
Anna berjalan memasuki ruang penyidik, matanya tidak dapat memandang Ryuzaki. Lelaki gila yang sudah membunuh Yuki, untuk berada di dekatnya saja sudah sangat membuat Anna jijik.
" Anna. " Panggil Lim yang berada di dalam ruang penyidik. Anna mengangkat kepalanya melihat kearah Lim dengan mata berkaca-kaca.
" Anna, kamu sudah datang? Silahkan masuk. " Perintah seorang detektif yang ingin Anna memberikan kesaksiannya tentang kejahatan Ryuzaki selama ini.
" Siswa, silahkan keluar. " Kata seorang petugas polisi yang mendorong Lim untuk keluar dari dalam ruang penyidik.
Tetapi, mata Lim tidak bisa berhenti melihat Anna. Hatinya khawatir melihat Anna yang akan berlarut-larut dalam kesedihan.
Sekitar lebih dari 1 jam, Lim menunggu Anna di depan kantor polisi dengan tangan yang terlipat di dada.
Akhirnya, setelah menunggu lama Anna keluar dari kantor polisi dengan pandangan tertunduk.
Semua perkataannya serta unek-uneknya sudah ia keluarkan di dalam kantor polisi.
Kejahatan semua yang Ryuzaki lakukan juga telah Anna beritahu, saat ini keluarga hanya tinggal menunggu kabar tentang Ryuzaki yang ditahan selama berapa tahun.
Umurnya masih terbilang dibawah 17 tahun, pastinya Ryuzaki tidak akan mendapatkan hukuman yang lebih dari 5 tahun.
Detektif meyakinkan itu kepada Anna, Anna tidak bisa menerima. Tapi semua kembali lagi saat Anna mendapatkan Bullyan, mereka juga tidak dapat dihukum lebih dari 5 tahun.
" Ah menyebalkan. " Keluh Anna yang mulai mengingat kembali ingatan buruknya.
Percikan air mata menjatuhi pipi Anna perlahan, lalu Lim mendekati Anna dan menyapanya dengan sebuah senyuman kecil. " Anna. "
" Kamu masih disini? " Tanya Anna kebinggungan.
" Iya. " Jawab Lim.
Anna perlahan melangkahkan kakinya, diikuti oleh Lim yang berjalan di sampingnya.
Hanya ada keheningan diantara mereka berdua.
Sampai akhirnya, Lim yang tidak bisa menahan tangisannya itu mulai menjatuhi air matanya.
" Loh? " Lim kebinggungan. Anna perlahan menolehkan kepalanya melihat air mata yang terjatuh dipipi Lim.
" Kamu baik-baik saja? " Anna mendekati Lim perlahan. " Aku tidak baik-baik saja. " Lim yang tidak bisa berpura-pura baik-baik saja.
Dengan cepat, Anna memeluk tubuh Lim perlahan dan Lim menangis dibahu Anna. Ia mengeluarkan semua kesedihannya di depan Anna.
Bagi Lim, Yuki adalah senpai terbaik yang pernah ada.
Dia selalu mendukung dan membantu Lim, meskipun kadang menyebalkan tapi dia juga selalu memberi saran baik kepada Lim.
Apalagi, Yuki sudah menunggu pertandingan musim dingin yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Ia menunggu, SMA Seido menjadi juara. Dan menunggu Lim dapat memberikan sebuah piala kepada SMA Seido dan menunjukkan bahwa dia adalah kapten yang baik untuk tim Seido.
Belum saja Lim menunjukkan itu semua, kini Yuki sudah tidak ada.
Senyumannya telah menghilang dimuka bumi ini.
Seorang wakil kapten Tim SMA Seido.
3 hari kemudian.
Para anggota tim Seido masih berduka dalam kepergian Yuki.
Begitu juga dengan Okumura yang masih tidak dapat menerima semua ini dan Hideyoshi lebih tidak percaya dengan kenyataan ini.
Ketika, Lim memasuki lapangan basket semua anggota terdiam. Tidak ada satupun yang berlatih, lalu untuk membuat suasana yang haru ini menjadi membahagiakan.
Ia mencoba memasukkan bola ke dalam ring basket, dan berkata " Kalau yang bisa menang melawan aku, aku akan belikan makanan untuk kalian. "
Namun, tidak ada satupun yang menjawab. Kemampuan Lim untuk membuat orang senang sangat 0(nol), Lim menelan ludah perlahan.
" Kalian, bukankah ingin memenangkan kejuaraan musim dingin kali ini? Kita harus menang bukan, buat Yuki-senpai merasa bahagia di alam sana. "
" Ia juga ingin melihat kita memenangkan piala sebagai tim basket terbaik se-Tokyo bukan? "
" Kenapa kalian menjadi sangat lesu seperti ini? "
" Apa kalian mau melihat Yuki-senpai sedih kembali karena harapannya selama ini tidak bisa tercapai? "
" Dia sudah meninggal dengan begitu menyedihkan, sekarang di alam sana. Apakah dia harus sedih juga? " Papar Lim yang membuat para anggota mulai merintikan air matanya perlahan.
