
" Hei, Anna! Kamu mendengarnya bukan? " kata Hinata.
Mata Lim melebar terkejut, Lim membalikkan badannya melihat Anna dengan mata sayu nya.
" Katanya kamu sangat penting untuk dia, apa kamu tidak ingin membuka hatinya untuk Lim? " Tanya Hinata.
Anna memalsukan senyuman. " Maaf, aku tidak mendengar apapun. "
" Kamu yakin? Dari tadi kamu berada di belakang dan mata kamu seakan-akan mendengar semuanya. "
" Tidak, aku tidak ingin menganggu kalian. Maaf aku pergi dulu. " ucap Anna seraya berjalan pergi.
Tapi Lim menahan lengan Anna agar tidak pergi. " Tunggu. "
Anna melepaskan tangan Lim dengan sangat keras " Lepaskan aku! "
Lim merapatkan bibirnya tidak bisa berbicara, lagi dan lagi Anna membentaknya.
" Anna! " panggil Hinata membuat Anna memberhentikan langkah kakinya.
" Tunggu sebentar " lanjut Hinata.
Anna hanya menjawab dengan membalikkan tubuhnya.
Hinata tiba-tiba mendekati Lim, dan mencium pipi Lim dengan sangat lama.
" Apa maksud kalian memperlihatkan hal seperti ini kepadaku? " sinis Anna.
Hinata melepaskan ciumannya " Jadi, dengan ini kamu tidak terpengaruh? "
" Aku tidak mengerti. "
Lim menatap tajam Hinata " APA MAKSUD KAMU TADI! " bentak Lim.
Anna yang mendengar langsung memundurkan langkah kakinya, untuk pertama kalinya ia melihat Lim membentak seseorang.
Wajah Hinata memucat karena ketakutan " Ah maaf. " katanya dengan nada rendah.
" Kamu benar-benar rendahan! " Tegas Lim seraya berjalan meninggalkan Anna dan Hinata.
" Aku pergi dulu " ucap Anna yang mengikuti Lim dari belakang.
Lim terus berjalan tanpa memperhatikan kearah belakang, perasaan emosinya masih berada dalam hatinya.
Ia sangat kesal, kenapa ada wanita yang masih saja menganggap dia sebagai mainannya atau hanya ingin membuat seseorang sakit hati.
" Tch " Desisnya memberhentikan langkah kaki.
Lim membalikkan badannya melihat Anna yang tengah berdiri di depannya dengan wajah ketakutan.
" Hei, kamu mengikutiku? " tanya Lim dengan nada rendah serta tatapan yang berbeda.
" Tidak, aku ingin menjemput Ibuku pulang. "
" Bukankah kamu masih sakit? "
" Aku tidak apa-apa selama untuk Ibuku. "
" Kalau begitu, hati-hati. " kata Lim membiarkan Anna berjalan melewatinya.
Dan tepat di telinga Anna saat Anna berjalan melewatinya, Lim berkata " Maafkan aku, aku tidak berniat untuk berbuat seperti itu. "
Lalu Lim berjalan kembali tanpa memberitahu penjelasan lebih tentang perkataan itu.
Anna hanya terus kebinggungan dengan perkataan Lim, perkataan bahwa Anna sangat penting bagi hidupnya dan saat ini Lim meminta maaf kepadanya.
" Aku tidak perduli " gumam Anna yang tidak ingin memikirkan hal tersebut dan hanya berjalan untuk menjemput Ibunya di Halte.
Lim berjalan pulang dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku.
Pikiran masa lalunya kembali menghantuinya, tentang bagaimana Akira menjadi musuhnya karena seorang perempuan.
" Benar-benar menyebalkan " keluh Lim.
Dan saat Lim terus berjalan tanpa memikirkan sekitar.
Tidak sengaja bahunya menabrak seorang lelaki yang sedang berlari membuat Lim dan lelaki tersebut terjatuh.
" Maaf. " kata Lim menyesal.
Lelaki tersebut berdiri dengan tinggi yang sama dengan Lim serta wajah yang masih muda. " Maaf, kamu melihat seorang perempuan dengan tinggi sekitar 158 dan rambut diikat berwarna sedikit kecoklatan " tanya lelaki itu tiba-tiba dan terburu-buru.
