Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Lama tak berjumpa



Lim sampai di rumah lamanya, rumah yang ia rindukan selama ini.


Rumah Lim terlihat sangat berdebu, membuatnya langsung membersihkan segala hal di dalam rumah itu.


Ia bisa saja sebenarnya menyewa rumah selama 3 bulan, tapi Lim tidak ingin. Ia hanya ingin kembali ke rumah lamanya dengan kenangan semasa SMA-nya.


Setelah membersihkan, Lim keluar rumahnya menghirup nafas karena merasa sesak dengan debu-debu yang berterbangan.


Lalu tanpa di duga, Hanna melewati rumah Lim.


Lim yang terkejut langsung menyapanya " Ibu! "


Hanna segera menolehkan kepalanya kearah Lim dan terkejut langsung memberhentikan langkah kakinya " Lim! Sudah sangat lama ya " Ucap Hanna.


Lim langsung mendekati Hanna dengan senyuman yang sangat lebar. " Iya, gimana kabar Ibu? " tanya Lim.


" Baik, kamu bagaimana? "


" Baik juga. "


" Jadi kamu sudah pindah lagi kesini? "


" Tidak, aku hanya 3 bulan saja. "


Hanna mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


" Anna, ada? " tanya Lim penasaran.


" Ah Anna dia tidak tinggal di sini lagi. Dia tinggal di apato dekat University Tokyo. Biasanya Anna datang kesini hanya setiap Sabtu-Minggu saja. "


Lim mengigit bawah bibirnya, ia ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan Anna.


" Tapi ibu tidak apa-apa dengan itu? "


" Tidak apa-apa, dia sibuk bekerja senin-jumat. Tapi dia masih meluangkan waktu saat Sabtu dan Minggu, itu juga lebih dari cukup. "


" Ah, Ibu sedang masak nasi. Kamu ingin makan? Ada Eiji juga, ayah Anna. Kalau kamu ingin ke rumah saja ya " lanjut Hanna dengan tergesa-gesa seraya berjalan kembali kerumahnya


Lim hanya menjawab dengan senyuman.


••


Keesokan harinya..


Anna telah berganti pakaian menjadi dress panjang berwarna hitam, dengan rambut terurai dan poni seperti biasanya. Dan dandan seadanya.


Anna tidak ingin terlalu berdandan berlebihan karena Anna tidak menyukainya. Anna mengirim pesan kepada Gi apa dia bisa ikut atau tidak dan Gi sama sekali tidak bisa ikut.


Jadi Anna hanya pergi menuju pernikahan Sawamura-Kaori dengan Kirei saja.


Anna dan Kirei menuju gedung pernikahan, pernikahan akan dimulai pukul 10:00 a.m sedangkan sekarang baru pukul 9:20 a.m


Sesampai disana, banyak orang yang sudah mendatangi pernikahan Sawamura-Kaori. Dan banyak juga teman-teman SMA yang membuat Anna harus saling menyapa satu sama lain.


Anna menuju ruang make up pengantin wanita, ia melihat Kaori yang sangat cantik.


Dulu Kaori lah yang membuat Anna menjadi manajer dalam basket, Kaori juga yang selalu mendukung Anna.


Maka dari itu, ia juga sangat berterimakasih dengan Kaori.


" Wah kakak kelasku sangat cantik " kagum Anna kepada Kaori yang sedang di tata rambutnya.


Kaori melihat Anna dari cermin dan tersenyum lebar " Anna! " ucapnya tapi tidak bisa mendatangi Anna karena sedang di tata.


" Hei ka! Kenapa kamu tidak bilang kepadaku kalau kamu dari dulu suka sama Sawamura? "


Kaori menjawab dengan nada rendah " Karena dahulu aku tidak percaya diri dan merasa bahwa kamu yang akan mendapatkan Sawamura "


" Ish " kesal Anna kepada Kaori.