Okumura serta Hideyoshi berdiri dan berkata bersamaan. " MARI KITA LATIHAN DENGAN SEMANGAT! "
Sebuah senyuman melengkung dibibir Lim. Seharusnya memang seperti ini, tidak ada yang bisa menentang takdir.
Berbeda dengan Anna yang masih berlarut dalam kesedihan, apalagi sebuah takdir kembali mengusik Anna. Yaitu Sawamura yang ternyata satu sekolah dengan Anna.
Jadi, selama ini yang selalu menenangkan Anna dan yang waktu itu menolong Anna adalah Sawamura.
Dan dia, diam-diam selalu mengikuti Anna karena itu membuat Anna semakin tersiksa.
Saat, Anna bertanya apakah Lim mengetahui tentang ini atau tidak.
Sawamura menjawab bahwa Lim sama sekali tidak mengetahui tentang hubungan Anna dan Sawamura dimasa lalu.
Sedih, duka, gundah, resah menyatu dalam perasaan Anna saat ini.
Pertemuan pertamanya dengan Sawamura adalah ketika Sawamura yang mengikuti acara pemakaman dari Yuki.
Meskipun itu pertemuan pertama Anna setelah sekian lama, tapi selama ini Sawamura sudah bertemu dengan Anna semenjak berada di Jepang.
Berhari-hari Anna tidak memasuki sekolah karena kepergian Yuki yang tidak bisa dapat Anna lupakan dan Anna yang tidak ingin bertemu dengan Sawamura.
" Anna, keluar dulu. " Teriak Hanna dari luar kamar Anna.
Anna membuka pintu dan terlihat Gi serta Ayahnya yang duduk di sebuah sofa ruang tamu.
" Kenapa Bu? " Tanya Anna mendekati Hanna.
" Mereka ingin berpamit menuju Amerika untuk sekolah Gi. " Jawab Hanna. " Sekolah Gi? " Anna kebinggungan.
" Iya, Ayahnya ingin Gi menjadi seorang dokter dan membawa ke sekolah di Amerika. "
" Wah hebat. " Kagum Anna. Gi mulai beranjak dari sofa dan mendekati Anna. " Selamat tinggal Anna, semoga kita bertemu lagi ya. " Gi mengelus kepala Anna perlahan.
Gi serta Ayahnya berjalan keluar rumah Anna sambil melambaikan tangannya.
Kini, Anna benar-benar seorang diri. Tidak ada Yuki, tidak ada Gi. Hanya ada Ibunya, Hanna.
" Bu, kali ini tidak ada yang bisa menjagaku lagi. " Anna merintikan air matanya.
Hanna perlahan memeluk Anna dan berbisik. " Nanti akan ada seseorang yang dapat menjaga kamu lebih dari Yuki dan Gi menjaga kamu, dan nanti juga akan ada seseorang yang dapat mencintai kamu apa adanya. "
" Seseorang itu tidak memperdulikan tentang masa lalu kamu, dan karena seseorang itu kamu ingin hidup bersama dengan dia selama sisa hidup kamu. "
" Ibu yakin, dan kamu tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Yuki akan menangis disana. " Jelas Hanna, Anna hanya merintikan air matanya dengan memeluk tubuh erat Hanna.
••
Keesokan harinya.
Kini, Anna sudah tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Ia sudah melupakan kesedihannya, hanya saja kepergian dari Yuki belum dapat Anna lupakan.
Dan selamanya tidak akan dapat Anna lupakan.
Sedangkan Lim, ia sudah kembali ceria seperti semula. Kepergian Yuki sudah dapat Lim terima dengan lapang dada.
Di luar gedung sekolah, langkah kaki Anna terhenti saat melihat Lim yang berada di depan gedung sekolah seperti sedang menunggu seseorang.
Anna mulai mengingat kenangan masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Lim, ia juga terluka karena Anna.
Perut Lim juga terluka karena Anna, bagaimana nantinya Lim akan meninggal karena Anna.
Itu tidak dapat Anna terima sampai kapanpun.
Ketika, Lim mencoba mendekati Anna. Anna langsung berlari menjauhi Lim, karena matanya sudah berkaca-kaca.
Pikiran negatifnya menghantui Anna lagi. Ia benar-benar takut, orang-orang yang berada di dekatnya selalu saja terluka karenanya.
Lim hanya terdiam tidak mengejar Anna karena Hinata berada di depannya saat ini.
" Hei, Hinata. " Lim mendekati perlahan Hinata. " Ada apa? "
" Foto saat berada di rumah sakit, berikan kepadaku. " Pinta Lim karena masih mengingat tentang seseorang yang tiba-tiba saja memfoto kearahnya.
" Apa maksud kamu? " Hinata tidak mengerti.
" Sudah berikan saja. "
Hinata sama sekali tidak memberikan, lalu sebuah pesan memasuki handphone Lim.
Pesan sebuah foto antara Lim dengan Hinata, dan karena foto itu seluruh siswa-siswi mulai memperhatikan kearah Lim serta Hinata.
Lim mendesah kesal, dan tertawa terbahak-bahak.