Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Anak perempuan itu



30 menit telah berlalu, skor quarter ketiga 75-70. Tim Seido unggul 5 point, permainan Lim yang begitu memukau membuat seluruh penoton terpesona melihat Lim.


Begitu juga dengan Anna yang merasa tidak percaya bahwa orang yang ia lihat saat ini adalah Lim. Ia berbeda saat berada di luar lapangan, di lapangan ia terlihat begitu serius dan sangat memukau.


Keringat yang berjatuhan di pipi Lim membuatnya menyeka keringatnya itu dengan handuk yang ia miliki, Coach memberikan sebuah arahan yang tepat untuk pemain lainnya.


Serta strategi lainnya, seluruh penonton tribun tidak percaya bahwa Raja ke-tiga dapat kejatuhan 5 point oleh Raja ke-empat.


Bel quarter ke empat dimulai, seluruh tim kembali ke dalam lapangan.


Pertandingan pun dimulai kembali dengan sangat sengit, terus mengejar terus belari terus menerus tanpa henti sampai bel pertandingan akhir berbunyi.


Sampai 10 menit kemudian bel pertandingan akhir berbunyi, wasit meniupkan peluit pertanda pertandingan berakhir.


Skor akhir adalah 82-86 yang di menangkan oleh Tim Seido, Tim Seido bersorak bahagia karena kemenangan pertama yang sulit.


Kedua Tim berbaris ke lapangan untuk berterimakasih atas permainan yang sengit tersebut.


Setelah itu mereka kembali ke ruang istirahat tim mereka masing-masing. Anna dan Kaori menunggu mereka di bus, sedangkan untuk para pemain sedang berdiskusi, pendinginan serta arahan dari coach kembali.


Seusai itu mereka langsung menaik ke bus dan kembali untuk pulang. Anna berjalan bersama dengan Lim untuk pulang, namun Anna harus kerumah Lim terlebih dahulu untuk mengambil banner Tim Seido.


Lim yang sepanjang jalan hanya terdiam tidak bicara, wajahnya yang terlihat sangat lelah karena selama 1 pertandingan tadi Lim sama sekali tidak di ganti.


" Besok main jam berapa? " tanya Anna menghentikan keheningan. " Jam terakhir " jawab Lim sambil menguap.


Sesampai di rumah Lim, Anna di perintahkan oleh Lim untuk masuk ke dalam rumahnya untuk menunggu Lim mencari banner-nya sebentar.


Lim yang mencari banner di kamarnya sedangkan Anna melihat-lihat isi rumah Lim, ia melihat sebuah foto-foto masa kecil Lim.


Sampai matanya terhenti saat melihat sebuah foto seorang anak perempuan yang berada di sebelah Lim, kaki Anna bergetar terkejut melihat seseorang yang berada di foto tersebut.


Anna pernah melihat foto tersebut saat SMP, seorang temannya memberikan foto tersebut kepadanya dengan bahagia karena dia telah di adopsi oleh seorang keluarga yang sangat baik.


Ia tidak percaya bahwa Lim adalah keluarga dari temannya itu. Mata Anna telah berkaca-kaca, kakinya terus bergetar tidak henti.


" Ini kotor bagaimana kalau dicuci terlebih dahulu? " Lanjut Lim seraya keluar dari kamarnya.


" Ah.. biar aku saja yang cuci " ragu Anna.


" Kamu tidak apa-apa? " tanya Lim khawatir melihat mata Anna yang berkaca-kaca.


" Tadi mata aku sakit mungkin karena tadi malam aku mengerjakan sebuah tugas " jawab Anna.


" Kalau begitu jangan tidur malam-malam " ucap Lim seraya memberikan sebuah banner kepada Anna.


Anna mengambil banner tersebut dan segera ingin keluar tapi tertahan saat Lim memegang lengannya. " Kenapa? " tanya Anna.


Lim melepaskan genggaman nya tersebut dan berpura-pura menggaruk rambutnya yang tidak gatal tersebut " Tidak maaf "


Suara telepon rumah Lim berdering, Lim segera mengangkat telepon tersebut. Setelah tidak lama kemudian dia segera menutupnya dengan wajah datar seperti ada sesuatu yang tidak beres.


" Kamu tidak apa-apa? " tanya Anna. " Adikku akan liburan musim panas disini, dan kemungkinan besar dia akan datang saat semi final. " Ucap Lim.


Mendengar ucapan Lim yang berkata bahwa adikknya akan datang membuat tangan Anna kembali bergetar, bagaimana bisa ia menghadapi kenyataan seperti ini?


" Kalau boleh aku tanya, nama adikmu apa? "


" Edward Ayaka. "


Anna yang mendengar nama itu tidak sengaja menjatuhkan banner-nya yang berada di tangannya.


Sebenernya kenyataan apa yang harus dihadapi oleh Anna lagi? Dan kenapa takdir tidak pernah berpihak kepada Anna sedikit saja.


Ia baru saja merasakan kebahagiaan, baru saja sebentar tapi kenapa dia harus mendapatkan kenyataan yang menyedihkan seperti ini.


" Kamu tidak apa-apa? " tanya Lim khawatir mengambil banner tersebut dan memberikannya kepada Anna.


Anna tidak mengambil banner tersebut, ia hanya menatap Lim dengan tatapan tajam. Lalu tanpa terduga Anna bertanya dengan asal " Kamu kenapa mendekatiku? "