Lim memikirkan kembali siapa yang ia lihat dengan rambut diikat dan berwarna kecoklatan.
" Anna. " Pikir Lim yang mengingat kembali.
" Apa kamu ada urusan dengan dia? " tanya Lim khawatir kepada pria ini akan melakukan sesuatu kepada Anna.
" Tidak, saya hanya ingin bertemu dengannya setelah sekian lama. " jawab pria itu.
" Kalau begitu, saya pergi. Saya masih ada latihan basket, terimakasih. " lanjut pria tersebut sambil berlari.
" Basket? " ucap Lim.
" Aku ingin latihan basket. " harap Lim.
Keesokan harinya.
June, 30
Aula SMA Seido.
" Murid-murid yang bapak banggakan, tepuk tangan kepada club basket karena sudah menjuarai lomba dan berhasil memasuki tingkat nasional. " ucap Kepala Sekolah SMA Seido kepada seluruh siswa-siswi yang berbaris di Aula.
Seluruh siswa-siswi bertepuk tangan bahagia.
Kenken memberi sebuah kedipan satu mata kepada Lim.
" Silahkan untuk kapten berbicara. " pinta Kepala Sekolah kepada Kenken.
Kenken mengambil mic dan berdiri di depan seluruh Tim Baseball.
" Kami mengucapkan terimakasih karena sudah mendoakan kami agar menang dan dapat menjuarai kejuaraan ini. Kami juga berterimakasih kepada Lim dari club Basket karena sudah membantu Tim ini menjadi juara. " kata Kenken dengan menundukkan kepalanya sopan serta ungkapan rasa terimakasih.
Seluruh siswa-siswi menoleh kearah Lim. Lim hanya memberikan senyuman hangat kepada mereka.
" Selanjutnya, besok bulan July. Sekolah akan mengadakan Ulangan Akhir Semester, persiapkan diri kalian. Saya harap tidak ada yang mengikuti pelajaran tambahan saat sedang Musim Panas. Sekian, bubar. " Jelas Kepala Sekolah membuat seluruh siswa-siswi merasa kecewa karena sekolah tidak memberi tahu 1 Minggu sebelumnya.
" Kap, bagaimana? " tanya Okumura dengan rangkulan.
Ekspresi wajah Lim membeku, ia tidak bisa belajar lebih keras lagi. Sudah cukup baginya, tapi kali ini ia harus belajar lagi.
" Sebentar lagi Inter-High kap! Kamu harus bisa tanpa ada pelajaran tambahan lagi! " seru Okumura.
" Akan aku usahakan. " kata Lim dengan nada tidak bersemangat.
Dret-dret-dret.
Sebuah pesan masuk ke dalam handphone Lim dan Okumura.
Pesan dari grup sekolah yang memberikan foto ciuman antara Lim dan Hinata. Pesan tersebut bertulis " WAH HEBOH, BERITA TERBARU. "
Lim menjatuhkan handphonenya, perasaan kesalnya kemarin saja belum terselesaikan. Dan sekarang, membuat heboh satu sekolah.
" Kap, kamu ingin kemana? " teriak Okumura seraya mengambil handphone Lim yang terjatuh.
Lim berjalan menemui kelas Hinata. Seluruh siswa-siswi berbisik tentang Lim.
" Mereka ingin bertemu. "
" Wah benar, mereka sepertinya berpacaran."
" Hinata! " panggil Lim memasuki kelas Hinata.
Hinata yang sedang duduk di atas meja dengan tertawa bersama dengan teman-teman lainnya.
Lim mendekati Hinata dengan tatapan serius " Hei, kenapa kamu menyebarkan hal seperti ini? "
Hinata melihat foto tersebut. " Aku? Tidak! Bagaimana mungkin. "
" Jangan mengelak. "
" Aku serius, aku tidak mengeluarkan handphone sama sekali. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan kepada temanku. "
Lim melihat kearah ketiga temannya untuk meyakinkan berita tersebut.
" Iya, tadi dia hanya bermain-main dengan kami. Hinata tidak mengeluarkan handphone nya sedikit pun. "
" Kamu dengar itu? Sudah puas? " tanya Hinata.