" Tapi sekarang lihat kamu sama Sawamura kan? " lanjut Anna.


Kaori tersenyum, Anna juga merasa bahagia bahwa kini teman SMA-nya sudah akan menikah dan menjalin hubungan sebagai sepasang suami-istri.


" Semoga kamu berbahagia ka, aku pergi dulu ya " ucap Anna seraya keluar dari ruang dandan.


Ketika keluar ia tidak senggaja melihat wajah yang sangat familiar di mata Anna, seorang lelaki di tengah kerumunan orang-orang dengan pakaian hitam.




" Anna " sapa Kirei.


" Iya Kirei " jawab Anna seraya memalingkan pandangannya dari Lim.


Lim tahu disana ada Anna, Lim ingin menyapanya ingin menghampirinya.


Tapi bagaimana dengan Anna? Apa dia ingin?


Lim sangat merindukan Anna, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang Lim inginkan sekarang adalah memeluk Anna dan berkata " Aku rindu. " Tapi sepertinya itu mustahil.


" Kap! " Panggil Okumura kepada Lim.


Lim menolehkan pandangannya. " Okumura! " sapa Lim.


" Kenapa kamu tidak mengabariku kap? "


" Memang kamu siapa sampai aku harus mengabari kamu. "


Okumura hanya tertawa, saat ini mereka seperti kembali ke masa-masa SMA.


Masa sekolah yang paling indah.


Pernikahan dimulai, dimulai dengan pengantin wanita yang berjalan menghampiri pengantin pria.


Setelah itu, perjanjian dan melakukan kissing.


Dan pelemparan bunga, seluruh tamu undangan sudah bersiap-siap untuk mengambil bunga.


Hanya Anna saja yang duduk di bangku tanpa memperdulikan itu, sedangkan Lim, Okumura dan Kirei sudah bersiap-siap untuk mengambil.


Lemparan pertama di dapatkan oleh Kirei, Kirei merasa bangga dan senang. Lalu lemparan kedua di dapatkan oleh Okumura.


Kirei dan Okumura saling bertatap satu sama lain dengan sinis, kenyataan yang tidak di inginkan.


" Aku dengan lelaki jelek seperti kamu? "


" Aku dengan wanita jelek seperti kamu? "


Kirei dan Okumura bersamaan memalingkan pandangannya.


" Hei pengantin sekali lagi! " teriak Kirei.


Lalu Kaori segera melemparkan lagi, tapi hal tidak terduga lemparan itu tepat di tangan Anna membuat seluruh tamu undangan dan pengantin merasa kebinggungan.


" Anna, aku masa nikah denganmu? " kesal Kirei.


" SEKALI LAGI! " teriak Kirei.


Ini adalah lemparan terakhir, Lim yang merasa kesal karena Anna mendapatkan ingin juga mendapatkan agar menjadi pasangan dari Anna.


Dan ternyata takdir benar adanya, bunga lemparan terakhir tepat di dapatkan oleh Lim.


Seluruh tamu undangan langsung memperhatikan kearah Lim dan Anna, mereka tahu inilah pasangan. Tapi mereka juga kesal karena tidak mendapatkan itu.


" Ish! " kesal Kirei karena menunggu pasangan prianya tapi menjadi pasangan antara Lim dan Anna.


" Yes! Yesss! " sorak Lim gembira.


Lalu Kirei mendatangi Anna dan berbisik " Sepertinya inilah yang dinamakan jodoh "


Anna hanya menatap Kirei dengan sinis " Itu hanya kebetulan. "


Lim yang bergembira langsung mendatangi Anna sambil membawa bunga tersebut " Hai An! " sapanya.


Tapi Anna tidak menjawab dan hanya acuh tak acuh.


" Lama tidak berjumpa " lanjutnya.


" Jadi nanti kamu akan menjadi istriku, bagaimana? "


" Bukankah ini menjadi seperti pertama kali aku melamarmu? "