata. Hirahata menjawab uluran tangan Dai " Hirahata, kapten Tim Seido. " Ucap Hirahata.


" Apa semua Tim Seido sudah datang? " tanya Dai seraya melepaskan tangannya.


" Sudah. " Jawab Hirahata.


" Ah, gantengnya. "


" Dia siapa? "


" Aku ingin dia sekolah disini. "


" Ah, tampan! " teriak siswi-siswi SMA Sensen yang melihat Lim.


" Cowok tampan mati! " sindir Fudo salah satu tim dari SMA Sensen yang iri melihat ketampanan Lim.


" Hei Fudo, berhenti berkata seperti itu! " tegas Dai.


" Hei Lim, auramu kamu matikan dulu! " Seru Hirahata.


" Dimana pun kamu berada kamu selalu populer. " bisik Okumura kepada Lim.


" Oke sebelum memulai latihan pukul 4 sore, lebih baik memberitahu tempat penginapan kalian. " kata Dai memberitahu.


" Ikuti saya. " lanjut Dai yang berjalan dan diikuti oleh para tim Seido.


Sampai ditempat penginapan yang sangat bagus meski tempat tidurnya menggunakan futon( perangkat tidur tradisional Jepang )


" Lebih baik kalian istirahat terlebih dahulu sampai waktunya jam 4, kita akan langsung melakukan pelatihan. " ujar Dai.


Seluruh Tim Sensen kembali ke Sekolahnya, sedangkan Tim Seido beristirahat terlebih dahulu dipenginapan tersebut.


Lim tidak ingin beristirahat, hatinya terlalu bahagia karena untuk pertama kalinya. Ia melakukan pelatihan bersama sekolah luar dengan Tim Seido.


Lim berjalan mengelilingi sekolah, namun langkah kakinya terhenti saat seseorang menahan lengannya.


Seorang perempuan yang tidak dikenali oleh Lim. " Hallo, nama kamu siapa? " tanya perempuan itu.


" Ah Lim. " jawab Lim. " Aku, Eri. " katanya.


" Kamu bukan dari sekolah ini? "


" Tidak, aku hanya sedang melakukan latihan bersama. "


" Lalu sekolah kamu dimana? "


" SMA Seido. "


" Tokyo? Lumayan jauh "


" Iya. "


" Hei Eri! " panggil suara berat dari arah belakang Lim.


Lim membalikkan badannya, dia adalah lelaki yang tadi menyindir Lim untuk mati.


" Sedang apa kamu disini dengan lelaki itu? " tanya Fudo.


" Dia tampan, maka dari itu aku ingin berbicara dengannya. " jawab Eri.


Fudo mendekati Lim dengan mata yang sangat tajam " Jangan mendekati Eriku! " ucapnya dengan merangkul Eri dan menarik Eri untuk menjauhi Lim.


" Dadah, Lim. Sampai berjumpa lagi. " Ucap Eri seraya melambaikan tangannya.


" Jangan melambaikan tanganmu kepadanya! " tegas Fudo tidak suka.


" Aku juga sudah punya, Anna-ku. " gumam Lim berkhayal.


Lim kembali berjalan lagi mengelilingi SMA Sensen, banyak piala yang sudah diraih oleh SMA Sensen. Dan kebanyakan piala tersebut adalah dari club basket.


" Wah, SMA ini hebat juga. " kagum Lim.


" Sedang melihat-lihat? " tanya Dai tiba-tiba dari belakang.


Lim terkejut " Maaf, aku hanya sedang bosan. "


" Tidak apa-apa, nama kamu siapa? "


" Lim. "


" Ah Lim, kamu menyukai basket? "


Lim tersenyum kecil, sejak ia kecil Lim terus menyukai basket dan tidak pernah bosan. " Sangat suka. "


" Kamu menyukai basket atau perempuan? "


" Kenapa kamu bertanya seperti itu? "


" Karena kebanyakan orang yang sangat menyukai basket akan memilih basket. Jadi kamu memilih basket atau perempuan? "


" Kalau lebih memilih, mungkin aku akan memilih basket. Tapi jika ada perempuan yang memahamiku tentang bagaimana aku sangat menyukai basket, aku akan menghargai perempuan tersebut dan mungkin rasaku nanti akan melebihi rasa sukaku kepada basket. " jelas Lim.


Dai tersenyum " Apa kamu menyukai seseorang? "


" Iya, dia adalah perempuan tanpa perasaan. Dan dia selalu saja kurang peka. "


" Sepertinya kita memiliki nasib yang sama. "


" Maksudnya? "


" Aku juga menyukai seorang perempuan, dan bisa dibilang sangat menyukainya. Sebanding dengan aku menyukai basket. Tapi perempuan itu tidak memiliki hati, dia selalu mengacuhkanku dan bersikap dingin. "


" Dan dia selalu menolak ajakanku. " ucap bersamaan antara Dai dan Lim.


" Kita beneran senasib " ucap Dai.


Lim tertawa " Saya kira hanya saya yang mengalami seperti ini. Ternyata ada yang senasib pula dengan saya. "


" Tapi, saya tidak memiliki waktu banyak. Sebentar lagi saya akan menjadi atlet Jepang, dan tidak memiliki banyak waktu. Maka dari itu saya ingin mencoba untuk berbicara kepadanya meski saya tahu dia pasti akan menolak saya. " kata Dai.


" Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. "


" Kata-kata yang sangat bagus. "


Drettt-Drettt


Lim mendapat sebuah pesan dari Hirahata yang memintanya untuk balik kembali ke penginapan.


" Maaf sebelumnya, saya harus kembali ke penginapan " ucap Lim seraya meninggalkan Dai.


Lim membuka pintu penginapan dan tercium bau gosong dari dalam.


" Bau sekali " keluh Lim mendekati arah dapur.


Terlihat wajah Hirahata yang hitam karena asap gosong. " Kamu tidak apa-apa kap? " tanya Lim.


" Saya gagal memasak. "


" Manajer kemana? "


" Dia tidak ingin izin sekolah jadi dia tidak ikut. Apa kamu bisa memasak? "


Lim membuka jendela agar bau dari gosong tersebut menghilang, dan Lim pun memulai keahliannya memasak.


Seluruh Tim terkagum-kagum kepada Lim.


" Aku merasa iri denganmu, sudah tampan, jago masak. Dan jago basket. Benar-benar pria idaman. " kata Hideyoshi membuat merasa geli.


10 menit Lim selesai memasak Omlete, dan Lim pun membagikannya kepada Timnya yang sudah menunggu dimeja makan.


" Itadakimasu " ucap bersamaan anggota tim.


" Wah enak. " kata Hideyoshi.


" Tidak seperti kapten kita. " sindir Yuki yang membuat Hirahata tersedak.


" Kap, lain kali kamu harus bisa memasak seperti ini. " ucap Kazuma.


" Iya baik. " kata Hirahata dengan nada rendah merasa frustasi.


Selesai mereka makan siang, beberapa anggota ada yang menonton televisi dan ada juga yang tertidur.


Terkecuali Lim dan Hirahata yang berbicara di depan penginapan.


" Tadi kamu bertemu Dai? " tanya Hirahata.


" Iya. "


" Dia bertanya tentang apa? "


" Tentang perempuan atau basket. "


Hirahata tertawa, karena saat Hirahata bertemu dengan Dai pertama kali. Dai juga menanyakan hal yang serupa.


" Dia tidak pernah berubah. " kata Hirahata.


" Lalu jawaban kamu? " Lanjut Hirahata.


" Aku akan memilih basket, tapi jika ada seorang perempuan yang dapat memahamiku. Mungkin aku akan menyukai perempuan tersebut melebihi rasa sukaku kepada basket. "


" Contohnya, Anna bukan? "


" Tidak, Anna tidak bisa memahamiku. Dia bahkan tidak pernah menganggapku ada. "


" Apa seperti itu? "


" Iya. Aku ingin berhenti menyukainya. Tapi, aku tidak bisa mengontrol hatiku sendiri dan berhenti menyukainya. Aku terus menyukainya, bahkan perasaannya semakin membesar. Itu membuatku frustasi karena hanya aku yang memiliki perasaan seperti ini, sedangkan Anna tidak. "


" Memang kamu tahu perasaan Anna sehingga kamu bisa mengasumsikan seperti itu? "


" Tidak, hanya saja Anna terlalu sulit. "


" Kamu ingin memiliki hubungan dengan dia? "


" Iya, hanya kepada dia aku ingin memiliki hubungan. Dan aku benci perasaan seperti ini. "


" Kalau begitu lepaskan agar tidak menjadi kebencian. "


" Aku tidak bisa " Kata Lim menundukkan pandangannya. " Meskipun aku benci dengan perasaan ini, aku masih ingin terus dekat dengan dia. "


Hirahata menepuk pundak Lim perlahan dan menunjuk kearah Dai yang sedang berbicara kepada seorang perempuan.


" Perempuan itu mirip dengan Anna bukan? "


Mata Lim melebar terkejut bahwa ada seseorang yang mirip dengan Anna. Dari cara memandang pun sama, perempuan itu selalu memandang kearah bawah.


" Kamu tahu, Dai sudah menyukai perempuan itu berapa lama? "


Lim menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Dia menyukai perempuan itu dari awal pertama masuk SMA Sensen, dan mencoba menjadi Kapten agar perempuan itu bisa melihat kearahnya meskipun hanya sebentar. "


" Sama seperti kamu. Kamu harus mencobanya Lim, kalau kamu benar-benar serius Anna akan melihat kamu. Dan yakin bahwa Anna akan membuka hatinya untuk kamu. "


Lim terdiam, pikirannya terlalu dangkal untuk memikirkan hal tersebut.


" Maaf, aku masuk ke dalam terlebih dahulu. " Ucap Lim memasuki kembali ke penginapan.


Ia membuka bajunya dan ingin mandi untuk menyegarkan pikirannya kembali. Lim menyalakan shower dan membiarkan air tersebut mengenai kepala Lim.


Rambut Lim basah terkena air yang berjatuhan, Lim menundukkan kepalanya berpikir apakah Anna akan membuka hatinya untuknya.


Butuh waktu berapa lama agar Anna membuka hatinya untuk Lim.


Sampai saat ini saja Anna selalu menghindar Lim. Lim mengigit bawah bibirnya, ia tidak menyukai perasaan seperti ini.


Tapi dalam satu sisi Lim merasa sangat nyaman berada dekat dengan Anna.


" SIAL! " kesal Lim meninju dinding kamar mandi.