Lim hanya pergi menuju kelasnya kembali dengan kepala tertunduk.
Kini Sekolah tahu hal yang tidak benar antara mereka, dan yang Lim tidak inginkan adalah Anna mengetahui berita tersebut.
" Kamu. " Panggil Anna.
Lim mengangkat wajahnya ketika mendengar suara Anna.
" Kamu hampir menabrakku, kamu harus hati-hati! " tegas Anna.
Lim tersenyum simpul " Maaf. "
Anna berjalan kembali melewati Lim, Lim menahan lengan Anna membuat Anna memberhentikan langkah kakinya.
" Ini di Sekolah, aku tidak ingin siapapun membuat berita tidak benar antara kita. " kata Anna membuat Lim melepaskan tangannya.
" Hari ini kamu ingin pulang bersama? " tanya Lim.
" Maaf, hari ini aku ada belajar di perpustakaan. " ucap Anna seraya pergi meninggalkan Lim.
" Dia pergi. " gumam Lim.
Lim kembali menuju kelasnya dan seluruh teman kelasnya memperhatikan Lim saat Lim memasuki kelas.
" Hei Lim, kamu beneran pacaran dengan dia? " tanya Naya.
Lim hanya diam, ia tidak bisa menjawab. Meskipun Lim menjawab semua di sekolah ini tidak ada yang percaya.
" Tidak, Lim itu tidak berpacaran dengan dia. Lagipula Lim sudah mempunyai tunangan yang berada di Amerika. " jawab Okumura ikut nimbrung.
" Hei! " tegas Lim dengan mata melotot kearah Okumura.
" Hah di Amerika? " tanya Ketua Kelas.
Okumura mengangguk-anggukan kepalanya.
" Bukannya nanti kamu liburan musim panas akan ke Amerika untuk bertemu dengannya? " tanya Okumura kepada Lim.
Lim hanya mengikuti alur Okumura, ia hanya tidak ingin seluruh sekolah mengetahui berita yang tidak benar tentangnya.
" Iya. " jawab Lim dengan nada rendah.
" WAH BENAR-BENAR LUAR BIASA. " ucap seluruh siswa-siswi kelas 1-2
Mereka langsung mengetik di komentar postingan antara Lim dan Hinata.
Mereka juga memakai-maki Hinata yang sudah terlalu genit kepada Lim.
Lim membaca komentar dari teman kelasnya.
Banyak dari mereka berkomentar sangat pedas, seperti " Mati aja Hinata. "
" Dasar genit "
" Tidak tahu malu "
" Dia sudah punya tunangan. "
Lim mengerutkan dahi tidak menyukai komentar seperti ini, postingan ini saja belum tentu Hinata yang mengirim.
Seluruh siswa-siswi kelas terdiam.
" KALIAN TIDAK BOLEH MENGOMENTARI HAL YANG MEMBUAT SESEORANG SAKIT HATI! KALIAN BISA JELASKAN, TIDAK DENGAN CARA SEPERTI INI!! " bentak Lim.
Seluruh siswa-siswi kelasnya merasa malu dan ketakutan saat melihat Lim yang marah kepada mereka.
" Hapus komentar kalian! Biar aku yang menulis! " perintah Lim yang membuat siswa-siswa kelasnya menghapus seluruh komentarnya.
Lim menulis dikomentar post foto tersebut " Sebelumnya mohon maaf, ini foto yang diambil kemarin dan ini adalah sebuah kecelakaan. Saya dan Hinata tidak mempunyai hubungan apapun, satu kali lagi yang saya ingin kasih tahu bahwa saya memiliki tunangan yang berada di Amerika. Jadi tolong, jaga sikap kalian. "
Seluruh murid sekolah membaca dan menulis permintaan maaf dalam komentar tersebut karena sudah membicarakan tentang Lim serta Hinata.
Bel berbunyi masuk sekolah.
Guru Sejarah memasuki kelas 1-2 membuat kelas menjadi senyap karena fokus untuk belajar.
••
4:00 p.m
Lim berjalan keluar kelasnya ingin menuju Perpustakaan karena tadi kata Anna, Anna akan belajar di Perpustakaan dan tidak akan pulang.
Tapi langkah kakinya terhenti saat melihat Yuki yang sedang menyadarkan tubuhnya didinding seperti sedang menunggu Lim.
" Lim. " Panggil Yuki.
" Yuki-senpai. "
" Mari berbicara, ikuti saya. " kata Yuki yang diikuti oleh Lim dari belakang.
Sampai di depan lapangan basket Yuki memberhentikan langkah kakinya.
" Saya ingin jelaskan semuanya... " Ucap Yuki.
Yuki menjelaskan seluruh hal sama seperti yang Anna jelaskan kemarin.
" Maaf, memang aku yang salah. " katanya dengan pandangan tertunduk.
" Kamu tidak salah, kamu hanya tidak mengira takdir kamu akan menjadi sepupu untuk Anna. Kamu berhak menyayanginya senpai, tapi kamu tidak berhak menjadikan dia wanitamu. Karena dia yang akan menjadi wanitaku. " ujar Lim dengan percaya diri.
Yuki tersenyum kecil, harapannya untuk bersama dengan Anna sudah tidak ada sejak Ibunya kembali menikah dengan keluarga Anna.
" Kalau begitu aku pergi, aku masih harus mengikuti seleksi. Jangan lupa untuk latihan selesai ulangan! " Perintah Yuki seraya pergi berjalan meninggalkan Lim.
Lim terdiam, ia lupa ingin melakukan apa.
Setelah beberapa menit, akhirnya Lim ingat bahwa ia akan menemui Anna dan menemani Anna.
Lim berlari menuju Perpustakaan, perpustakaan berada dilantai 2 dan Lim harus berlari melewati 2 tangga untuk sampai disana.
Lim mencari-cari wajah Anna dan terlihat dipojok kanan dengan sebuah kamus bahasa Inggris.
" Kamu ada disini " gumam Lim dengan senyuman.
Seluruh siswa-siswi sudah pulang dan hari ini tidak ada kegiatan club apapun.
Maka dari itu Perpustakaan dan seisi sekolah sepi, tidak ada siapapun hanya ada Anna, Lim dan Security.
" Anna " sapa Lim menghampiri Anna.
" Kenapa kamu ada disini? " tanya Anna tidak mengerti.
" Aku ingin belajar bersamamu. " jawabnya duduk berdampingan dengan Anna.
" Aku tidak ingin diganggu, lebih baik kamu belajar sendiri. " Anna cuek tidak memperdulikan Lim.
" Apa kamu tidak ingin diajarkan bahasa Inggris olehku? Aku pintar bahkan nilaiku sempurna. "
" Karena kamu blasteran wajar kamu pintar, kalau kamu tidak pintar bahasa Inggris kamu bodoh berarti. " sindir Anna yang membuat Lim tertawa karena bisa meledek Lim.
" Ini Perpustakaan harap tenang. "
" Tapi semua orang sudah tidak ada. "
" Tetap saja yang namanya perpustakaan harus tenang. "
" Oke. "
Lim mengambil buku kelas 10 pelajaran Matematika.
Ia terus belajar dengan tenang dan Anna juga belajar tanpa ada suara.
Tapi berjam-jam Lim belajar, Lim merasa jenuh dan mengantuk.
Lim tanpa sadar tertidur di atas buku matematikanya.
Anna menengok-kan kepalanya sesaat kearah Lim " Hei, kamu benar-benar tidak bisa bertahan. "
30 menit Lim tidak terbangun.
Langit mulai menggelap, Anna masih tetap belajar sampai langit benar-benar gelap.
" Lebih baik kamu pulang, sudah hampir malam. " kata Anna.
Lim sama sekali tidak membuka matanya.
Anna memperhatikan wajah Lim secara dekat, wajahnya terlihat seperti anak kecil saat tertidur.
Namun, tiba-tiba saja pipi Anna memerah karena merasa Lim sangat tampan jika berada dari dekat.
" Kamu bodoh Anna, lebih baik kamu bela.."
Belum Anna menyelesaikan ucapannya, Lim membuka matanya membuat Anna terkejut dan hampir terjatuh dari kursinya.
Tapi Lim menahan kursi Anna agar tidak terjatuh, karena itu bisa membahayakan Anna.
" Hei, hati-hati! " seru Lim khawatir.
Anna menatap wajah Lim, ia merasa sangat panas bila berada dekat dengan Lim.
Anna membetulkan kembali posisi duduknya dengan berkata " Terimakasih "
" Apa kamu tidak bosan? " tanya Lim.
" Tidak, lebih kamu pulang. Langit sudah mulai menggelap. "
" Tidak, aku akan menunggumu sampai kamu pulang. "
" Walaupun aku pulang larut malam? "
Lim menganggukkan kepalanya.
" Apa kamu tidak takut ada seseorang yang akan mem-fotomu kembali? " tanya Anna tiba-tiba membuat mata Lim melebar.
" Jadi, kamu tahu ya " ucap Lim.
Ia kira Anna yang tidak memperdulikan apapun tidak akan mengetahui foto tersebut, tapi ternyata Anna tahu.
" Aku tahu karena seseorang mengirim-ku foto tersebut. "
Lim mengerutkan dahinya " Siapa yang mengirim foto itu? "
" Entahlah, saat aku telepon nomornya sudah tidak aktif lagi. "
" Lihat handphonemu. "
" Tidak. "
" Lihat! "
" Tidak! "
" Jangan keras kepala! "
" Kamu yang keras kepala, aku tidak ingin! "
Mata Anna berkaca-kaca karena sikap Lim selalu saja keras kepala kepadanya.
Lim mengurungkan niatnya, ia tidak ingin melihat Anna menangis karenanya.
" Kamu tidak penasaran? "
" Untuk apa, saat itu juga aku berada disana. "
" Anna.. " kata Lim dengan nada rendah.
" Hm. "
" Kamu tidak perduli dengan itu? "
" Hmm "
" Kenapa? "
" Itu tidak ada urusannya denganku. "
" Tapi kalau kamu menjadi pacarku, itu penting bukan? "
" Aku tidak akan menjadi pacarmu. "
" Kenapa, kamu tidak suka? "
" Aku tidak menyukaimu. "
Jleb, perkataan Anna membuat Lim merasa sangat terluka.
" Lebih baik kamu pulang " lanjut Anna.
" Aku masih ingin disini. " Lim menahan tidak ingin pergi.
" Aku tidak ingin ada orang yang memfoto antara kamu dan aku. "
" Tidak ada. "
" Pasti ada, karena kemarin saja tidak ada orang yang tahu bahwa kamu sedang difoto oleh seseorang. "
" Lalu kenapa? Aku suka jika seluruh sekolah tahu aku dekat denganmu. "
Anna berpura-pura tertawa, ia tidak tahu bahwa Lim menyukai hal yang menakutkan bagi Anna.
" Aku menyukainya Anna. " Lanjut Lim.
" Kamu menyukainya ya? " tanya Anna.
" Lalu, kalau seseorang ada yang tahu bahwa kita tidak dekat dan mereka akan mengomentari hal yang buruk tentangku. Kamu akan melakukan apa? Tetap berkata bahwa kamu dan aku dekat? Bukankah itu egosi? " lanjut Anna seraya beranjak dari kursi.
Ia menutup kamus bahasa Inggris, dan menaruhnya kembali ke dalam rak buku.
" Aku pergi dulu. " ucap Anna berjalan keluar Perpustakaan.
Lim hanya terdiam tidak bisa menjawab.
" Tch. " desis Lim.
" Aku hanya akan berkata bahwa aku menyukai kamu semua orang akan mengerti! " teriak Lim membuat langkah kaki Anna terhenti.
" Kamu bilang semua orang akan mengerti? Tidak semua orang! Itu hanya imajinasimu saja, dan yang terluka nanti adalah aku karena keegoisan kamu. " jelas Anna dengan melangkahkan kakinya kembali.
Lim mengusap dahinya merasa sangat frustasi karena sikap Anna yang sekian lama tidak ada perubahan sedikit pun.
" Lalu aku harus apa untuk kamu menyukaiku? "
" Kamu bahkan berkata kamu tidak menyukaiku. "
" Itu semakin membuatku menderita Anna. "
" Idiot. "